Ledakan Dahsyat di Guilin, Guangxi, Tiongkok :  Sumber Mengungkapkan Seorang Veteran Diduga Merakit Bom Sendiri Demi Balas Dendam

EtIndonesia.com Pada 11 Juni 2026 dini hari, terjadi ledakan hebat di Kabupaten Xing’an, Kota Guilin, Provinsi Guangxi, Tiongkok, yang mengakibatkan sedikitnya 7 orang tewas dan 17 orang mengalami luka berat. Sejumlah warga setempat mengungkapkan bahwa ledakan tersebut diduga dilakukan oleh seorang pria lanjut usia yang pernah bertugas di satuan zeni militer. 

Menurut mereka, ia mengalami perselisihan ekonomi terkait pembelian teh yang diklaim sebagai obat dan kemudian melakukan aksi balas dendam menggunakan bom rakitan. Pelaku sendiri dilaporkan turut tewas dalam ledakan itu.

Ledakan Dahsyat di Tengah Malam Mengguncang Kota

Sekitar pukul 01.40 dini hari pada 11 Juni, ledakan besar terjadi di Jalan Lingxiang, Kecamatan Xing’an. Polisi setempat menyatakan bahwa insiden tersebut menewaskan 7 orang dan menyebabkan 17 orang luka berat. Penyelidikan awal menyebutkan bahwa ledakan tidak disebabkan oleh pipa gas atau kebocoran gas alam, sementara penyebab pastinya masih terus diselidiki.

Menurut laporan berbagai media, kekuatan ledakan sangat besar hingga digambarkan “seperti diterjang tornado”. Dari titik ledakan hingga tepi sungai, banyak kaca pecah, dinding retak, dan kusen pintu rusak. Bahkan warga yang tinggal sekitar 4 kilometer dari lokasi mengaku masih dapat merasakan getarannya.

Rumah sakit Kabupaten Xing’an menerima lebih dari 30 korban luka. Sebagian diantaranya mengalami cedera serius, termasuk seorang anak berusia dua tahun yang kemudian dirujuk ke Guilin untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Penduduk setempat mengatakan kawasan sekitar pusat ledakan didominasi rumah-rumah milik pribadi yang dihuni berbagai kalangan, mulai dari pegawai pemerintah, guru hingga petani.

Setelah kejadian, pejabat daerah segera menuju lokasi. Dalam pemberitahuan resmi, kepolisian menggunakan istilah “insiden” alih-alih “kecelakaan”, dan menyatakan penyebabnya masih dalam penyelidikan.

Perusahaan gas setempat juga menegaskan bahwa ledakan tersebut tidak berkaitan dengan jaringan gas. Sejumlah pengamat mencatat bahwa pengumuman awal dikeluarkan oleh kepolisian, bukan badan penanggulangan darurat, sehingga muncul dugaan adanya kemungkinan unsur tindak pidana.

Warga: Veteran Diduga Tertipu Saat Membeli Teh untuk Pengobatan, Lalu Merakit Bom sebagai Balas Dendam

Walaupun pernyataan resmi masih berhati-hati, beberapa warga memberikan keterangan tambahan mengenai dugaan latar belakang kejadian.

Seorang warga bermarga Xu mengatakan bahwa pelaku menghabiskan sekitar 80.000 yuan untuk membeli teh yang diklaim dapat menyembuhkan penyakit, tetapi tidak memberikan hasil sehingga ia datang untuk membalas dendam. Menurut informasi yang didengarnya, pelaku menggunakan bom rakitan dan kemungkinan juga tewas akibat ledakan tersebut.

Warga lain bermarga Han mengatakan pelaku adalah seorang pria tua yang kehilangan puluhan ribu yuan setelah diduga tertipu. Karena kondisi kesehatannya buruk dan tidak memiliki biaya berobat serta gagal mendapatkan kembali uangnya, ia diduga membuat bahan peledak sendiri. Han menambahkan bahwa ia enggan berbicara lebih rinci karena khawatir dipanggil aparat.

Seorang warga bermarga Jiang mengungkapkan bahwa pelaku diduga melemparkan dua bom ke arah pihak yang dianggap sebagai musuhnya. Ia mengatakan pria tersebut pernah menjadi tentara dan memiliki pengetahuan mengenai bahan peledak.

Menurut Jiang, pelaku berasal dari Desa Shuibo, dan ledakan menyebabkan kaca-kaca di lingkungan sekitar, termasuk di rumahnya sendiri  pecah.

Sumber lain bermarga Dong memberikan penjelasan lebih rinci. Ia menyebut sengketa tersebut berawal dari pembelian teh untuk pengobatan yang dianggap tidak efektif dan uangnya tidak dikembalikan. Menurutnya, pelaku lahir pada tahun 1953 dan pernah bertugas sebagai personel zeni sehingga memiliki pengetahuan tentang bahan peledak. Ia diduga membuat alat peledak sendiri dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia dan kemudian melakukan aksi balas dendam sebelum akhirnya turut tewas.

Meski demikian, beberapa warga menyatakan enggan berbicara secara terbuka karena khawatir menghadapi konsekuensi dari pihak berwenang. Seorang warga mengatakan mereka hanya berani membicarakan masalah itu secara pribadi, sementara warga lain menyebut banyak aparat keamanan tambahan dikerahkan dan area kejadian dijaga ketat.

Pada 12 Juni, wartawan yang mencoba menghubungi kepolisian setempat dilaporkan tidak berhasil memperoleh tanggapan.

Kasus Kekerasan Balas Dendam Ekstrem Disebut Semakin Sering Terjadi

Ledakan di Xing’an bukanlah kasus yang berdiri sendiri. Disebutkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir terjadi sejumlah peristiwa kekerasan ekstrim di berbagai wilayah Tiongkok, termasuk penabrakan menggunakan kendaraan dan penikaman yang menimbulkan korban jiwa.

Seorang narasumber anonim yang mengaku mengetahui situasi internal dan menyatakan bahwa terdapat banyak kasus penyerangan dengan senjata tajam setiap hari, termasuk puluhan kasus serangan acak yang serius. Namun, klaim tersebut tidak disertai bukti independen dan belum dapat diverifikasi secara terpisah.

Lebih lanjut, narasumber tersebut mengklaim bahwa otoritas keamanan telah mengeluarkan instruksi internal kepada kepolisian daerah untuk melakukan pendataan terhadap kelompok-kelompok yang dianggap berpotensi menimbulkan konflik atau memiliki kecenderungan ekstrem.

Hanya dalam periode Maret hingga Mei tahun ini, sejumlah kasus kriminal besar yang sangat serius terjadi secara beruntun.

Pada 29 Maret, di Kota Zhoukoudian, Distrik Fangshan, Beijing, seorang pria asal Provinsi Liaoning mengendarai alat berat jenis loader dan menerjang pasar secara membabi buta. Ia melindas kios-kios dan kerumunan orang tanpa pandang bulu, menyebabkan banyak korban tewas dan terluka. Sejumlah saksi mata mengatakan mereka melihat 7 hingga 8 orang tewas, sementara beredar kabar di media sosial bahwa jumlah korban meninggal mencapai 13 orang dengan sekitar 12 orang terluka. Namun, pihak berwenang menutup rapat informasi mengenai kasus tersebut, dan sejumlah warganet yang membocorkan informasi juga dipanggil oleh polisi.

Pada 4 April, terjadi insiden penikaman massal yang mengerikan di dekat Jalan Taiyuan, Distrik Heping, Kota Shenyang, Provinsi Liaoning. Menurut informasi yang beredar di internet, 6 orang tewas dan lebih dari 10 orang terluka. Salah seorang korban pria bahkan dikabarkan tewas setelah dipenggal di tempat kejadian. Pelaku kemudian melompat dari gedung dan meninggal dunia.

Pada 19 April, sebuah mobil menabrak kerumunan orang di Kota Shuitou, Nan’an, Provinsi Fujian. Menurut laporan resmi pemerintah setempat, insiden tersebut menyebabkan 2 orang tewas dan 1 orang terluka. Namun, sejumlah saksi mata mengatakan kepada wartawan bahwa jumlah korban sebenarnya kemungkinan lebih tinggi daripada angka yang diumumkan secara resmi.

Pada 22 April pagi, terjadi insiden penikaman acak di Lapangan Rekreasi Zhongyuan, Kabupaten Boluo, Kota Huizhou, Provinsi Guangdong. Menurut warga setempat, seorang pria menusuk 5 orang secara beruntun, mengakibatkan 1 orang meninggal dunia dan 4 orang mengalami luka berat. Otoritas setempat menutup akses informasi terkait kasus tersebut. Wartawan Epoch Times mengonfirmasi kebenaran kejadian ini melalui wawancara dengan warga setempat.

Memasuki Mei, tragedi serupa terjadi tanpa henti. Kota Chengdu, Liuzhou, Wenzhou, Luoyang, dan Luchuan berturut-turut mengalami insiden tabrak lari terhadap pejalan kaki, penikaman, serta berbagai tindak kekerasan dan pembunuhan tanpa pandang bulu.

Salah satu kasus terjadi di Kota Wushi, Kabupaten Luchuan, Guangxi, pada 22 Mei, ketika seorang pria menyerang dan menikam polisi di jalan raya. Menurut laporan resmi, total 7 orang, termasuk polisi dan warga sipil, mengalami luka-luka. Namun, warga setempat mengungkapkan bahwa sebenarnya terdapat 2 orang tewas dan 6 orang terluka. Mereka juga menyebutkan bahwa motif pelaku adalah balas dendam karena menyimpan dendam lama terhadap polisi lalu lintas.

Dipublikasi ulang  dari The Epoch Times / Editor Yue Yuan

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine