EtIndonesia. Penjual cabai barangkali sangat sering menghadapi satu pertanyaan klasik yang sudah terkenal itu: “Cabainya pedas nggak?”
Pertanyaan ini sebenarnya tidak mudah dijawab.
Kalau dijawab “pedas”, bisa jadi pembelinya justru orang yang tidak tahan pedas—langsung pergi. Kalau dijawab “tidak pedas”, bisa jadi pembelinya justru pencinta pedas—dan transaksi pun tetap gagal.
Tentu saja, solusi yang umum dan sering disebut-sebut dalam buku adalah memisahkan cabai menjadi dua tumpukan: satu untuk yang suka pedas, satu lagi untuk yang tidak. Masing-masing pembeli tinggal memilih sesuai kebutuhan.
Suatu hari, karena tidak ada pekerjaan, aku berdiri di samping gerobak roda tiga seorang ibu penjual cabai, memperhatikan bagaimana dia menyelesaikan dilema klasik ini.
Saat tidak ada pembeli, aku dengan rasa sok pintar berkata padanya: “Kenapa cabainya tidak dibagi dua saja? Kalau ada yang mau pedas, bilang ini pedas. Kalau tidak mau pedas, bilang yang itu.”
Tak disangka, si ibu penjual cabai hanya tersenyum dan berkata pelan: “Tidak perlu.”
Tak lama kemudian, datang seorang pembeli.
Benar saja, pertanyaannya tetap sama : “Cabainya pedas nggak?”
Dengan sangat yakin, si ibu menjawab: “Yang warnanya gelap itu pedas, yang warnanya lebih muda tidak pedas.”
Pembeli itu percaya, memilih cabainya, membayar, lalu pergi dengan puas.
Entah kenapa hari itu, kebanyakan pembeli memilih cabai yang tidak pedas. Tak lama kemudian, cabai berwarna muda hampir habis.
Aku kembali berkata: “Sekarang sebaiknya dibagi dua saja. Kalau tidak, nanti susah menjual sisanya.”
Namun si ibu penjual cabai tetap tersenyum sambil menggelengkan kepala: “Tidak perlu.”
Datang lagi seorang pembeli dan bertanya: “Cabainya pedas nggak?”
Ibu penjual cabai melirik cabainya sebentar, lalu menjawab spontan : “Yang panjang pedas, yang pendek tidak pedas.”
Benar saja, pembeli itu langsung memilih cabai berdasarkan kriteria tersebut.
Hasilnya, cabai yang panjang cepat sekali habis.
Melihat sisa cabai yang tinggal adalah cabai pendek berwarna gelap, aku terdiam dan berpikir dalam hati: Kali ini, aku ingin tahu jawaban apa lagi yang akan dia pakai.
Tak disangka, ketika pembeli berikutnya kembali bertanya : “Cabainya pedas nggak?”
Si ibu menjawab dengan penuh percaya diri: “Yang kulitnya keras pedas, yang kulitnya lembek tidak pedas!”
Diam-diam aku kagum. Memang benar—terjemur matahari seharian membuat sebagian cabai kehilangan air dan menjadi lembek.
Setelah semua cabainya terjual dan dia bersiap pergi, ibu penjual cabai itu berkata kepadaku: “Cara yang kamu sebutkan tadi sebenarnya semua penjual cabai sudah tahu. Tapi caraku ini, hanya aku sendiri yang tahu.”
Saat itu aku tiba-tiba tersadar: Kebijaksanaan hidup bisa dituliskan dalam buku, tetapi kita tidak bisa begitu saja menjalani hidup hanya dengan meniru isi buku. Karena hidup itu harus hidup, luwes, dan dinamis.
Jangan mencampur kebijaksanaan dengan kesombongan. Dan jangan pula membiarkan kerendahan hati kehilangan kebijaksanaan.
Renungan & Hikmah Cerita
Buku itu bersifat mati, sedangkan manusia hidup. Kebijaksanaan dalam buku memang merupakan hasil akumulasi pengalaman para bijak, tetapi lingkungan dan zaman terus berubah. Jika kita hanya berpegang kaku pada apa yang tertulis, tanpa menyesuaikan diri, kita akan tenggelam oleh arus perubahan.
Proses belajar manusia seharusnya dibangun di atas empat tahap: belajar – berpikir – mempraktikkan – memahami (悟).
Melalui belajar, kita menyerap pengetahuan. Dengan berpikir, kita mencerna apa yang dipelajari. Dengan mempraktikkan, kita menguji dalam kehidupan nyata. Dan dari pengalaman langsung itulah, kita mencapai tahap pemahaman yang luwes dan hidup.
Jadikan pengalaman orang lain sebagai fondasi kebijaksanaan, lalu kembangkan, inovasikan, dan temukan kebijaksanaan milik diri sendiri. (jhn/yn)


