EtIndonesia.com Pada peringatan 37 tahun peristiwa 4 Juni (Tiananmen), anggota kelompok “Ibu-Ibu Tiananmen”, Zhang Xianling, menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua individu dan organisasi yang terus mengenang serta memberikan dukungan kepada para korban Tragedi Tiananmen.
Ia menegaskan:”Sebagai keluarga korban, kami harus menyampaikan kebenaran, menolak untuk melupakan, mencari keadilan, membangkitkan hati nurani, dan memperjuangkan keadilan bagi orang-orang yang kami cintai.”
Mengenang Korban Tragedi Tiananmen
Kelompok Tiananmen Mothers merupakan organisasi hak asasi yang terdiri dari keluarga korban yang tewas dalam peristiwa 4 Juni 1989.
Pada 4 Juni 2026, Zhang Xianling yang kini berusia 88 tahun merilis sebuah video yang menyatakan: “Hari ini adalah peringatan 37 tahun Tragedi 4 Juni. Kami berterima kasih kepada semua orang yang mengenang para mahasiswa dan warga sipil yang melakukan demonstrasi damai dan dibunuh secara brutal oleh pemerintah Partai Komunis Tiongkok 37 tahun lalu.”
Ia mengenang situasi Tiongkok pada tahun 1989. Saat itu, negara baru memasuki era reformasi dan keterbukaan ekonomi. Namun sistem harga ganda menyebabkan ketimpangan sosial, sementara korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan mulai meluas. Banyak pejabat dan orang-orang yang memiliki koneksi politik memperoleh keuntungan besar, sedangkan masyarakat umum menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok dan harga perumahan yang terus meningkat.
Dalam situasi tersebut, para mahasiswa tampil menyuarakan aspirasi masyarakat dan melakukan demonstrasi damai untuk mendesak pemerintah memberantas korupsi serta praktik penyalahgunaan kekuasaan. Gerakan itu mendapat dukungan luas dari warga kota dan berbagai kelompok masyarakat.
Menurut Zhang, harapan masyarakat saat itu adalah agar pemerintah mengambil langkah nyata untuk mengatasi berbagai masalah tersebut.
Namun, katanya, pemerintah saat itu tidak menanggapi tuntutan masyarakat, melainkan mengerahkan ratusan ribu tentara bersenjata lengkap dan kendaraan lapis baja untuk membubarkan demonstrasi. Tindakan tersebut mengakibatkan banyak korban jiwa dan menimbulkan penderitaan bagi ribuan keluarga.
Zhang mengatakan:”Orang-orang yang berada di Beijing saat itu tidak akan pernah melupakan suara tembakan yang memekakkan telinga, deru kendaraan lapis baja, sirine ambulans, dan teriakan kemarahan masyarakat pada malam itu.”
Ia menambahkan bahwa kehilangan anggota keluarga mereka merupakan luka yang tidak akan pernah hilang.”Air mata kami telah habis. Kesedihan tersimpan jauh di dalam hati. Yang tersisa adalah kerinduan abadi kepada keluarga kami dan kebencian terhadap kejahatan pembantaian terhadap rakyat.”
Seruan untuk Menghadapi Kebenaran Sejarah
Atas nama kelompok Tiananmen Mothers, Zhang mengucapkan terima kasih kepada masyarakat internasional yang selama 37 tahun terus mengecam tindakan penindasan tersebut dan tidak melupakan para korban.
Ia juga menyerukan agar pihak berwenang menghadapi fakta sejarah dan membuka dialog guna menyelesaikan persoalan terkait Tragedi 4 Juni.
Di akhir video, ia kembali menegaskan: “Sebagai keluarga korban, kami harus mengatakan yang sebenarnya, menolak untuk melupakan, mencari keadilan, membangkitkan hati nurani, dan memperjuangkan keadilan bagi orang-orang yang kami cintai, agar arwah para korban memperoleh ketenangan.”
Tuduhan Penutupan Informasi Mengenai Peristiwa 4 Juni
Peristiwa 4 Juni, yang juga dikenal sebagai Gerakan Demokrasi 1989, merujuk pada demonstrasi pro-demokrasi yang dipelopori mahasiswa Tiongkok sejak April 1989 dan berlangsung hampir dua bulan.
Pada dini hari 4 Juni 1989, tentara memasuki kawasan sekitar Tiananmen Square dan melakukan tindakan yang mengakhiri demonstrasi tersebut. Jumlah korban hingga kini masih menjadi perdebatan karena tidak pernah ada angka resmi yang disepakati secara luas.
Menurut artikel ini, meskipun telah berlalu 37 tahun, keluarga korban menilai kasus tersebut belum mendapatkan penyelesaian yang memadai. Mereka juga menuduh pemerintah Tiongkok terus membatasi diskusi publik mengenai peristiwa tersebut.
Menjelang peringatan 4 Juni tahun ini, anggota kelompok Tiananmen Mothers dilaporkan menerima pemberitahuan dari otoritas keamanan Beijing yang melarang mereka mengadakan kegiatan peringatan di pemakaman, membacakan pidato penghormatan, maupun mempublikasikan foto-foto kegiatan peringatan.
Pada 1 Juni, sejumlah keluarga korban mengeluarkan surat protes yang menyatakan bahwa pembatasan tersebut bertentangan dengan konstitusi, hukum, dan prinsip-prinsip kemanusiaan, serta mendesak pemerintah mencabut larangan tersebut.
Dalam wawancara dengan media asing pada 2 Juni, Zhang Xianling mengatakan bahwa sejak 28 April para anggota kelompok berada di bawah pengawasan ketat, termasuk penjagaan polisi dan pembatasan aktivitas keluar rumah maupun komunikasi dengan dunia luar.
Reaksi Internasional
Amnesty International mengkritik pemerintah Tiongkok karena dinilai terus menekan upaya masyarakat untuk mengenang peristiwa 4 Juni dan membatasi hak keluarga korban untuk berkabung.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa sensor tidak dapat menghapus ingatan tentang tindakan keras terhadap para demonstran yang tidak bersenjata pada tahun 1989, dan bahwa para korban suatu hari nanti akan memperoleh keadilan. (***)
Sumber : NTDTV.com


