Kisah Beruang Kutub

Dalam perjalanan hidup kita, ketika mengejar kebahagiaan, sering kali kita juga bisa menjadi seperti beruang kutub itu—terutama jika kita memegang pandangan hidup yang keliru.

Banyak orang bekerja sangat keras dan sangat lama. Mereka percaya bahwa keberhasilan dalam karier adalah hal yang paling penting dalam hidup.

EtIndonesia. Pernahkah kamu mendengar kisah tentang beruang kutub?

Di kawasan Lingkar Arktik, beruang kutub hampir tidak memiliki musuh alami. Namun orang-orang Eskimo yang cerdas ternyata dapat menangkapnya dengan sangat mudah, bahkan tanpa perlu banyak tenaga.

Bagaimana mereka melakukannya?

Inilah yang bisa disebut sebagai kecerdasan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia.

Orang-orang Eskimo akan membunuh seekor anjing laut, lalu menampung darahnya di dalam sebuah ember. Setelah itu mereka menancapkan sebuah pisau bermata dua tepat di tengah darah tersebut. Karena suhu di wilayah Arktik sangat rendah, darah anjing laut itu segera membeku. Pisau itu pun terperangkap di dalam gumpalan darah yang membeku—seperti es loli raksasa.

Kemudian “es darah” itu dikeluarkan dari ember dan dilemparkan begitu saja di atas hamparan salju.

Beruang kutub memiliki satu sifat yang sangat kuat:
ia sangat menyukai bau darah.

Sifat inilah yang akhirnya membawanya pada kematian.

Indra penciumannya sangat tajam. Bahkan dari jarak beberapa kilometer pun ia dapat mencium bau darah. Ketika mencium bau tersebut, ia pasti akan menemukan “es darah” yang ditinggalkan orang Eskimo di salju, lalu segera datang untuk memakannya.

Beruang kutub mulai menjilati es darah itu.
Semakin dijilat, lidahnya perlahan mulai mati rasa karena dingin. Namun ia tidak mau berhenti menikmati “makanan lezat” tersebut.

Tiba-tiba rasa darah yang ia cicipi terasa semakin segar.

—Darah yang lebih baru.
—Darah yang hangat.

Maka ia pun menjilatinya semakin bersemangat.

Padahal darah itu sebenarnya adalah darahnya sendiri.

Yang sebenarnya terjadi adalah: ketika beruang itu menjilat hingga mencapai bagian tengah es darah, pisau yang tertanam di dalamnya mulai melukai lidahnya. Darah pun mulai mengalir keluar.

Namun karena lidahnya sudah mati rasa akibat dingin, ia tidak merasakan sakit sama sekali.

Sebaliknya, hidungnya yang sangat sensitif justru mencium bau darah yang lebih segar. Akibatnya ia terus menjilat dengan lebih rakus.

Semakin dijilat, luka di lidahnya semakin dalam.
Darah semakin banyak mengalir.
Dan semuanya ia telan sendiri ke dalam tenggorokannya.

Pada akhirnya, beruang kutub itu kehilangan terlalu banyak darah hingga mengalami syok dan pingsan. Saat itulah orang Eskimo datang dan dengan mudah menangkapnya tanpa harus bersusah payah.


Renungan Kehidupan

Dalam perjalanan hidup kita, ketika mengejar kebahagiaan, sering kali kita juga bisa menjadi seperti beruang kutub itu—terutama jika kita memegang pandangan hidup yang keliru.

Banyak orang bekerja sangat keras dan sangat lama. Mereka percaya bahwa keberhasilan dalam karier adalah hal yang paling penting dalam hidup.

Mereka memang menghasilkan banyak uang—sangat banyak.

Namun mereka tidak memiliki waktu untuk menikmatinya. Bahkan ketika suatu saat mereka memiliki waktu, sering kali mereka tidak lagi tahu bagaimana menggunakan uang itu.

Mereka mendapatkan uang, tetapi kehilangan banyak hal lain—bahkan mungkin kehilangan hal-hal yang jauh lebih penting dalam hidup.

Hubungan mereka dengan keluarga menjadi sangat sedikit.
Anak-anak mereka bahkan hampir tidak mengenal mereka—dalam arti mereka tidak pernah benar-benar hadir menemani anak-anak tumbuh dewasa.

Mereka tidak pernah bermain, tidak memiliki kehidupan santai, dan bahkan tidak pernah sempat membantu orang lain.

Ada orang yang ketika kariernya sedang berada di puncak tiba-tiba mengalami serangan jantung dan meninggal dunia.
Ada yang tiba-tiba terkena stroke dan kehilangan kemampuan bergerak.
Ada pula yang suatu hari menyadari bahwa keluarganya telah meninggalkannya.

Majalah Amerika TIME pernah melakukan sebuah survei terhadap para CEO perusahaan besar dunia yang telah pensiun. Mereka diminta mengisi sebuah kuesioner.

Salah satu pertanyaan dalam survei tersebut adalah:

“Jika hidup bisa diulang kembali, hal apa yang paling tidak ingin Anda lewatkan?”

Menariknya, para pemimpin dari sepuluh perusahaan terbesar memberikan jawaban yang sama.

Jika hidup dapat dimulai kembali, mereka tidak akan melewatkan kesempatan untuk menemani anak-anak mereka tumbuh besar.

Banyak orang berkata bahwa mereka tidak pernah menyesali keputusan yang telah mereka buat.

Masalahnya adalah: sebelum membuat keputusan, mereka sebenarnya belum benar-benar memikirkannya dengan matang. Pada akhirnya, mereka tetap menyesal.

Karena itu, mari kita berpikir dengan jernih sekarang:

Apakah kamu adalah beruang kutub itu?

Apakah kamu sedang “menghisap darahmu sendiri” sambil merasa sedang menikmati kebahagiaan?

Hidup hanya terjadi satu kali.
Waktu yang sudah lewat tidak akan pernah kembali.

Jangan menjadi beruang kutub besar itu.
Sebuah karier yang dibangun dengan mengorbankan kehidupan sendiri pada akhirnya mungkin membuatmu memperoleh seluruh dunia—

tetapi kehilangan hal yang paling berharga dalam hidupmu.


Cara orang Eskimo berburu beruang kutub sebenarnya jauh lebih menarik daripada sekadar nasihat moral yang muncul di akhir cerita.

Mereka menggunakan darah anjing laut untuk membungkus pisau tajam. Ini adalah contoh bagaimana kecerdikan bisa mengalahkan kekuatan.

Jika kita melihat kembali masyarakat manusia, situasi seperti ini sebenarnya sering terjadi di berbagai sudut kehidupan.

Orang Eskimo menggunakan keuntungan yang tampak di depan mata untuk menarik beruang kutub.
Kemudian hawa dingin membuat perasaan beruang itu menjadi mati rasa.

Akhirnya beruang itu mati dalam keyakinan bahwa ia sedang memperoleh keuntungan—padahal sumber “keuntungan” itu sebenarnya berasal dari dirinya sendiri.

Bukankah dalam banyak hal kita juga seperti beruang kutub?

Beberapa pengelola atau pemimpin yang pandai berhitung kadang memberi kita berbagai manfaat di satu sisi, tetapi di sisi lain mereka mengambil jauh lebih banyak dari kita.

Seperti pepatah lama mengatakan:
“Bulu domba tetap berasal dari tubuh domba itu sendiri.”

Ketika kita merasa sedang menghasilkan lebih banyak uang, kita mungkin tanpa sadar juga kehilangan waktu dan kesehatan.

Dan ketika kesehatan telah hilang, sebanyak apa pun uang yang kita miliki tidak akan mampu menukar kembali kesehatan dan waktu yang telah pergi. (Jhon)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine