Harapan Adalah Sebuah Pelita

EtIndonesia. Di tepi laut hiduplah sepasang suami istri muda yang bekerja sebagai nelayan.
Sang suami sering melaut untuk menangkap ikan, sementara sang istri tinggal di rumah mengurus pekerjaan rumah tangga.

Hari-hari mereka berjalan sederhana, namun terasa penuh dan bermakna.

Biasanya, sebelum fajar menyingsing, sang suami sudah bangun untuk bersiap pergi melaut.
Setiap kali sebelum suaminya melangkah keluar rumah, sang istri selalu bertanya dengan penuh perhatian:

“Jam berapa kamu akan kembali?”

“Menjelang senja,” jawab sang suami singkat, sebelum sosoknya menghilang dalam cahaya fajar yang masih samar.

Selama ini, perkataan sang suami selalu tepat.
Setiap kali ia melaut, ia selalu kembali saat senja tiba.

Tidak peduli sejauh apa kapalnya berlayar atau berapa lama waktu berlalu, ia selalu memilih pulang dan merapat ke pantai pada waktu senja.
Kebiasaan itu telah ia jalani selama bertahun-tahun, dan tidak pernah berubah.

Sang istri pun sangat memahami kebiasaan suaminya itu.
Setiap kali senja datang, ia akan berjalan seorang diri ke tepi laut, menunggu kepulangan suaminya.

Tidak peduli berapa hari suaminya berada di laut, ia selalu menunggu dengan sabar.

Namun suatu hari, setelah sang suami pergi melaut, angin kencang tiba-tiba bertiup di permukaan laut.
Hujan deras disertai badai pun datang.

Setelah badai itu berlalu, perahu sang suami tidak pernah lagi muncul di tepi pantai saat senja.

Namun sang istri tetap datang ke tepi laut setiap senja.
Dengan mata yang penuh kecemasan, ia memandang satu per satu kapal nelayan yang kembali ke daratan, berharap suaminya akan muncul di antara mereka.

Hari demi hari berlalu.
Tahun demi tahun pun berganti.

Suaminya tidak pernah kembali.
Namun sang istri tidak pernah berhenti menunggu.

Baik saat angin bertiup kencang maupun hujan turun, setiap senja ia tetap datang ke tepi laut tepat pada waktunya.

Suatu hari, seseorang yang merasa heran bertanya kepadanya:

“Kamu sudah tahu dia tidak akan kembali. Mengapa kamu masih terus menunggu?”

Dengan penuh keyakinan sang istri menjawab:

“Karena setiap senja bagi saya adalah sebuah harapan.
Harapan itu seperti sebuah lampu yang menuntun hidup saya untuk terus berjalan di tengah malam yang penuh keputusasaan.”


Renungan Hidup

Bunga kehidupan hanya dapat mekar jika disirami oleh harapan.

Hidup ini ibarat sebuah panggung besar.
Dan hanya dengan adanya harapanlah, panggung kehidupan itu dapat menjadi begitu indah dan penuh makna. 🌅

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine