EtIndonesia.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu, 10 Juni 2026, menyampaikan pernyataan keras dari Ruang Oval Gedung Putih. Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa militer AS telah melancarkan serangan besar terhadap Iran sehari sebelumnya dan siap melanjutkan operasi militer dengan intensitas yang lebih tinggi apabila Teheran tetap menunda penyelesaian perundingan yang sedang berlangsung.
Pernyataan tersebut muncul di tengah situasi yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah, khususnya setelah serangkaian insiden yang terjadi di sekitar Selat Hormuz dan meningkatnya aktivitas militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Trump Klaim Amerika Jalankan Operasi Rahasia di Selat Hormuz
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga mengungkap apa yang ia sebut sebagai operasi rahasia militer Amerika Serikat yang selama ini tidak pernah dipublikasikan.
Menurut Trump, beberapa malam sebelumnya pasukan Amerika berhasil menyita puluhan kapal yang diduga beroperasi secara sembunyi-sembunyi di wilayah perairan sekitar Iran. Kapal-kapal tersebut disebut berlayar tanpa menyalakan lampu navigasi maupun sistem radar.
Trump mengklaim bahwa sebanyak 22 kapal berhasil diamankan dan muatan minyak yang dibawa kemudian dialihkan oleh pihak Amerika Serikat.
Presiden AS tersebut bahkan menyatakan bahwa operasi itu berlangsung tanpa diketahui oleh Iran pada saat kejadian berlangsung.
Menurut Trump, selama beberapa waktu terakhir Amerika Serikat telah menjalankan berbagai operasi maritim untuk menjamin keamanan pelayaran internasional di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia.
Ia mengklaim bahwa operasi tersebut telah membantu mengalirkan lebih dari 100 juta barel minyak ke pasar internasional serta menjamin keamanan lebih dari 200 kapal dagang yang melintas di kawasan tersebut.
Trump: Iran Terlalu Lama Menunda Kesepakatan
Selain membahas operasi militer, Trump kembali menyoroti proses negosiasi yang masih berlangsung antara Washington dan Teheran.
Melalui pernyataannya di Gedung Putih maupun unggahan di media sosial, Trump menuduh Iran sengaja memperlambat penyelesaian perundingan yang menurutnya sebenarnya sudah hampir mencapai titik akhir.
Menurut Trump, Iran pada prinsipnya telah menyetujui sejumlah poin penting, termasuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Namun, ia menilai Teheran terus menunda proses finalisasi kesepakatan.
“Kami sudah sangat dekat dengan sebuah perjanjian. Mereka mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi mereka terus menunda,” kata Trump.
Presiden AS itu juga mengaitkan sikap keras pemerintahannya dengan insiden jatuhnya helikopter serang Apache Amerika Serikat yang terjadi di kawasan Selat Hormuz beberapa hari sebelumnya.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan respons militer lanjutan, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat siap kembali melakukan serangan terhadap target-target Iran apabila diperlukan.
Peringatan Keras kepada Teheran
Pada pagi hari 10 Juni 2026, Trump kembali mengeluarkan peringatan terbuka kepada pemerintah Iran.
Ia menyatakan bahwa apabila Teheran tidak segera menyelesaikan perundingan dan tetap menolak tuntutan yang diajukan Washington, maka Amerika Serikat akan memperluas cakupan serangan.
Menurut sejumlah laporan, target yang disebut-sebut masuk dalam daftar potensial operasi berikutnya mencakup infrastruktur strategis seperti pembangkit listrik, jaringan energi, fasilitas komunikasi, hingga sejumlah jembatan penting yang memiliki nilai strategis bagi aktivitas logistik Iran.
Pernyataan tersebut semakin memperkuat spekulasi bahwa Washington tengah meningkatkan tekanan militer sebagai bagian dari strategi diplomasi paksa terhadap Teheran.
Gedung Putih Gelar Rapat Situasi Perang
Pada sore hari waktu Pantai Timur Amerika Serikat, Presiden Trump menggelar rapat keamanan tingkat tinggi di Gedung Putih untuk mengevaluasi situasi terbaru dan membahas berbagai opsi militer terhadap Iran.
Menurut laporan yang beredar, rapat tersebut dihadiri sejumlah pejabat senior pemerintahan Amerika Serikat, antara lain:
- Wakil Presiden JD Vance
- Menteri Luar Negeri Marco Rubio
- Utusan Khusus Steve Witkoff
- Direktur CIA John Ratcliffe
- Jenderal Dan Caine
- Pejabat tinggi keamanan nasional lainnya
Sementara itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth dilaporkan mengikuti rapat melalui sambungan komunikasi dari Markas Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM).
Menurut sumber yang dikutip sejumlah media, salah satu opsi yang dibahas adalah operasi militer berskala besar namun berlangsung dalam waktu relatif singkat dengan tujuan meningkatkan tekanan terhadap Iran agar kembali ke meja perundingan.
Pentagon Beri Sinyal Operasi Militer Baru
Tak lama setelah rapat berlangsung, Menteri Pertahanan Pete Hegseth disebut memberikan pernyataan yang mengindikasikan kesiapan militer Amerika Serikat untuk melaksanakan operasi lanjutan.
Menurut laporan tersebut, Pentagon telah menyiapkan berbagai opsi serangan terhadap sejumlah target strategis Iran.
Pernyataan itu semakin memperkuat kesan bahwa Washington tengah meningkatkan tekanan maksimal terhadap Teheran melalui kombinasi diplomasi dan kekuatan militer.
Aktivitas Militer Amerika Meningkat di Timur Tengah
Sejak pagi hari 10 Juni, berbagai indikator kesiapan tempur Amerika Serikat di Timur Tengah mulai terlihat.
Menurut sejumlah laporan militer:
- Pasukan lintas udara Angkatan Darat AS melaksanakan latihan tembak langsung.
- Sejumlah unsur tempur laut dan udara meningkatkan status kesiagaan.
- Pesawat pembom strategis B-52 yang lepas landas dari wilayah Mediterania dilaporkan bergerak menuju kawasan Timur Tengah.
- Armada laut Amerika Serikat meningkatkan patroli di sekitar jalur pelayaran strategis.
Banyak analis menilai langkah tersebut merupakan bagian dari strategi tekanan terakhir Washington terhadap Iran.
Pesan yang ingin disampaikan dinilai cukup jelas: seluruh perangkat militer telah disiapkan, sementara keputusan akhir berada pada hasil negosiasi yang sedang berlangsung.
Laporan: Gelombang Serangan Baru Dimulai
Menjelang malam hari, sejumlah laporan menyebutkan bahwa Amerika Serikat dan Israel mulai melancarkan gelombang serangan udara baru terhadap berbagai target di Iran.
Menurut laporan tersebut, sasaran utama mencakup sejumlah fasilitas yang dikaitkan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di wilayah:
- Asalouyeh
- Bandar Abbas
- Kangan
- Sirik
- Pulau Qeshm
- Pulau Hengam
- Kawasan pesisir Selat Hormuz
Ledakan dilaporkan terdengar di sejumlah wilayah pesisir selatan Iran serta beberapa lokasi strategis lainnya.
Laporan juga menyebutkan bahwa kapal perang Amerika Serikat, pesawat tempur, dan helikopter serang ikut mendukung operasi tersebut.
Sejumlah fasilitas pelabuhan, sistem radar, instalasi pertahanan udara, pangkalan angkatan laut, hingga pusat komando militer disebut menjadi target utama operasi.
Fasilitas Energi Iran Dikabarkan Ikut Menjadi Sasaran
Beberapa laporan yang belum dapat diverifikasi secara independen juga menyebut bahwa kompleks gas alam South Pars turut terdampak dalam operasi tersebut.
South Pars merupakan salah satu ladang gas alam terbesar di dunia dan menjadi tulang punggung industri energi Iran.
Jika laporan tersebut terbukti benar, maka dampaknya berpotensi memengaruhi sektor energi Iran secara signifikan serta menimbulkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global.
Timur Tengah Kembali di Ambang Eskalasi
Perkembangan pada 10 Juni 2026 menunjukkan bahwa ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase yang sangat sensitif. Di satu sisi, Washington masih menyatakan bahwa jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup dan kesepakatan masih mungkin tercapai. Namun di sisi lain, peningkatan aktivitas militer, peringatan keras dari Gedung Putih, serta laporan mengenai serangan baru menunjukkan bahwa risiko eskalasi konflik tetap sangat tinggi.
Dengan armada militer yang telah bersiaga dan negosiasi yang belum menghasilkan kesepakatan final, kawasan Timur Tengah kini kembali menghadapi kemungkinan terjadinya konfrontasi yang lebih luas dalam waktu dekat. Jika upaya diplomatik gagal, situasi dapat berkembang menjadi salah satu krisis keamanan terbesar di kawasan tersebut sepanjang tahun 2026. (***)


