Cerita 1
Pada zaman dahulu, ada dua orang pemeluk agama yang sangat saleh dan bersahabat erat. Mereka memutuskan untuk bersama-sama melakukan ziarah ke sebuah gunung suci yang jauh.
Keduanya memanggul perbekalan dan berangkat menempuh perjalanan panjang, bersumpah tidak akan pulang sebelum tiba dan bersembahyang di gunung suci tersebut.
Setelah berjalan lebih dari dua minggu, mereka bertemu seorang orang suci berambut putih yang telah lanjut usia.
Melihat kesalehan dan ketulusan kedua peziarah yang menempuh perjalanan sejauh itu, orang suci tersebut sangat terharu dan berkata: “Dari sini ke gunung suci masih tersisa sepuluh hari perjalanan. Namun sayangnya, di persimpangan ini aku harus berpisah dengan kalian. Sebelum berpisah, aku ingin memberi kalian sebuah hadiah.”
Hadiah apakah itu?
“Salah satu dari kalian boleh mengajukan permohonan terlebih dahulu, dan permohonan itu pasti akan segera terwujud. Sedangkan orang kedua akan memperoleh dua kali lipat dari permohonan tersebut.”
Mendengar itu, salah satu peziarah berpikir dalam hati: “Ini luar biasa. Aku sudah tahu apa yang ingin kupinta, tapi aku tidak mau mengatakannya dulu. Kalau aku yang lebih dulu meminta, aku justru rugi karena temanku akan mendapat dua kali lipat. Tidak bisa!”
Sementara itu, peziarah yang lain juga berpikir: “Bagaimana mungkin aku meminta lebih dulu dan membiarkan temanku mendapat hadiah dua kali lipat?”
Akhirnya, keduanya saling bersikap sungkan:
“Kamu dulu saja!”
“Kamu lebih tua, kamu yang lebih dulu!”
“Tidak, seharusnya kamu!”
Mereka saling mendorong dengan basa-basi. Namun lama-kelamaan, kesabaran pun habis dan suasana berubah tegang:
“Apa sih! Kamu saja yang minta dulu!”
“Kenapa harus aku? Aku tidak mau!”
Akhirnya, salah satu dari mereka marah besar dan berteriak: “Hai! Kamu benar-benar tidak tahu diri! Kalau kamu tidak segera meminta, aku akan mematahkan kakimu dan mencekikmu sampai mati!”
Yang satu lagi terkejut—teman baiknya tiba-tiba berubah wajah dan mengancamnya.
“Baiklah, kalau kamu bisa setega ini, aku juga tidak perlu bersikap baik. Kalau aku tidak bisa mendapatkan sesuatu, kamu juga jangan berharap mendapatkannya!” pikirnya.
Dengan hati yang mengeras, dia berkata: “Baik, aku akan meminta lebih dulu! Aku berharap—salah satu mataku menjadi buta!”
Seketika, salah satu matanya benar-benar menjadi buta. Dan sahabat yang menemaninya pun langsung kehilangan kedua matanya!
Padahal, hadiah itu seharusnya menjadi anugerah indah yang dapat dinikmati bersama oleh dua sahabat. Namun karena keserakahan dan kecemburuan, berkah berubah menjadi kutukan, sahabat berubah menjadi musuh, dan sesuatu yang seharusnya berakhir menang-menang justru berubah menjadi kalah-kalah bagi keduanya.
cerita 2
Di Paraguay, ada sepasang kekasih yang akan segera menikah. Mereka berteriak kegirangan dan saling berpelukan karena memenangkan undian berhadiah besar—senilai 75.000 dolar AS.
Namun, keesokan harinya setelah kemenangan itu, pasangan yang semula hendak menikah tersebut justru bertengkar hebat soal siapa yang berhak memiliki uang hadiah itu. Mereka saling memaki, membuka aib, bahkan sampai membawa perkara ke pengadilan.
Mengapa?
Karena saat undian itu diumumkan, tiket berada di tangan sang tunangan perempuan, Coria. Namun sang tunangan laki-laki, Martinez, dengan marah berkata kepada hakim:
“Tiket itu saya yang membelinya! Setelah itu dia memasukkan tiket ke dalam tasnya, dan saya tidak mempermasalahkannya karena dia adalah tunangan saya. Tapi dia dengan tidak tahu malu malah mengklaim bahwa tiket itu miliknya dan dia yang membelinya!”
Di ruang sidang, pasangan tunangan ini saling berteriak, masing-masing mempertahankan pendapatnya, tidak mau mengalah sedikit pun. Hal ini membuat hakim sangat pusing.
Akhirnya, hakim memutuskan bahwa sebelum jelas siapa yang benar dan siapa yang salah, pihak penyelenggara undian dilarang mencairkan hadiah tersebut.
Pasangan yang tadinya akan segera menikah itu pun berubah dari “pasangan serasi” menjadi “pasangan penuh kebencian”, dan akhirnya memutuskan membatalkan pertunangan.
Ada sebuah ungkapan: “Orang menikah sering kali bukan karena uang, tetapi bercerai sering kali karena uang.”
Memang benar, kepentingan pribadi, keserakahan, dan kecemburuan kerap membuat manusia terjatuh—jatuh ke dalam jerat kejahatan batinnya sendiri.
Sesungguhnya, bukan karena kita memiliki terlalu sedikit, melainkan karena keinginan kita terlalu banyak. Keinginan yang berlebihan membuat kita tidak pernah puas, tidak pernah merasa cukup, bahkan membenci apa yang dimiliki orang lain, atau iri karena orang lain punya lebih banyak dari kita. Akibatnya, hati dipenuhi kesedihan, kemarahan, dan ketidakseimbangan.
Keinginan yang berlebihan—itulah kemiskinan psikologis.
Renungan
Setelah membaca kisah pertama, saya merenungkannya lama. Orang yang lebih dulu mengajukan permohonan memang memperoleh lebih sedikit dibandingkan temannya, tetapi dia memiliki hak untuk menentukan permintaan. Sebaliknya, orang yang menunggu memperoleh lebih banyak, tetapi kendali sepenuhnya ada di tangan orang lain.
Jika orang pertama itu terlalu jujur dan hanya berkata: “Aku ingin tidur nyenyak sekarang” atau “Aku ingin makan enak,” bukankah orang kedua bisa marah besar? (Walaupun jarang terjadi, manusia selalu memiliki kemungkinan semacam itu.)
Keinginan tidak selalu terbatas pada harta dan uang; ada pula keinginan berupa keyakinan atau kemampuan.
Dalam hidup, harta tak terduga atau hadiah dari langit belum tentu membawa kebaikan. Bisa jadi justru menjadi pemicu badai yang menyeret seseorang dari puncak kebahagiaan ke jurang penderitaan.
Dalam dunia nyata, sudah banyak orang yang setelah memenangkan lotre atau memperoleh harta mendadak justru mengalami pemerasan, pembunuhan, bahkan kehancuran keluarga. Pada saat itu, harta tak terduga telah berubah menjadi sabit maut yang menyeret manusia menuju kehancuran.
Sebaliknya, pengalaman pahit juga belum tentu buruk. Kadang justru menjadi daya dorong yang memacu seseorang untuk bangkit dan berhasil.
Keberhasilan atau kegagalan seseorang bukan ditentukan oleh peristiwa yang dialaminya, melainkan oleh sikap batinnya. Jika mampu mengelola hati dan mengendalikan keserakahan, kemarahan, serta kebodohan batin, maka sekalipun menghadapi kesulitan, ia tetap mampu mengatasinya. (jhn/yn)


