Penjual Ikan dan Elang

EtIndonesia. Seseorang harus mampu menjaga perannya agar bisa mengembangkan kemampuannya.

Burung kecil yang terbang di langit dan berkicau merdu telah menjalankan peran dan kemampuannya—menambah keindahan alam.

Begitu pula manusia. Peran (tanggung jawab) adalah hidup dengan benar dan tahu batas diri. Kemampuan adalah menggunakan potensi untuk melayani sesama.

Namun ada orang yang hanya ingin menunjukkan kemampuan, tetapi lupa pada perannya. Dia tidak mau menjaga batas diri, hingga arah hidupnya menyimpang. Itu hal yang sangat berbahaya.

Ada sebuah kisah kecil.

Seorang pemuda mencari nafkah dengan menjual ikan. Suatu hari, sambil berteriak menawarkan dagangannya, dia melihat ke sekeliling mencari pembeli.

Tiba-tiba seekor elang menyambar dari langit, mengambil seekor ikan dari lapaknya, lalu terbang tinggi menjauh.

Penjual ikan itu marah dan berteriak-teriak, tetapi hanya bisa melihat elang itu terbang makin tinggi dan makin jauh.

Dia menggerutu :  “Seandainya aku punya sayap dan bisa terbang, pasti tidak akan kulepaskan kau!”

Sore itu, saat pulang, dia melewati sebuah kuil Dewa Ksitigarbha (Dizang). Dia berlutut dan berdoa agar diberi kekuatan menjadi seekor elang yang bisa terbang di langit.

Sejak saat itu, setiap melewati kuil, dia berdoa dengan sungguh-sungguh agar berubah menjadi elang.

Sekelompok pemuda memperhatikan kebiasaannya dan merasa penasaran. 

Salah seorang berkata: “Penjual ikan itu setiap hari berdoa ingin jadi elang.”

Yang lain berkata:  “Ah, daripada dia berdoa terus, kenapa kita tidak mempermainkannya saja?”

Mereka pun menyusun rencana.

Keesokan harinya, salah satu pemuda bersembunyi di belakang patung di kuil.

Saat penjual ikan datang dan berdoa dengan khusyuk, suara dari belakang patung berkata: “Doamu sangat tulus. Aku akan mengabulkannya. Pergilah ke pohon tertinggi di desa dan naiklah ke sana.”

Penjual ikan itu percaya bahwa itu suara sang dewa. Dia sangat gembira dan segera mencari pohon tertinggi lalu memanjatnya.

Semakin tinggi dia memanjat, semakin dia merasa cemas.

Saat sampai di puncak, dia melihat ke bawah : “Wah, tinggi sekali! Apakah aku benar-benar bisa terbang?”

Para pemuda berdiri di bawah pohon dan pura-pura berkata : “Lihat, ada elang besar di atas! Kalau elang, pasti bisa terbang!”

Penjual ikan itu merasa senang.

 “Benar! Aku sudah menjadi elang. Mana mungkin elang tidak bisa terbang?”

Dia pun merentangkan tangan dan melompat dari atas pohon.

Namun alih-alih terbang ke atas, dia justru jatuh ke bawah. Dia sangat ketakutan. Untunglah dia jatuh di lumpur sehingga hanya mengalami luka ringan.

Para pemuda tertawa mengejeknya.

Penjual ikan itu berkata : “Kalian tertawa apa? Sayapku saja yang patah, bukan berarti aku tak bisa terbang!”

Pesan Cerita

Kisah ini memberi peringatan penting.

Seseorang harus menjaga perannya agar dapat mengembangkan kemampuannya. Jika hanya ingin memiliki kemampuan besar tanpa memahami batas diri, dan memaksakan diri melakukan hal di luar kemampuan, itu sangat berbahaya.

Dalam praktik spiritual pun demikian. Jika seseorang meninggalkan perannya dan melampaui batas dengan pikiran yang menyimpang, jalannya akan penuh kesulitan.

Karena itu, kita perlu terus merefleksikan pikiran, ucapan, dan tindakan—apakah sudah sesuai dengan peran dan tanggung jawab kita.

Singkatnya: lakukan dengan kesadaran penuh.

Renungan Tambahan

Ada orang seperti penjual ikan itu—bahkan setelah tertipu dan jatuh, masih merasa dirinya benar.

Humor memang bisa mempererat hubungan, tetapi harus ada batasnya. Jangan sampai candaan membahayakan keselamatan atau melukai orang lain.

Kisah ini juga bisa dimaknai dari sudut pandang lain.

Penjual ikan yang terus berdoa ingin menjadi elang bisa diibaratkan orang yang ingin kaya mendadak tanpa usaha—seperti berharap menang lotre setiap hari. Ketika mendengar “ramalan” yang dianggap pasti, ia mempertaruhkan segalanya dan akhirnya bangkrut.

Namun ada juga tafsir lain: Seseorang yang hanya memiliki satu bagian kemampuan tetapi ingin melakukan sepuluh bagian pekerjaan, tanpa kesiapan, bisa berakhir celaka.

Kedua hal itu sama-sama berbahaya, tetapi berbeda esensinya.

Yang pertama ingin hasil tanpa usaha. Yang kedua berusaha, tetapi tidak mengenali batas diri.

Hasil akhirnya mungkin sama—jatuh dan gagal. Namun proses dan pelajarannya berbeda jauh.

Orang yang hanya bermimpi tanpa usaha patut dikritik. Namun orang yang berusaha melampaui diri, meski gagal, masih layak diberi kesempatan dan dorongan.

Intinya, mengenal diri sendiri adalah kebijaksanaan.

Berani bermimpi itu baik. Berusaha itu penting. Tetapi memahami batas, bertumbuh perlahan, dan menjaga peran adalah fondasi agar kita tidak “melompat” sebelum benar-benar bisa terbang. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine