Menurut kabar terbaru, Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru saja menyatakan bahwa atas permintaan Perdana Menteri Pakistan, dan dengan syarat Iran setuju untuk membuka kembali Selat Hormuz secara penuh, segera, dan aman, maka ia menyetujui penghentian sementara pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu.
EtIndonesia. Pada Selasa (7 April), Israel melakukan pemboman presisi terhadap delapan jembatan strategis utama di Iran, memutus jalur suplai Islamic Revolutionary Guard Corps. Sementara itu, militer AS melancarkan setidaknya 50 serangan udara terhadap pusat energi utama Iran—Pulau Khark. Yang mengejutkan, otoritas Iran justru menyerukan kaum muda untuk membentuk “tameng manusia” guna melindungi pembangkit listrik.
Konflik Memanas, Pulau Khark Kembali Diserang
Setelah sehari sebelumnya menyerang puluhan pesawat militer Iran, Pasukan Pertahanan Israel mengkonfirmasi bahwa mereka membombardir delapan jembatan di kota-kota penting seperti Teheran, Karaj, Kashan, dan Qom. Sebelum serangan, Israel disebut telah memberikan peringatan keselamatan kepada warga Iran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan: “Hari ini, pasukan kami menyerang rel kereta dan jembatan yang digunakan oleh Garda Revolusi. Mereka memanfaatkan fasilitas ini untuk mengangkut bahan baku senjata, senjata itu sendiri, serta personel yang digunakan untuk menyerang kami, Amerika Serikat, dan negara-negara di kawasan.”
Pada Selasa dini hari, militer AS juga melancarkan lebih dari 50 serangan udara terhadap Pulau Khark, pusat energi terpenting Iran. Pejabat AS menyatakan bahwa serangan hanya menargetkan sasaran militer dan tidak mengenai fasilitas minyak di pulau tersebut. Ini merupakan gelombang kedua setelah bulan lalu AS menyerang lebih dari 90 target militer di pulau yang sama.
Wakil Presiden AS J.D. Vance mengatakan: “Saya tidak berpikir serangan terhadap Pulau Khark menunjukkan perubahan strategi atau perubahan sikap presiden. Batas waktu tetap pukul 20.00.”
Ultimatum Mendekat, Iran Serukan “Tameng Manusia”
Presiden Trump menulis pada Selasa : “Malam ini, sebuah peradaban bisa lenyap selamanya. Saya tidak ingin tragedi ini terjadi, tetapi mungkin tidak dapat dihindari. Setelah 47 tahun pemerasan, korupsi, dan kematian, semuanya akan berakhir. Tuhan memberkati rakyat besar Iran!”
Menurut laporan media Iran, Teheran menolak proposal gencatan senjata yang diajukan AS melalui mediator, serta menolak membuka kembali Selat Hormuz.
Seiring tenggat waktu semakin dekat, pejabat Iran pada Selasa menyerukan para pemuda bahkan anak-anak untuk membentuk “rantai manusia” di sekitar pembangkit listrik di berbagai daerah, guna menghadapi kemungkinan serangan AS.
Netizen pun mengecam keras, menyebut tindakan tersebut “kejam dan menjijikkan,” karena pemerintah Iran dianggap menjadikan rakyat sebagai tameng manusia.
B-52 Dikerahkan, “Pesawat Hari Kiamat” Muncul
Pada hari yang sama, sebuah pesawat pembom B-52 Stratofortress milik AS yang membawa amunisi lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Inggris di Fairford.
Selain itu, menurut laporan New York Post, pesawat E-4B Nightwatch—yang dijuluki “pesawat hari kiamat”—terlihat berputar di atas Pangkalan Offutt pada Senin (6 April) sebelum mendarat.
Pesawat yang dijuluki “Pentagon terbang” ini memiliki perlindungan tingkat tinggi dan mampu memastikan presiden serta menteri pertahanan tetap dapat memimpin operasi bahkan dalam kondisi ekstrem seperti perang nuklir. Meski Pentagon menyatakan itu hanya latihan rutin, langkah tersebut tetap memicu perhatian luas di tengah situasi yang semakin tegang.
Distribusi Tablet Yodium Picu Spekulasi
Menurut media Iran, pemerintah membagikan 180.000 tablet yodium kepada warga di kota pelabuhan selatan Bushehr. Hal ini memicu spekulasi bahwa langkah tersebut terkait kemungkinan perang besar.
Namun, media lokal melaporkan bahwa distribusi sebenarnya sudah dimulai sejak Juni tahun lalu, karena di wilayah tersebut terdapat satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran. Pada konflik “Perang 12 Hari” tahun lalu, pemerintah Iran sempat khawatir fasilitas tersebut akan diserang.
Pada Selasa malam, Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengajukan permohonan agar Trump memperpanjang batas waktu dua minggu. Gedung Putih menyatakan bahwa Trump telah menerima permintaan tersebut dan akan memberikan tanggapan.
Laporan disusun oleh reporter NTD, Yi Jing.


