EtIndonesia.com Setelah Iran melancarkan serangan di kawasan Timur Tengah, Kuwait pada Kamis (11 Juni) mengumumkan bahwa mulai pukul 04.50 dini hari, wilayah udaranya akan ditutup sementara dan sejumlah penerbangan akan dialihkan ke bandara lain. Sebelumnya, militer Kuwait telah mencegat sasaran udara yang disebut sebagai “objek musuh”.
Menurut laporan AFP, Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil Kuwait menyatakan: “Langkah ini diambil sebagai respons terhadap serangan Iran terhadap Negara Kuwait dan potensi risiko yang ditimbulkannya bagi penerbangan sipil di kawasan.”
Pernyataan tersebut menambahkan: “Setelah situasi berakhir dan faktor-faktor bahaya telah dihilangkan, wilayah udara akan dibuka kembali setelah dilakukan evaluasi oleh pihak terkait, dan lalu lintas udara akan kembali normal.”
Sebelumnya pada Kamis (11 Juni), militer Kuwait menyatakan bahwa sistem pertahanan udaranya sedang mencegat sasaran udara “musuh” sesuai prosedur operasi yang telah disetujui.
Militer menyebut tindakan pertahanan tersebut merupakan respons terhadap target-target tersebut sebagai bagian dari langkah pengamanan yang sedang berlangsung, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Selain itu, Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengumumkan pengaktifan sirene peringatan dan mengimbau warga negara maupun penduduk untuk tetap tenang serta segera menuju lokasi perlindungan terdekat.
Perkembangan ini terjadi beberapa jam setelah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan serangan terhadap Ali Al-Salem Air Base, Ahmad Al-Jaber Air Base, dan Sheikh Isa Air Base, yang disebut sebagai bagian dari 18 sasaran militer utama Amerika Serikat.
Pernyataan militer Iran juga mengumumkan serangan terhadap sistem rudal Patriot Missile System, fasilitas komunikasi di Bahrain, serta armada United States Fifth Fleet.
Sementara itu, United States Central Command (CENTCOM) pada 11 Juni menyatakan bahwa atas instruksi Presiden Donald Trump, pasukan di bawah komandonya telah melaksanakan serangan tambahan yang disebut sebagai tindakan pertahanan diri terhadap sejumlah target di Iran pada 10 Juni.
CENTCOM menyatakan bahwa sasaran serangan tersebut meliputi kemampuan pengawasan militer Iran, sistem komunikasi, dan fasilitas pertahanan udara. Pasukan Korps Marinir, Angkatan Udara, dan Angkatan Laut Amerika Serikat menggunakan amunisi berpemandu presisi untuk menyerang target-target Iran yang dianggap mengancam pasukan AS dan kapal-kapal dagang internasional yang berlayar di perairan kawasan tersebut.
Menurut CENTCOM, serangan itu merupakan respons terhadap tindakan agresi Iran yang disebut tidak beralasan dan terus berlanjut. Mereka menegaskan bahwa pasukan AS akan tetap dalam kondisi siaga, mempertahankan kemampuan tempur penuh, dan siap bertindak kapan saja.
Pada saat yang sama, CENTCOM membantah klaim Iran bahwa Strait of Hormuz telah ditutup.
Mereka menyatakan: “Kapal-kapal komersial masih terus keluar masuk Selat Hormuz malam ini.”
Sumber : NTDTV.com


