EtIndonesia. Pada 2 Mei 2026, militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi baru untuk 9 desa di Lebanon selatan, sebelum melancarkan serangan udara terhadap puluhan target milik organisasi bersenjata Hezbollah. Serangan tersebut menyebabkan sedikitnya 7 orang tewas dan banyak lainnya terluka.
Menurut pernyataan militer Israel, pada hari itu mereka menyerang puluhan target Hizbullah dan menghancurkan sekitar 70 bangunan militer serta 50 fasilitas infrastruktur milik kelompok tersebut di berbagai wilayah.
Pasukan Israel juga menggunakan buldozer di desa perbatasan Yaroun untuk merobohkan sebagian bangunan sebuah biara kosong milik ordo Katolik Yunani, Salvatorian Sisters.
Militer Israel menyatakan bahwa selama operasi di wilayah tersebut, sebuah bangunan di dalam kompleks keagamaan mengalami kerusakan saat mereka menghancurkan apa yang disebut sebagai “infrastruktur teroris”.
Juru bicara militer Israel berbahasa Arab, Avichay Adraee, menyatakan di platform X bahwa hasil penyelidikan menunjukkan “tidak ada tanda jelas bahwa bangunan tersebut merupakan fasilitas keagamaan.” Ia menambahkan bahwa setelah pasukan menyadari adanya bangunan lain di kompleks tersebut yang memiliki tanda keagamaan yang jelas, mereka segera mengambil langkah untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
Adraee juga menyebut bahwa operasi militer dilakukan karena Hizbullah beberapa kali meluncurkan roket ke wilayah Israel dari area tersebut.
Sejak 2 Maret, Hizbullah meluncurkan roket ke Israel sebagai bentuk dukungan terhadap sekutunya, Iran, yang menyebabkan Lebanon terseret dalam konflik Timur Tengah ini dan mengakibatkan lebih dari satu juta orang mengungsi.
Meskipun perjanjian gencatan senjata mulai berlaku sejak 17 April, bentrokan antara Israel dan Hizbullah masih terus terjadi.
Sumber : NTDTV.com


