Kendali Iran atas jalur perairan ini menimbulkan dampak global, sementara perburuan global Angkatan Laut AS terhadap tanker “armada bayangan” menargetkan Iran
oleh John Haughey
Tibanya kapal USS George H.W. Bush, kini terdapat tiga kelompok tempur kapal induk, lebih dari 240 jet tempur, dan sedikitnya 16 kapal perusak di Laut Arab dan Laut Merah yang memburu kapal-kapal Iran serta tanker “armada bayangan”.
Namun satu hal yang tidak dilakukan oleh 20.000 pelaut dan marinir dalam operasi lebih dari 20 kapal ini—termasuk lebih dari 2.500 pasukan infanteri serbu di kapal amfibi USS Tripoli—adalah memblokade Selat Hormuz.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) justru mengendalikan kapal mana yang boleh keluar-masuk melalui jalur sempit sepanjang 21 mil yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman.
Kapal-kapal Iran masih melintasi koridor tersebut dan keluar-masuk pelabuhan Teluk Persia—atau yang tersisa setelah 38 hari pengeboman—karena Angkatan Laut AS hampir tidak memiliki kapal perang di perairan seperti cekungan itu. Berdasarkan gencatan senjata, kapal-kapal Iran tidak ditembaki oleh pasukan AS maupun Israel.
Kekuatan laut ini—yang merupakan pengerahan terbesar Angkatan Laut AS di kawasan sejak invasi Irak 2003 dan krisis sandera Iran 1979–1981—menegakkan garis larangan sepanjang 190 mil dari Ras al-Hadd di Oman hingga Teluk Kaij-e-Gavater di perbatasan Iran–Pakistan, lebih dari 220 mil di selatan selat tersebut.
Sementara Iran menguasai selat dan pelabuhannya di Teluk Persia tidak “diblokade” karena gencatan senjata, pelayaran Iran tidak memiliki akses ke jalur laut di luar zona operasi Angkatan Laut AS di Teluk Oman (GONZO).
Ini adalah kebuntuan: IRGC memanfaatkan keunggulan geografisnya untuk menerapkan “cekikan ekonomi” pada jalur vital perdagangan dunia, sementara Amerika Serikat menggunakan jangkauan globalnya untuk secara selektif menghentikan perdagangan maritim yang penting bagi Iran.
Pada dasarnya, ini adalah blokade atas sebuah blokade.
“Kami tidak memblokade selat. Kami memblokade kapal-kapal Iran yang mencoba masuk ke Teluk Oman,” ujar Salvatore Mercogliano, profesor analis perdagangan maritim di Campbell University, Carolina Utara. “Kami bahkan tidak berada dekat Selat Hormuz. Ini yang disebut ‘blokade jarak jauh’.”
Garis GONZO
Per 27 April, Komando Pusat AS melaporkan bahwa sejak 13 April, Angkatan Laut AS telah mencegat 38 kapal setelah melintasi selat dan “mengarahkannya kembali” ke pelabuhan Teluk Persia.
Pada 19 April, pelaut USS Spruance dan marinir USS Tripoli menyita kapal berbendera Iran M/V Touska yang mencoba menembus garis GONZO.
Pada 22 April, pasukan AS menahan tanker berbendera Palau Tifani yang membawa 1,9 juta barel minyak mentah Iran di Teluk Benggala lepas Malaysia.
Pada 23 April, tanker yang dikenai sanksi Majestic X ditangkap antara Sri Lanka dan Indonesia.
Pada 25 April, Angkatan Laut AS mencegat kapal berbendera Botswana M/V Sevan di Laut Arab dan “mengawalnya” kembali ke selat.
Touska dan Tifani disita ribuan mil dari Selat Hormuz, di kawasan Samudra Hindia timur yang dikenal sebagai “pom bensin terapung,” tempat minyak dari negara yang disanksi seperti Iran dan Rusia dibeli oleh tanker “armada bayangan” dengan bendera palsu dan dijual di Asia, terutama ke pembeli Tiongkok.
Sevan termasuk dalam 19 kapal yang dikenai sanksi Departemen Keuangan AS pada 24 April karena mengangkut barang Iran. Organisasi Maritim Internasional mencatat setidaknya 17 dari kapal tersebut—bahkan mungkin lebih dari 60 di seluruh dunia—beroperasi dengan bendera Botswana, hal yang mengejutkan negara Afrika yang tidak memiliki registrasi kapal.
Operasi terhadap Iran ini mirip dengan penyitaan kapal “armada bayangan” Venezuela oleh Pentagon pada Desember 2025–Februari 2026.
Sementara AS memburu kapal Iran secara global di luar garis GONZO, IRGC membalas dengan menyita kapal berbendera Panama Francesca dan kapal berbendera Yunani Epaminondas pada 22 April dengan alasan “tidak memiliki izin” untuk melintasi selat.
Perbedaannya, menurut Gregory Copley dari International Strategic Studies Association, adalah bahwa AS bertindak selektif menargetkan Iran, sementara IRGC memaksakan kendali atas perdagangan global.
“Yang kita lihat adalah perang narasi antara Iran dan Amerika,” ujarnya. “Iran mengatakan mereka memblokade selat, Amerika mengatakan tidak bisa.”
Menurutnya, klaim blokade juga digunakan Iran untuk meraih keunggulan psikologis.
Tidak Ada Solusi Militer
Blokade biasanya merupakan strategi jangka panjang untuk “mencekik” lawan secara perlahan. Namun dengan lebih dari 20 persen minyak dan gas dunia terkurung di Teluk Persia, ratusan kapal menganggur, dan 20.000 pelaut terdampar, kebuntuan ini memicu tekanan besar.
Meski gencatan senjata masih bertahan dan komunikasi tidak langsung berlangsung melalui Pakistan, belum jelas apakah Iran akan membuka selat tanpa konsesi AS, atau apakah AS akan melunak dari tuntutannya agar Iran menghentikan program nuklir dan dukungan terhadap kelompok teroris.
Pentagon sendiri tengah menyiapkan rencana serangan besar terhadap instalasi IRGC di sepanjang pantai Hormuz.
Namun, menurut Mercogliano, pada akhirnya tidak ada solusi militer sederhana.
“Cukup satu speedboat dengan senapan mesin untuk menghentikan kapal kontainer raksasa,” katanya, menggambarkan betapa rentannya jalur tersebut.
Bahkan ancaman ranjau saja sudah cukup membuat perusahaan pelayaran enggan mengambil risiko.
“Hanya ancaman ranjau sudah cukup untuk menciptakan ‘ladang ranjau’,” ujarnya.
Pada akhirnya, seperti di Selat Hormuz, Bab el-Mandeb, Malaka, Dardanella, hingga Terusan Suez dan Panama, lalu lintas maritim global berjalan karena kesepakatan bersama.
Selama belum ada kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat, kebuntuan ini akan terus menyakitkan.
Namun Copley meyakini tekanan global AS pada akhirnya akan memaksa Teheran untuk mengalah lebih dulu.
“Apa pun sebutannya—blokade atau bukan—itu tidak penting,” katanya.
“Tujuannya jelas: memutus perdagangan laut Iran. Yang penting adalah hasil akhirnya, bukan prosesnya.”
John Haughey adalah seorang reporter pemenang penghargaan di Epoch Times yang meliput pemilu Amerika Serikat, Kongres AS, energi, pertahanan, dan infrastruktur. Ia memiliki pengalaman lebih dari 45 tahun di bidang media. Anda dapat menghubungi John melalui email di [email protected].
Atikel ini sebelumnya terbit dalam bahasa Inggris


