EtIndonesia.com Ketegangan di Timur Tengah terus meningkat. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa setelah operasi militer gabungan AS-Israel, kemampuan militer Iran telah melemah secara signifikan dan persediaan rudalnya menurun drastis. Sementara itu, sejumlah negara di kawasan Teluk secara berturut-turut mengecam serangan Iran terhadap Kuwait dan Bahrain, yang semakin memperburuk situasi keamanan regional.
Di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, United States Central Command (CENTCOM) menegaskan bahwa militer AS terus melaksanakan latihan dan penempatan militer di Laut Arab dan perairan sekitarnya guna menjamin keamanan jalur pelayaran serta mempertahankan kemampuan respons cepat terhadap perkembangan situasi kawasan.
Dalam bidang diplomasi, Pakistan terus memainkan peran sebagai mediator. Menteri Dalam Negeri Pakistan, Mohsin Naqvi, akan bertemu dengan para pemimpin Iran di Teheran untuk membahas sebuah “rencana baru” guna menghidupkan kembali perundingan damai antara AS dan Iran serta meredakan ketegangan yang terus meningkat.
Pada hari Sabtu, Wakil Kepala Sekretaris Pers Gedung Putih, Anna Kelly, mengatakan kepada Fox News bahwa Presiden Trump “tidak akan terburu-buru membuat kesepakatan yang buruk dengan Iran.”
Ia menekankan bahwa rakyat Amerika dapat merasa tenang karena setiap kesepakatan yang dicapai akan menguntungkan Amerika Serikat dan mampu melindungi keamanan nasional AS baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Sebelumnya, Presiden Trump kembali menegaskan bahwa setelah serangan militer gabungan AS dan Israel, kemampuan militer Iran secara keseluruhan telah “sangat melemah”. Menurutnya, persediaan rudal Iran kini hanya tersisa sekitar 21% hingga 22% dari sebelumnya, dan pihak AS memiliki informasi intelijen yang “sangat akurat” mengenai hal tersebut.
Pada saat yang sama, situasi keamanan di kawasan Teluk memburuk dengan cepat, sehingga meningkatkan risiko terjadinya konflik yang lebih luas.
Pemerintah Qatar menjadi pihak pertama yang mengeluarkan pernyataan resmi, mengecam serangan Iran terhadap Kuwait dan Bahrain yang disebut sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional”. Qatar juga memperingatkan bahwa setiap eskalasi militer yang menargetkan negara-negara Teluk akan semakin merusak stabilitas kawasan.
Selanjutnya, Gulf Cooperation Council (Dewan Kerjasama Teluk) bersama sejumlah negara anggotanya juga secara kolektif mengecam serangan tersebut dan menuduh Iran merusak upaya diplomatik yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Berdasarkan data yang diumumkan oleh Kuwait, hingga saat ini negara tersebut telah mencegat 379 rudal dan 869 pesawat nirawak (drone), yang disebut sebagai bagian dari serangan besar-besaran menggunakan rudal dan drone musuh. Kementerian Luar Negeri Kuwait juga mengecam keras pelanggaran terhadap kedaulatan negara dan menyatakan akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga keamanan nasional.
Seiring situasi di sekitar Selat Hormuz yang tetap tegang, konfrontasi militer dan upaya diplomasi berlangsung secara bersamaan. Dunia internasional kini terus memantau apakah krisis ini akan meluas dan berdampak ke kawasan lain.
Laporan disusun oleh reporter Yixin untuk NTD Television.


