EtIndonesia. Pemimpin tertinggi Iran saat ini, Mojtaba Khamenei, dikabarkan belum pernah tampil di depan publik sejak menjabat. Baru-baru ini, sejumlah media mengungkap bahwa ia telah kehilangan satu kaki dan mengalami cacat pada wajah. Demi keamanan, ia disebut hanya dapat berkomunikasi dengan dunia luar melalui surat tulisan tangan yang dikirim oleh kurir penunggang unta.
Di tengah berlangsungnya perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran, beberapa media melaporkan bahwa Mojtaba Khamenei mengalami luka serius akibat serangan udara pada 28 Februari. Ia telah menjalani tiga kali operasi pada kakinya dan kini menunggu pemasangan kaki prostetik. Tangannya juga telah menjalani operasi dan masih dalam masa pemulihan.
Wajah dan bibirnya dilaporkan mengalami luka bakar parah, sehingga menyulitkannya berbicara, bahkan mungkin memerlukan operasi rekonstruksi.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa Mojtaba kini bersembunyi di lokasi rahasia, hanya didampingi oleh tim dokter. Bahkan komandan pengawal pun tidak diizinkan mendekat, karena dikhawatirkan badan intelijen Israel dapat melacak keberadaannya dan melakukan serangan.
Atas pertimbangan keamanan, ia hanya berkomunikasi melalui surat tulisan tangan yang dikirim oleh seorang kurir yang menunggang unta, untuk menghindari jalur jalan raya.
Sumber juga menyatakan bahwa pemimpin tertinggi tersebut saat ini dianggap tidak menjalankan tugasnya.
Media Israel melaporkan bahwa kepala negosiator Iran sekaligus Ketua Parlemen, Mohammad Bagher Ghalibaf, juga dipaksa mundur dari posisi perunding. Ia disebut sempat ditodong senjata oleh Garda Revolusi sebelum penerbangannya ke Pakistan untuk negosiasi, dan dipaksa membuka bagasinya. Namun, informasi ini belum dikonfirmasi secara resmi.
“Mereka (Iran) telah mengganti kepemimpinan baru, dan sekarang terjadi konflik internal. Kami telah menciptakan kekacauan besar bagi mereka—siapa yang akan mengendalikan situasi?,” kata Trump.
Ia menambahkan bahwa AS akan memberi waktu kepada Iran untuk mempertimbangkan langkah mereka, sambil berharap mereka akan menyadari situasi dan menyetujui tuntutan Amerika.
Menurut data dari Foundation for Defense of Democracies (FDD), sejak operasi militer AS yang disebut “Epic Rage” dimulai, Iran telah mengalami kerugian sebesar 144 miliar dolar AS, setara dengan 40% dari produk domestik bruto sebelum perang—dan angka ini kemungkinan masih diremehkan.
Kerugian tersebut mencakup sekitar 53 miliar dolar AS dari pendapatan minyak dan gas, serta 91 miliar dolar AS untuk biaya rekonstruksi militer, termasuk angkatan laut, rudal, dan drone.
Sejumlah analis juga memperkirakan bahwa setiap tambahan satu bulan perang dapat membuat ekonomi Iran mundur hingga lima tahun.
Laporan oleh Li Jiayin, koresponden NTD di Amerika Serikat.


