EtIndonesia. Tahun itu, aku hidup terlunta-lunta di jalanan Amerika. Hari Natal tiba, dan aku berdiri sepanjang sore di bawah pohon di seberang sebuah restoran cepat saji. Dua bungkus rokok habis kuhisap.
Jalanan sepi. Restoran itu pun tidak seramai biasanya. Setelah menghabiskan batang rokok terakhir, aku memandangi puntung-puntung rokok yang berserakan di tanah dan menghela napas panjang.
Langit mulai gelap. Lampu jalan perlahan menyala, cahayanya redup dan suram—seperti masa depanku sendiri yang tampak kelam dan tanpa harapan.
Tanganku terbenam di dalam saku celana. Benda di dalam saku itu membuatku gelisah sekaligus bersemangat.
Aku memaksakan senyum tipis di sudut bibirku, membuat tanda salib di dada dengan tangan kiri, lalu menatap tanpa berkedip ke arah restoran cepat saji yang hampir tutup.
Saat aku melangkahkan kaki pertama untuk menyeberang jalan, tiba-tiba seorang gadis kecil muncul dari sudut jalan. Rambutnya ikal, pipinya merah merona, dan senyum polos penuh kebahagiaan menghiasi wajahnya.
Dia memeluk boneka Barbie di tangannya dan berjalan kecil-kecil ke arahku. Aku terkejut dan menghentikan langkah.
Gadis kecil itu mendongak, tersenyum manis, dan berkata lembut :“Paman, Selamat Natal!”
Aku terpaku. Bertahun-tahun lamanya, seolah-olah semua orang telah melupakanku. Tidak pernah ada yang memberiku ucapan Selamat Natal.
“Terima kasih… Selamat Natal juga,” jawabku sambil tersenyum.
Dia menunjuk boneka di tangannya dan berkata : “Bisakah paman memberi ‘anakku’ sebuah hadiah?”
“Baik… tapi… tapi aku tidak punya apa-apa.”
Aku merasa malu. Selain benda di saku celanaku—sesuatu yang tidak mungkin kuberikan kepada siapa pun—aku benar-benar tidak memiliki apa-apa.
“Kamu bisa memberinya satu ciuman,” katanya ceria.
Aku mencium bonekanya, lalu mencium pipi si gadis kecil itu dengan lembut.
Dia tampak sangat bahagia.
“Terima kasih, Paman. Besok akan lebih baik. Sampai besok!” Katanya, sebelum pergi.
Aku memandangnya berjalan pergi sambil bernyanyi kecil.
Aku berbisik pada punggung kecilnya : “Ya… besok pasti akan lebih baik. Besok pasti akan lebih baik.”
Dan aku meninggalkan tempat itu.
Lima Tahun Kemudian
Hari ini, lima tahun telah berlalu. Aku memiliki rumah yang hangat. Istriku lembut dan baik hati. Anakku sehat dan ceria.
Aku mengajar bahasa Inggris di sebuah universitas di Tiongkok. Para dosen dan mahasiswa menghormatiku karena aku percaya diri dan mampu menjalankan tugasku dengan baik.
Natal tiba lagi. Pohon Natal dihiasi bintang-bintang. Anakku sedang bermain balok susun. Istriku menyajikan kalkun panggang. Sebelum makan, aku menutup mata dan berdoa dalam diam.
Setelah selesai, istriku bertanya : “Kamu bersyukur kepada Tuhan untuk apa?”
Aku berkata pelan: “Aku bersyukur karena Tuhan mengirimkan seorang malaikat kepadaku—seorang gadis kecil yang mengubah hidupku.”
Aku menatap istriku dan berkata : “Kamu tahu, aku pernah masuk penjara.”
“Itu sudah berlalu,” jawabnya dengan mata penuh cinta.
“Ya, itu masa lalu. Tapi setelah aku keluar dari penjara, hidupku hancur. Aku tak bisa mendapat pekerjaan. Tidak ada yang mau bekerja dengan mantan narapidana.”
Dengan suara berat aku melanjutkan : “Bahkan teman-temanku dulu tak lagi mempercayaiku. Mereka menjauh. Tak seorang pun memberiku dukungan atau penghiburan.”
Aku mulai putus asa. Aku ingin membalas dendam pada masyarakat yang begitu dingin. Hari itu adalah Hari Natal. Di saku celanaku ada sepucuk pistol. Aku berdiri di seberang restoran cepat saji itu, menunggu kesempatan untuk masuk dan merampoknya.
Istriku terkejut : “Jack, kamu gila!”
“Ya, aku memang hampir gila. Kupikir, paling buruk aku hanya akan dipenjara lagi. Di sana, setidaknya semua orang sama.”
“Lalu apa yang terjadi?” tanyanya tegang.
Aku pun menceritakan kisah itu.
“Ucapan Natal gadis kecil itu membuatku merasa hangat. Sejak aku keluar dari penjara, belum pernah ada yang memberiku berkat sehangat itu.”
Aku berkata dengan suara bergetar : “Sayang, tahu tidak apa yang mengubah takdirku?”
Istriku menatap mataku.
“Dia berkata padaku, ‘Besok akan lebih baik.’ Kalimat itu membuatku sadar bahwa hidup belum berakhir. Masih ada hari esok. Dan hari esok bisa lebih baik.”
Sejak saat itu, setiap kali aku menghadapi kesulitan dan merasa tak berdaya, aku selalu berkata pada diriku sendiri: ‘Besok akan lebih baik.’
Aku tidak lagi rendah diri. Aku menjadi percaya diri. Kemudian aku bertemu ayahmu. Dia menyarankanku menjadi guru. Dan selanjutnya… kamu sudah tahu ceritanya.”
Aku menatap istriku dengan penuh haru.
“Hanya satu ucapan dari seorang gadis kecil… dan itu mengubah seluruh hidupku.”
Istriku meletakkan tangan di dadanya dan berkata lembut : “Mari kita bersyukur untuknya dan mendoakan kebahagiaannya.”
Aku kembali meletakkan tangan di dadaku.
Nilai sebuah doa dan ucapan berkat tidak dapat diukur dengan uang. Dia bisa mengubah hidup seseorang—bahkan mengubah takdir banyak orang.
Karena itu, jangan pelit dalam memberi senyum dan doa. Walau hanya kepada orang asing, mungkin ucapan sederhana yang kita berikan tanpa sengaja bisa menjadi kehangatan seumur hidup bagi seseorang.
Hikmah Cerita
Sebuah doa, sebuah senyuman, atau satu kalimat kebaikan—bisa mengubah hidup seseorang.
Bahkan, kadang bukan hanya mengubah hidup orang lain, tetapi juga menyelamatkan diri kita sendiri dari malapetaka.
Jangan pernah pelit memberi senyum dan doa, terlebih di momen penuh makna seperti Natal.
Berikan senyum manis kepada orang di sekitarmu. Ucapkan selamat dengan tulus. Katakan dengan penuh keyakinan: “Semangat, besok pasti lebih baik.”
Siapa tahu, kata-kata itu akan menjadi benih di dalam hati seseorang—bertumbuh perlahan, hingga suatu hari mekar menjadi bunga indah dan berbuah kebahagiaan serta keberhasilan. (jhn/yn)


