Aksi Protes Siswa SMA di Iran Meluas, Menjangkau 20 Provinsi

EtIndonesia.com Di tengah perhatian dunia terhadap peringatan 37 tahun peristiwa Tiananmen 1989, gerakan protes pelajar di Iran juga terus meluas. Siswa sekolah menengah atas (SMA) di sekitar 20 provinsi Iran menggelar aksi protes untuk menentang kebijakan pendidikan, aturan ujian akhir, serta perubahan kebijakan yang memengaruhi ujian masuk perguruan tinggi nasional. Beberapa aksi dibubarkan secara paksa, dan sejumlah siswa dilaporkan ditangkap.

Menurut laporan Iran International yang berbasis di London, gelombang protes ini mulai muncul pada akhir Mei di wilayah barat dan tengah Iran. Awalnya, protes berfokus pada penyelenggaraan ujian akhir sekolah. Namun, tuntutannya kemudian meluas dan kini telah menjangkau sekitar 20 provinsi, termasuk Tehran, Isfahan, dan Qom.

Para siswa pada umumnya menuntut penghapusan kebijakan yang memberikan “pengaruh tetap” nilai rata-rata (GPA) kelas 11 terhadap hasil ujian masuk universitas nasional. Alternatifnya, mereka meminta agar nilai GPA hanya diberlakukan sebagai “pengaruh positif”, yaitu hanya dihitung apabila dapat meningkatkan nilai akhir peserta.

Di Provinsi Yazd , beberapa siswa dilaporkan terluka dalam bentrokan yang terjadi selama aksi protes. Di Provinsi Qom, setidaknya satu orang ditangkap. Sementara itu, di Saveh, terjadi kontak fisik antara staf dinas pendidikan dan para siswa yang berunjuk rasa.

Pada  Sabtu 6 Juli, sejumlah siswa turun ke jalan sambil meneriakkan slogan-slogan yang menentang kebijakan pendidikan, antara lain:”Para siswa, bersuaralah! Perjuangkan hak kalian!”

Dan “Pejabat yang tidak kompeten, kami tidak menginginkan kalian!”

Puncak Protes di Teheran

Pekan ini, aksi protes mencapai puncaknya di Teheran. Sekelompok siswa kelas 11 dan 12 berkumpul di depan gedung Kementerian Pendidikan Iran sambil membawa spanduk bertuliskan:”Dengarkan suara para siswa Iran”

Mereka menuntut pencabutan kebijakan yang dipersoalkan tersebut.

Video dari lokasi menunjukkan para siswa juga berkumpul di depan gedung Supreme Council of the Cultural Revolution (Dewan Tertinggi Revolusi Kebudayaan) dan meneriakkan:”Keadilan dan pendidikan adalah hak yang tidak boleh dirampas dari kami!”

Keluhan atas Ketidakpastian Kebijakan

Para siswa mengkritik keras ketidakpastian dalam sistem pendidikan. Mereka mengatakan bahwa perubahan aturan ujian dan penerimaan mahasiswa yang terus-menerus telah menimbulkan tekanan psikologis yang besar.

Angkatan pelajar saat ini dianggap memiliki pengalaman yang sangat berat. Sebelumnya mereka telah mengalami penutupan sekolah, pembelajaran daring, berbagai gejolak akibat aksi protes yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, serta perubahan berulang dalam regulasi pendidikan.

Karena itu, para siswa menegaskan bahwa mereka tidak ingin lagi menjadi korban dari perubahan kebijakan yang terus berganti-ganti.

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine