Memangkas Keinginan

EtIndonesia. Di bagian barat pinggiran Bangkok, terdapat sebuah vihara yang letaknya cukup terpencil sehingga jarang didatangi peziarah. Setelah kepala vihara sebelumnya wafat, seorang biksu bernama Sothi datang ke tempat itu untuk menggantikan posisi sebagai kepala vihara yang baru.

Pada hari-hari awal kedatangannya, dia berkeliling vihara dan mendapati bahwa lereng-lereng bukit di sekelilingnya dipenuhi semak belukar. Semak-semak itu tumbuh liar, tidak beraturan, dengan bentuk yang semrawut dan tak terkendali.

Biksu Sothi mengambil sebuah gunting, lalu dari waktu ke waktu dia memangkas satu semak tertentu. Enam bulan berlalu, dan semak itu telah berubah menjadi bentuk bola yang indah.

Para biksu lain melihat hal tersebut dengan rasa heran dan kebingungan. Mereka bertanya kepada kepala vihara, namun sang biksu hanya tersenyum tanpa menjawab.

Suatu hari, datanglah seorang tamu yang berpakaian rapi, berpenampilan mencolok, dan tampak berwibawa. Setelah berbincang dan dipersilakan duduk, tamu itu berkata bahwa dia hanya kebetulan lewat dan singgah untuk melihat-lihat.

Biksu Sothi dengan ramah menemani tamu itu berkeliling vihara. Di tengah perjalanan, tamu tersebut bertanya:  “Bagaimana caranya agar seseorang dapat menghapus keinginannya?”

Biksu Sothi tersenyum tipis, lalu kembali ke dalam dan mengambil sebuah gunting. 

Dia berkata: “Silakan ikut saya.”

Dia membawa tamu itu ke area semak-semak. Di sana, tamu tersebut melihat semak yang telah dipangkas rapi oleh sang biksu.

Biksu Sothi menyerahkan gunting itu kepada tamunya dan berkata: “Jika Anda sering memangkas semak seperti yang saya lakukan, maka keinginan Anda akan berkurang.”

Tamu itu menerima gunting dan mulai memangkas salah satu semak—krek, krek—guntingan pun terdengar.

Waktu berlalu seiring selesainya satu teko teh. Biksu bertanya bagaimana perasaannya. 

Tamu itu tersenyum dan berkata: “Tubuh terasa lebih rileks, tetapi keinginan-keinginan yang selama ini mengganjal di hati sepertinya belum benar-benar berkurang.”

Biksu itu mengangguk dan berkata: “Pada awalnya memang seperti itu. Jika sering dilakukan, lama-kelamaan akan berubah.”

Saat hendak pergi, tamu itu berjanji akan datang kembali sepuluh hari kemudian.

Biksu tidak mengetahui bahwa orang tersebut sebenarnya adalah seorang taipan perhiasan terkenal di Thailand, yang belakangan ini sedang menghadapi masalah bisnis besar yang belum pernah dia alami sebelumnya.

Sepuluh hari kemudian, sang taipan datang kembali. Dua puluh hari kemudian, dia datang lagi. Tiga bulan berlalu, semak yang dipangkasnya telah berubah menjadi bentuk seekor burung yang mulai terlihat jelas.

Biksu bertanya: “Sekarang, apakah Anda sudah mengerti bagaimana cara mengurangi keinginan?”

Dengan wajah malu, sang taipan menjawab: “Mungkin saya terlalu bodoh. Setiap kali memangkas semak, hati saya menjadi tenang dan pikiran jernih. Namun begitu saya meninggalkan tempat ini dan kembali ke lingkungan hidup saya, semua keinginan itu muncul lagi seperti biasanya.”

Biksu hanya tersenyum tanpa menjawab.

Ketika “burung” itu akhirnya selesai terbentuk, Biksu Sothi kembali mengajukan pertanyaan yang sama. Jawabannya tetap tidak berubah. 

Kali ini, sang biksu berkata: “Apakah Anda tahu mengapa sejak awal saya menyarankan Anda memangkas semak? Saya hanya ingin agar setiap kali sebelum memangkas, Anda menyadari bahwa bagian yang telah dipotong itu akan tumbuh kembali.”

“Begitulah keinginan manusia. Jangan berharap bisa menghilangkannya sepenuhnya. Yang dapat kita lakukan hanyalah memangkasnya agar tampak indah. Jika dibiarkan, keinginan akan tumbuh liar seperti semak di lereng bukit—kacau dan tidak sedap dipandang.”

“Namun jika sering dipangkas, dia bisa menjadi pemandangan yang indah dan menyenangkan. Hal yang sama berlaku bagi ketenaran dan harta. Selama diperoleh dengan cara yang benar dan digunakan dengan cara yang benar—memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain—maka ia tidak seharusnya dianggap sebagai belenggu batin.”

Sang taipan pun tersadar sepenuhnya.

Sejak saat itu, semakin banyak peziarah datang ke vihara tersebut. Semak-semak di sekitarnya pun satu per satu dipangkas menjadi berbagai bentuk yang indah.

Perlahan-lahan, vihara itu menjadi semakin ramai dan terkenal.

Renungan

Di dunia yang penuh warna dan godaan, manusia bukanlah makhluk suci. Setiap hari kita berhadapan dengan berbagai godaan yang menggoyahkan hati. Melalui nilai moral dan hukum, manusia masih dapat menahan diri sampai batas tertentu.

Namun keinginan manusia bagaikan rumput liar yang tumbuh kembali setelah diterpa angin musim semi—terus bermunculan dari dalam hati. 

Seperti kata Biksu Sothi: “Jangan berharap dapat menghapusnya sepenuhnya. Yang bisa kita lakukan hanyalah memangkasnya agar tampak indah. Jika dibiarkan, dia akan tumbuh liar dan tak sedap dipandang.”

Keinginan adalah pedang bermata dua: dia bisa menjadi kekuatan pendorong untuk keluar dari kesulitan dan bertumbuh, namun juga bisa menjadi iblis yang menjerumuskan manusia ke dalam kehancuran.

Jika mampu mengendalikan dan memanfaatkannya dengan tepat, keinginan itu—seperti semak yang dipangkas—dapat berubah dari ranting liar menjadi bagian indah dari sebuah karya seni kehidupan.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine