EtIndonesia.com Sejumlah produsen di Tiongkok dilaporkan menggunakan bahan limbah, seperti sisa potongan sandal, plastik bekas daur ulang yang berpotensi mengandung zat beracun, dan berbagai jenis sampah plastik lainnya untuk memproduksi sikat gigi yang kemudian dijual di pasaran. Isu ini menjadi perbincangan hangat di media sosial Tiongkok pada 8 Juni.
Para ahli memperingatkan bahwa plastik daur ulang memiliki komposisi yang kompleks. Dalam proses peleburan dan pengolahan pada suhu tinggi, dapat terbentuk zat beracun baru yang berpotensi mengancam kesehatan manusia jika digunakan dalam jangka panjang.
Limbah Plastik Diolah Menjadi Bahan Sikat Gigi
Menurut laporan media daratan Tiongkok, sebagian perusahaan berupaya menekan biaya produksi dengan menggunakan berbagai jenis plastik bekas, antara lain:
- Drum bahan kimia bekas
- Panel bekas peralatan elektronik rumah tangga
- Penutup kipas angin bekas
- Sepatu roda bekas yang sudah rusak
- Berbagai limbah plastik lainnya
Material tersebut dihancurkan menjadi butiran plastik, kemudian dijual ke pabrik pengolahan plastik. Sebagian dari bahan tersebut disebut digunakan secara khusus untuk memproduksi sikat gigi.

Pengusaha: Kenaikan Biaya Mendorong Praktik Ini
Seorang pengusaha di bidang budaya dari Tiongkok bermarga Fu mengatakan kepada NTD bahwa setelah pecahnya konflik di Timur Tengah, biaya bahan baku produk plastik meningkat. Menurutnya, sebagian pelaku usaha mencoba menekan biaya dengan menggunakan plastik bekas untuk memproduksi sikat gigi sekali pakai.
Ia mengatakan:”Produk sekali pakai untuk hotel biasanya dibeli secara massal melalui pengadaan terpusat. Sebagian pemasok berpikir bahwa karena barang itu hanya digunakan sekali, konsumen tidak akan terlalu memperhatikan bagaimana produk tersebut dibuat.”
Menurut Fu, motif utamanya adalah mengurangi biaya dan meningkatkan keuntungan.

Perbandingan dengan Pengawasan di Negara Barat
Fu berpendapat bahwa negara-negara Barat memiliki sistem pengawasan yang lebih ketat sehingga kasus serupa jarang terjadi.
“Di luar negeri, persyaratan hukum dan pengawasan terhadap produk, terutama yang berkaitan dengan kebersihan dan kualitas, sangat ketat. Untuk produk yang masuk ke mulut atau digunakan langsung pada tubuh, asal-usul bahan bakunya harus jelas dan aman. Pengawasannya sangat rinci,” katanya.
Menurutnya, masalah produk palsu dan berkualitas rendah di Tiongkok telah berlangsung selama bertahun-tahun, dan kasus yang terungkap ke publik hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan masalah.

Kritik terhadap Kualitas Produk
Fu juga menyinggung sejumlah kontroversi lain yang pernah muncul terkait kualitas produk dan layanan kesehatan di Tiongkok.
Ia menyebut adanya laporan dari seorang dokter di Shanghai yang mengkritik sistem pengadaan obat dan peralatan medis, termasuk dugaan penurunan kualitas obat bius, obat anti inflamasi, serta peralatan bedah.
Warga : Praktik Semacam Ini Merugikan Kesehatan
Seorang warga bermarga Wu mengatakan bahwa limbah kimia yang tidak diolah dengan benar lalu langsung dihancurkan dan digunakan untuk membuat sikat gigi tentu berpotensi berdampak buruk bagi kesehatan.
“Jika sesuatu bisa menghasilkan uang dan tidak ada yang mengawasi, sebagian orang akan tergoda untuk memalsukan atau mengurangi kualitas produk. Praktik semacam ini cukup umum terjadi dalam berbagai sektor ekonomi di Tiongkok,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa motivasi keuntungan sering kali menjadi faktor utama di balik berbagai tindakan itu.
Laporan oleh Zhang Zhongyuan, Li Shanshan, dan Peng Xinyu, NTD Television.


