Narasi Partai Komunis Tiongkok  Gagal, Kontroversi “Tang Ping” Memicu Krisis Opini Publik

Baru-baru ini, pihak berwenang Partai Komunis Tiongkok mengaitkan fenomena “tang ping” (berbaring pasrah) dengan kekuatan asing. Namun, ketika semakin banyak anak muda tidak lagi percaya bahwa “kerja keras akan membuahkan hasil”, apakah penjelasan resmi tersebut masih meyakinkan? Kontroversi “tang ping” ini kini berkembang pesat menjadi badai opini publik.

EtIndonesia. Pada 28 April 2026, Kementerian Keamanan Negara Tiongkok merilis sebuah artikel yang menyebut tren “tang ping” yang populer di kalangan anak muda dalam beberapa tahun terakhir sebagai hasil manipulasi kekuatan asing. Mereka mengklaim adanya organisasi yang mendanai influencer dan media untuk menyebarkan gagasan seperti “usaha itu sia-sia” dan “kerja keras justru merugikan”, sebagai bentuk infiltrasi ideologi terhadap kaum muda.

Pernyataan ini langsung memicu reaksi keras di internet Tiongkok. Banyak warganet secara terbuka mempertanyakan dan menuntut bukti konkret, termasuk siapa influencer yang terlibat, sumber dana, serta dampak nyata. Ada pula yang menyindir, “Perlu disulut lagi?”—mengisyaratkan bahwa di bawah tekanan realitas, pilihan anak muda untuk mundur dari persaingan adalah respons yang alami.

Gelombang kritik terbuka dalam skala besar seperti ini tergolong jarang terjadi, dan menunjukkan adanya perubahan: jarak antara narasi resmi dan pengalaman nyata masyarakat semakin melebar.

Istilah “tang ping” merujuk pada sebagian anak muda yang secara sadar menurunkan ambisi dan konsumsi, tidak lagi mengejar jalur kesuksesan tradisional—seperti membeli rumah, menikah, atau memiliki anak—bahkan memilih bekerja secara minimal. Fenomena ini terus meluas.

Pasca pandemi COVID-19, Tiongkok menghadapi perlambatan ekonomi dan pasar tenaga kerja yang semakin ketat. Setiap tahun, lebih dari 10 juta lulusan perguruan tinggi memasuki pasar kerja, namun ketersediaan lapangan kerja tidak mencukupi dan ketidakseimbangan struktural semakin parah. Banyak yang terpaksa “turun kelas” dalam mencari pekerjaan, beralih ke pekerjaan tidak stabil seperti kurir makanan atau kerja lepas, bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

Dalam konteks ini, “tang ping” berkembang dari pilihan individu menjadi fenomena kolektif yang beresonansi luas.


“Masalah utamanya adalah tidak ada peluang, sekeras apa pun berusaha. Dibandingkan bergantung pada orang tua, orang memilih ‘turun kelas’. Tapi bagaimana turun kelas? Yang umum sekarang adalah menjadi kurir makanan. Bahkan lulusan universitas top seperti Tsinghua atau Peking, termasuk lulusan pascasarjana, jika tidak mendapat pekerjaan, terpaksa melakukan pekerjaan sementara seperti ini untuk membantu keuangan keluarga,” ujar Ekonom AS, Li Hengqing. 

Di tengah tekanan realitas yang terus berlangsung, narasi resmi mulai mengalihkan fokus pada “kekuatan asing”, yang memicu keraguan publik.

Li Hengqing:  “Pada akhirnya (PKT) tetap menyalahkan kekuatan asing. Siapa itu? Trump? Wei Jingsheng? Saya semakin tidak percaya anak muda akan mendengarkan mereka. Banyak anak muda sekarang, termasuk di platform Xiaohongshu—bahkan yang dulu sangat pro-pemerintah—ketika mereka sendiri sulit mendapat pekerjaan dan merasakan dampaknya, mereka mulai sadar.”

Para analis menilai bahwa ketika tekanan ekonomi tidak lagi dapat ditutupi oleh narasi propaganda, muncul “ketidakpercayaan sistemik” di ruang publik—dari sekadar meragukan satu pernyataan, berkembang menjadi menggoyahkan keseluruhan kerangka narasi. Kontroversi “tang ping” pun dipandang sebagai salah satu jendela penting untuk mengamati perubahan sosial di Tiongkok.

Laporan oleh wartawan NTD, Yixin dan Qiu Yue.

INSPIRASI ERABARU

Chemistry Tumbuh dari Kedekatan: Mengapa Kencan Tatap Muka Masih Tak Tergantikan di Era Digital

Di era ketika lebih dari setengah lajang berusia di bawah 30 tahun menggunakan aplikasi kencan, berbagai bukti menunjukkan bahwa pendekatan digital terhadap percintaan mungkin...

Mengapa Introvert dan Ekstrovert Sama-Sama Berperan Penting dengan Kekuatan Mereka yang Unik

Cara sistem saraf kita merespons lingkungan sosial mencerminkan lebih dari sekadar kepribadian. Oleh Sarah Campise Hallier Dua orang teman memasuki sebuah bar karaoke. Yang satu langsung...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine