EtIndonesia.com Perang Rusia-Ukraina kembali memasuki fase yang semakin intensif setelah Ukraina melancarkan gelombang serangan drone jarak jauh terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Serangan tersebut tidak hanya menyasar wilayah garis depan, tetapi juga menghantam berbagai fasilitas strategis jauh di dalam wilayah Rusia, termasuk Saint Petersburg, depot minyak, pangkalan angkatan laut, gudang persenjataan, hingga jalur logistik militer.
Salah satu rekaman yang paling menyita perhatian publik muncul dari sebuah jalan tol yang menghubungkan Rostov dengan Krimea. Seorang warga Rusia yang sedang berkendara tanpa sengaja merekam momen dramatis ketika sebuah truk angkut militer Rusia yang melaju dari arah berlawanan tiba-tiba dihantam drone.
Dalam hitungan detik, ledakan besar terjadi dan kendaraan militer tersebut langsung dilalap api. Rekaman dari kamera dasbor (dashcam) itu kemudian beredar luas di internet dan menjadi simbol meningkatnya kemampuan Ukraina dalam menyerang target-target Rusia bahkan jauh dari garis depan perang.
Serangan Besar ke Saint Petersburg Saat Forum Ekonomi Internasional Berlangsung
Pada 6 Juni 2026, Ukraina melancarkan salah satu operasi udara terbesar yang pernah diarahkan ke wilayah Saint Petersburg dan Oblast Leningrad.
Serangan tersebut berlangsung bertepatan dengan hari terakhir penyelenggaraan forum ekonomi internasional terbesar Rusia yang dihadiri ribuan tamu dari berbagai negara.
Gubernur Oblast Leningrad, Aleksandr Drozdenko, menyatakan bahwa sistem pertahanan udara Rusia berhasil menembak jatuh lebih dari 140 drone Ukraina yang memasuki wilayah tersebut.
Pemerintah daerah bahkan mengimbau warga untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan serta tetap berada di tempat yang aman selama operasi pertahanan udara berlangsung.
Bagi Presiden Rusia Vladimir Putin, serangan ini memiliki dampak simbolis yang sangat besar.
Saint Petersburg bukan sekadar kota terbesar kedua di Rusia, tetapi juga merupakan kota kelahiran Putin dan tempat ia membangun fondasi karier politiknya sebelum naik ke puncak kekuasaan di Moskow.
Forum Ekonomi Bergengsi Berubah Menjadi Bayang-Bayang Serangan Udara
Yang membuat situasi semakin memalukan bagi Moskow adalah waktu pelaksanaan serangan tersebut.
Saint Petersburg saat itu sedang menjadi tuan rumah forum ekonomi internasional yang dianggap sebagai salah satu ajang diplomasi dan ekonomi paling penting bagi Rusia.
Forum tersebut menarik kehadiran ribuan peserta dari sekitar 130 negara.
Beberapa laporan bahkan menyebut adanya delegasi Amerika Serikat yang datang secara relatif tertutup, sesuatu yang cukup jarang terjadi dalam beberapa tahun terakhir di tengah hubungan yang memburuk antara Washington dan Moskow.
Namun alih-alih disambut oleh suasana forum yang tenang, para tamu internasional justru menyaksikan dua gelombang serangan drone Ukraina yang mengguncang wilayah sekitar kota.
Gelombang Pertama Menargetkan Depot Minyak dan Pangkalan Angkatan Laut Kronstadt
Gelombang pertama serangan terjadi pada 5 Juni 2026, sehari sebelum puncak forum ekonomi berlangsung.
Target utama saat itu adalah:
- Depot penyimpanan minyak
- Pangkalan Angkatan Laut Kronstadt
- Infrastruktur militer pendukung Armada Baltik Rusia
Salah satu sasaran yang paling mendapat perhatian adalah sebuah kapal fregat Rusia yang sedang menjalani perawatan di galangan kapal.
Menurut berbagai rekaman yang beredar, kapal tersebut dihantam beberapa drone dan mengalami kebakaran besar.
Api terus berkobar selama berjam-jam.
Bagian anjungan kapal dilaporkan mengalami kerusakan berat, sementara berbagai perangkat elektronik penting, termasuk sistem radar dan peralatan navigasi, tampak hangus terbakar.
Analisis awal sejumlah pengamat militer menyebut kerusakan yang terjadi kemungkinan cukup parah hingga berpotensi membuat kapal tersebut tidak dapat kembali beroperasi dalam waktu dekat.
Zelensky: Drone Ukraina Terbang Lebih dari 1.000 Kilometer
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan bahwa drone-drone yang digunakan dalam operasi tersebut telah menempuh jarak lebih dari 1.000 kilometer sebelum mencapai Saint Petersburg.
Menurut Zelensky, sasaran utama operasi itu adalah:
- Pangkalan angkatan laut Rusia
- Gudang persenjataan
- Infrastruktur logistik militer
Ia menyebut operasi tersebut sebagai respons langsung terhadap serangan udara Rusia yang terus menghantam kota-kota Ukraina.
Gudang Persenjataan Armada Baltik Terbakar Hebat
Pada malam 6 Juni 2026, perhatian kemudian beralih ke kawasan Bolshaya Izhora, Oblast Leningrad.
Di lokasi tersebut, Gudang Persenjataan Nomor 15 Angkatan Laut Rusia dilaporkan terbakar hebat setelah menjadi sasaran serangan drone.
Rekaman yang beredar menunjukkan kobaran api besar disertai ledakan-ledakan susulan yang terdengar berkali-kali.
Ledakan sekunder tersebut memunculkan dugaan bahwa amunisi, rudal, atau perlengkapan militer lainnya ikut terbakar.
Gudang Persenjataan Nomor 15 dikenal sebagai salah satu fasilitas logistik utama Armada Baltik Rusia yang menyimpan:
- Torpedo
- Rudal angkatan laut
- Sistem persenjataan kapal perang
- Berbagai perlengkapan tempur maritim lainnya
Lebih dari 400 Drone Dikerahkan ke Berbagai Wilayah Rusia
Menurut sejumlah laporan, operasi Ukraina pada 6 Juni melibatkan lebih dari 400 drone yang dikirim ke berbagai wilayah Rusia.
Selain Saint Petersburg, sejumlah target strategis lainnya juga diserang.
Depot Minyak Raksasa di Krasnodar Dilalap Api
Di wilayah Krasnodar Krai, Rusia bagian selatan, depot minyak Ust-Labinsk menjadi sasaran serangan drone.
Video dari lokasi memperlihatkan api berkobar tanpa henti siang dan malam.
Asap hitam tebal terlihat membumbung tinggi ke langit.
Kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi membuat warga setempat berbondong-bondong memenuhi stasiun pengisian bahan bakar untuk mengisi kendaraan mereka.
Kilang Antipinsky di Tyumen Ikut Diserang
Serangan juga menjangkau wilayah Tyumen, salah satu pusat industri minyak dan gas terbesar Rusia.
Kota tersebut sejak era Uni Soviet dikenal sebagai “Baku Ketiga” karena cadangan energinya yang sangat besar.
Target utama di kota ini adalah Kilang Antipinsky, salah satu kilang swasta terbesar Rusia dengan kapasitas pengolahan sekitar 9 juta ton minyak mentah per tahun.
Rekaman yang muncul setelah serangan menunjukkan kebakaran besar di area industri, sementara sirene darurat terus berbunyi sepanjang malam.
Komandan Drone Ukraina: “Menyerang Rusia Kini Jauh Lebih Mudah”
Komandan Resimen Serbu Drone ke-413 Ukraina, Karas, dalam wawancara dengan BBC menyatakan bahwa operasi drone ke wilayah Rusia kini semakin mudah dilakukan.
Menurutnya, kemampuan pertahanan udara Rusia tidak lagi seefektif sebelumnya.
“Drone kami kini dapat terbang di wilayah Rusia seolah berada di ruang udara sendiri. Perlawanan hampir tidak ada. Menyerang sasaran bukanlah hal yang sulit,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang semakin tinggi dari pihak Ukraina dalam menjalankan operasi jarak jauh.
Moskow Terus Menambah Sistem Pertahanan Udara
Meningkatnya frekuensi serangan membuat Rusia terus memperkuat perlindungan udara di wilayah-wilayah penting.
Berbagai video memperlihatkan sistem pertahanan udara Pantsir dipasang di atap gedung-gedung tinggi di Moskow.
Dalam salah satu rekaman bahkan terlihat helikopter angkut berat Mi-26 mengangkut sistem tersebut ke lokasi strategis.
Namun hingga saat ini, kombinasi sistem pertahanan udara Rusia seperti:
- Pantsir
- S-300
- S-400
belum mampu menghentikan seluruh serangan drone Ukraina secara efektif.
Pangkalan Militer Rusia di Donetsk Digempur Drone
Pada malam 5 Juni 2026, Ukraina juga melancarkan serangan besar terhadap posisi Resimen Zeni Independen ke-51 Rusia di Oblast Donetsk.
Satuan ini bertugas:
- Memasang ranjau
- Membangun garis pertahanan
- Mendukung operasi militer di Kherson dan Zaporizhzhia
Rekaman serangan memperlihatkan puluhan ledakan terjadi secara beruntun.
Asap berbentuk jamur muncul berkali-kali dari area pangkalan.
Di akhir video, sejumlah bangunan terlihat terbakar hebat dengan asap tebal yang terus membumbung ke udara.
Jalur Kereta Api, Fasilitas Gas, dan Mariupol Turut Menjadi Sasaran
Selain pangkalan militer, Ukraina juga menyerang:
- Fasilitas penyimpanan gas alam di Donetsk
- Gardu listrik jalur kereta api di Rodakove, Oblast Luhansk
- Pangkalan logistik militer di Mariupol
Mariupol yang terletak di tepi Laut Azov merupakan salah satu pusat logistik terpenting Rusia untuk memasok pasukan di garis depan.
Kerusakan pada fasilitas-fasilitas tersebut diperkirakan akan memperlambat distribusi logistik militer Rusia.
Lima Kapal Angkut Rusia Diserang di Laut Azov
Pada periode 5–6 Juni 2026, unit drone Ukraina juga mengklaim menyerang lima kapal angkut Rusia yang beroperasi di Laut Azov.
Kapal-kapal tersebut digunakan untuk mendukung distribusi logistik militer ke wilayah pertempuran.
Rekaman pasca-serangan memperlihatkan bekas kebakaran di beberapa bagian kapal.
Anjungan kapal tampak hangus terbakar dan dipenuhi puing-puing.
Serangan semacam ini dinilai berpotensi mengurangi kemampuan Rusia dalam memasok pasukan di sektor Zaporizhzhia.
Lebih dari 200 Truk Logistik Rusia Dilaporkan Hancur
Ukraina juga terus memburu jalur logistik darat yang menghubungkan Krimea dengan wilayah pendudukan Rusia.
Menurut laporan yang beredar, sejak awal Mei 2026:
- Lebih dari 200 truk logistik dihancurkan
- Lebih dari 30 truk tangki bahan bakar berhasil diserang
Akibatnya, tekanan terhadap sistem pasokan Rusia di garis depan terus meningkat.
Industri Drone Ukraina Semakin Berkembang
Peningkatan intensitas serangan dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan perkembangan pesat industri drone Ukraina.
Saat ini Ukraina diperkirakan mampu memproduksi dan mengoperasikan ratusan hingga ribuan drone jarak jauh setiap bulan.
Dengan jangkauan lebih dari 1.000 kilometer, drone-drone tersebut kini mampu menjangkau berbagai kota penting Rusia, termasuk:
- Saint Petersburg
- Moskow
- Tyumen
- Krasnodar
- Berbagai pangkalan militer di wilayah pedalaman
Perkembangan ini mengubah karakter perang modern, di mana garis depan tidak lagi menjadi satu-satunya medan tempur.
Insiden Tak Biasa: Roket TOS Rusia Gagal dan Jatuh Kembali
Di penghujung rekaman yang beredar pada hari yang sama, muncul sebuah insiden menarik yang melibatkan sistem peluncur roket termobarik TOS milik Rusia.
Saat kendaraan peluncur menembakkan sejumlah roket ke arah medan tempur, beberapa proyektil mengalami kegagalan teknis.
Beberapa roket gagal menyalakan pendorong secara sempurna dan jatuh kembali ke tanah sesaat setelah diluncurkan.
Salah satu roket bahkan meledak tidak jauh dari kendaraan peluncurnya sendiri.
Pemandangan tersebut terlihat sangat dramatis dan sekilas menyerupai sebuah pangkalan Rusia yang sedang dihantam serangan udara.
Kesimpulan
Rangkaian serangan pada 5–6 Juni 2026 menunjukkan bahwa Ukraina kini semakin mampu melaksanakan operasi drone jarak jauh dalam skala besar terhadap sasaran militer, energi, dan logistik Rusia.
Di sisi lain, Rusia menghadapi tantangan yang semakin kompleks karena harus melindungi wilayah yang sangat luas, mulai dari garis depan perang hingga kota-kota besar dan fasilitas strategis jauh di belakang medan tempur. Jika tidak tercapai solusi politik dalam waktu dekat, perang ini berpotensi memasuki fase baru yang ditandai dengan meningkatnya serangan jarak jauh dan tekanan logistik terhadap kedua belah pihak. (***)


