EtIndonesia. Ada seorang pria yang ayahnya dahulu adalah seorang tuan tanah besar di Havana, Kuba. Sebelum usia tujuh tahun, ia hidup dalam kemewahan. Namun pada dekade 1960-an, negara kepulauan tempat ia tinggal tiba-tiba dilanda revolusi. Dalam sekejap, keluarganya kehilangan segalanya.
Saat mereka mendarat di Miami, Amerika Serikat, seluruh harta yang tersisa hanyalah setumpuk uang kertas di saku sang ayah—uang yang sudah dinyatakan tidak berlaku lagi.
Untuk bisa bertahan hidup di negeri orang, sejak usia 15 tahun ia sudah ikut bekerja bersama ayahnya.
Setiap kali hendak keluar rumah, sang ayah selalu berpesan,
“Selama ada orang yang bersedia mengajarimu bahasa Inggris dan memberimu makan satu kali, tinggallah dan bekerjalah dengan sungguh-sungguh.”
Pekerjaan pertamanya adalah menjadi pelayan di sebuah restoran kecil di tepi pantai.
Karena rajin dan mau belajar, ia cepat mendapat kepercayaan dari pemilik restoran. Bahkan demi membantunya belajar bahasa Inggris dengan lebih baik, sang pemilik membawa ia ke rumahnya agar bisa bermain bersama anak-anaknya.
Suatu hari, pemilik restoran memberitahunya bahwa perusahaan pemasok bahan makanan untuk restoran sedang membuka lowongan tenaga pemasaran. Jika ia berminat, sang pemilik bersedia memberikan rekomendasi.
Begitulah ia mendapatkan pekerjaan keduanya—sebagai tenaga penjual sekaligus sopir truk di sebuah perusahaan makanan.
Sebelum berangkat bekerja, ayahnya kembali menasihati,
“Dulu di kampung halaman, leluhur kita bisa membangun usaha besar karena berpegang pada empat kata: sehari satu kebaikan. Sekarang kamu akan merantau. Ingatlah itu.”
Mungkin karena empat kata itulah, ketika ia mengantarkan sereal gandum ke toko-toko kecil di berbagai sudut kota, ia selalu melakukan kebaikan-kebaikan kecil yang mampu ia lakukan. Misalnya, membantu pemilik toko mengantarkan surat ke kota lain, atau memberi tumpangan kepada anak-anak yang pulang sekolah.
Ia menjalani pekerjaannya dengan penuh semangat selama empat tahun.
Pada tahun kelima, ia menerima pemberitahuan dari kantor pusat. Ia diminta pindah ke Meksiko untuk memimpin pemasaran di seluruh Amerika Latin.
Alasannya jelas: “Dalam empat tahun terakhir, penjualan pribadinya mencapai 40% dari total penjualan di negara bagian Florida. Ia layak mendapat tanggung jawab lebih besar.”
Setelah berhasil membuka pasar di Amerika Latin, ia kembali dipindahkan ke Kanada dan kawasan Asia-Pasifik.
Tahun 1999, ia dipanggil kembali ke kantor pusat di Amerika Serikat dan diangkat menjadi Chief Executive Officer (CEO).
Ketika namanya masuk dalam daftar kandidat CEO untuk perusahaan-perusahaan besar dunia seperti Coca-Cola dan Colgate, Presiden Amerika Serikat saat itu, George W. Bush, setelah memenangkan masa jabatan keduanya, mengumumkan pencalonan Carlos Gutierrez sebagai Menteri Perdagangan untuk pemerintahan berikutnya.
Itulah namanya.
Nama Gutierrez kemudian menjadi simbol dari “American Dream”.
Dalam wawancaranya dengan The Washington Post, ia mengatakan satu kalimat yang sangat sederhana namun mendalam:
“Nasib seseorang tidak selalu ditentukan oleh satu tindakan besar yang luar biasa. Lebih sering, ia ditentukan oleh kebaikan-kebaikan kecil yang dilakukan setiap hari.”
Sehari satu kebaikan—terdengar sangat sederhana. Namun sekaligus, tidak sesederhana itu.
Seperti tetesan air yang mampu melubangi batu, kekuatan kecil yang dilakukan terus-meneruslah yang akhirnya menciptakan perubahan besar.
Hikmah Cerita
Keberhasilan seseorang bukanlah kebetulan semata. Kalaupun ada unsur kebetulan, itu hanya sementara dan tidak akan bertahan lama.
Jika seseorang mampu konsisten melakukan satu kebaikan setiap hari, ia pasti memiliki hubungan sosial yang baik. Dan orang yang disukai banyak orang, ketika menghadapi kesulitan, akan lebih mudah mendapat bantuan. Kesempatan baik pun cenderung datang dan dibagikan kepadanya.
Orang seperti ini memiliki peluang sukses jauh lebih besar dibandingkan kebanyakan orang.
Namun, meski terdengar sederhana, menjalankan prinsip “sehari satu kebaikan” bukanlah hal yang mudah.
Jika kebaikan dilakukan demi tujuan tertentu atau kepentingan pribadi, ia akan terasa melelahkan. Orang lain pun dapat merasakan ketulusan atau kepura-puraannya. Pada akhirnya, bukan keberhasilan yang datang, melainkan hasil yang sia-sia—bahkan bisa berbalik menjadi dampak negatif.
Kebaikan seharusnya dilakukan dengan hati yang tulus dan tenang. Dengan begitu, melakukannya terasa ringan dan membahagiakan.
Jangan meremehkan kebaikan kecil, dan jangan pula menganggap remeh keburukan kecil. Kebaikan kecil yang terus dikumpulkan akan menjadi kebaikan besar. Begitu pula keburukan kecil yang terus dilakukan, akan berkembang menjadi keburukan besar.
Berbuat baik sebenarnya sangat sederhana. Selama kita mampu membawa kebahagiaan dan kemudahan bagi orang lain, itu sudah termasuk kebaikan.
Misalnya, tersenyum dan menyapa orang yang lebih tua dengan ramah. Senyum menghadirkan kehangatan, dan sapaan membuat seseorang merasa dihargai. (jhon)


