Senjakala Sang Pialang Kuasa: Kejatuhan ‘Empat Jenderal’ dan Pengepungan Terhadap Wang Qishan

EtIndonesia.com– Di balik tembok-tembok tinggi Zhongnanhai, sebuah drama politik besar sedang mencapai babak akhir yang dingin. Kabar singkat yang dirilis oleh Komisi Pusat Inspeksi Disiplin (CCDI) pada 2 Juni lalu mungkin hanya berisi puluhan kata, namun bagi para pengamat politik Tiongkok, maknanya sangat masif. Li Xiaohong, mantan Direktur Kantor Kelompok Pimpinan Pusat untuk Pekerjaan Inspeksi, resmi dinyatakan jatuh akibat “pelanggaran disiplin dan hukum yang serius”.

Li Xiaohong bukanlah figur sembarangan. Ia adalah “jenderal” terakhir dari empat orang kepercayaan paling inti milik Wang Qishan—mantan Wakil Presiden Tiongkok yang pernah dijuluki sebagai “Raja Sejajar” (Parallel King) karena pengaruhnya yang luar biasa besar di samping Xi Jinping,. Dengan jatuhnya Li, seluruh tulang punggung dari apa yang disebut sebagai “Pasukan Keluarga Wang” kini telah habis dikikis habis oleh mesin kekuasaan yang dulu mereka bantu bangun.

Akhir dari ‘Empat Penjaga’

Kejatuhan Li Xiaohong menyusul tiga orang kepercayaan Wang lainnya yang telah lebih dulu dijaring. Hanya dua bulan sebelumnya, pada 24 Maret 2026, Zhou Liang, Wakil Direktur Administrasi Pengawasan Keuangan Nasional, juga jatuh secara tiba-tiba. Sebelum mereka, Dong Hong dan Tian Huiyu—dua sosok yang telah mengikuti Wang sejak kariernya di Guangdong dan sektor perbankan—sudah lebih dulu dijatuhi hukuman mati dengan penangguhan,.

Narator kanal YouTube 新聞最嘲點 Mr.姜光宇, Jiang Guangyu, menyoroti betapa krusialnya peran Li Xiaohong bagi Wang Qishan. “Li Xiaohong adalah mata pisau paling tajam dari pisau CCDI. Ia adalah sosok yang paling diandalkan Wang untuk memegang kendali atas birokrasi inspeksi,” ujar Jiang dalam videonya.

Dong Hong, yang mengikuti Wang dari Guangdong, Hainan, hingga Beijing, adalah “bayangan” sang pialang kuasa. Tian Huiyu adalah tangan kanannya di China Construction Bank yang kemudian mengelola China Merchants Bank,. Sementara Zhou Liang, yang telah mengabdi selama 20 tahun, pernah menduduki posisi strategis sebagai Kepala Departemen Organisasi di CCDI,.

Jatuhnya keempat orang ini menandai keberhasilan strategi “memotong pinggiran rok” (cutting the skirt edges) yang diterapkan untuk mengisolasi Wang Qishan. “Inti dari Pasukan Keluarga Wang telah sepenuhnya dihancurkan dalam pembersihan yang ditargetkan secara presisi,” jelas Jiang.

Persahabatan Satu Selimut di Liangjiahe

Ironi dari pengepungan terhadap Wang Qishan terletak pada sejarah panjang hubungannya dengan Xi Jinping. Akar kekuasaan mereka bermula dari tanah kuning Shaanxi yang gersang pada tahun 1969, di tengah hiruk-pikuk Revolusi Kebudayaan,.

Saat itu, Xi Jinping yang ayahnya sedang dikucilkan, dikirim ke desa Liangjiahe, sementara Wang Qishan berada di komune tetangga. Dalam sebuah malam di gua tempat tinggal (yaodong) yang kumuh, keduanya pernah berbagi satu tempat tidur dan satu selimut yang sama, berbincang sepanjang malam tentang masa depan dan ekonomi. Wang bahkan meminjamkan buku-buku ekonomi langka miliknya kepada Xi.

Persahabatan “kawan seperjuangan” ini menjadi modal politik yang tak ternilai harganya. Ketika Xi naik ke puncak kekuasaan pada 2012, ia membutuhkan “pedang” yang paling tajam dan paling setia untuk membersihkan musuh-musuh politiknya. Ia memilih Wang Qishan untuk memimpin CCDI.

Sang Penjinak Api dan Algojo Politik

Sebelum menjadi algojo korupsi, Wang dikenal sebagai “Komandan Pasukan Pemadam Kebakaran” karena kemampuannya menyelesaikan krisis sistemik. Ia adalah sosok yang membereskan krisis utang Guangdong pada 1998 dengan tangan besi, menolak memberikan bailout pemerintah dan memaksa kreditur Barat melakukan likuidasi. Ia juga yang dipanggil untuk menangani wabah SARS di Beijing pada 2003 setelah walikota sebelumnya dicopot karena menutupi data.

Namun, tugas terbesarnya adalah saat menjabat sebagai Ketua CCDI. Wang mengubah lembaga yang tadinya dianggap sebagai “kantor air jernih” yang pasif menjadi mesin penggiling politik yang efisien dan ditakuti. Di bawah komandonya, slogan “Lebih baik bertemu Raja Neraka daripada bertemu si Tua Wang” bergema di seluruh kantor pemerintahan.

Ia membantu Xi meruntuhkan faksi-faksi besar yang tersisa dari era Jiang Zemin dan Hu Jintao, termasuk menjatuhkan tokoh-tokoh kuat seperti Zhou Yongkang, Bo Xilai, hingga Xu Caihou. “Wang Qishan melihat orang, dia bunuh orang; melihat hantu, dia bunuh hantu,” Jiang Guangyu menggambarkan betapa mengerikannya sepak terjang Wang saat itu.

Perjamuan Terakhir dan Firasat Buruk

Meskipun jasanya begitu besar dalam mengamankan takhta Xi, Wang Qishan tampaknya sudah merasakan bahwa “setelah kelinci habis diburu, anjing pemburu akan dimasak” (tu si gou peng),.

Sebuah kisah menarik diungkapkan oleh Jiang Guangyu mengenai sebuah jamuan makan malam pada Juli 2016, setahun sebelum Kongres Nasional ke-19. Wang mengumpulkan sekitar 20 bawahan paling setianya, termasuk empat orang yang kini telah jatuh. Di tengah pengaruh alkohol, Wang berkata dengan jujur:

“Hari ini mungkin adalah terakhir kalinya saya bertemu dan makan bersama kalian. Di masa depan, kemungkinan tidak akan ada kesempatan seperti ini lagi. Saya sudah tua, tidak lagi mampu memegang payung untuk melindungi kalian dari hujan. Kalian semua, carilah jalan masing-masing dan berusahalah yang terbaik untuk diri sendiri.”

Prediksi Wang terbukti. Setelah Kongres ke-19, meskipun ia diberi jabatan seremonial sebagai Wakil Presiden dan dijuluki “Anggota Komite Tetap Kedelapan”, hubungan sekutu politik antara keduanya mulai retak. Dalam logika otokrasi, tidak boleh ada pusat kekuasaan kedua, terutama seseorang yang memiliki prestise internasional setinggi Wang. Wang bahkan mulai merendahkan diri dengan menyebut dirinya hanya sebagai “pembawa acara” (baomuyuan) bagi Xi di kancah internasional.

Pengepungan yang Dingin

Pembersihan sistematis dimulai pada tahun 2020 dengan penangkapan konglomerat properti Ren Zhiqiang, sahabat karib Wang sejak masa sekolah. Ren dihukum 18 tahun penjara setelah menulis kritik pedas yang menyindir Xi sebagai “badut yang telanjang namun tetap ingin menjadi kaisar”.

Hukuman berat bagi Ren adalah pesan langsung bagi Wang. Tak lama kemudian, satu per satu “Empat Jenderal” Wang ditangkap. Dimulai dari Dong Hong pada Oktober 2020, disusul Tian Huiyu pada 2022, lalu Zhou Liang dan Li Xiaohong di tahun 2026 ini,,.

Kini, Wang Qishan yang telah mendekati usia 80 tahun, hidup dalam kesunyian yang diawasi ketat. Tanpa anak atau keturunan yang bisa meneruskan pengaruhnya, ia menjadi sosok tua yang terisolasi di sebuah halaman rumah tradisional (siheyuan) di Beijing,.

Ramalan ‘Tie Ban Tu’ dan Akhir Sebuah Era

Kejatuhan faksi Wang Qishan juga dikaitkan oleh sebagian pihak dengan ramalan kuno “Tie Ban Tu” (Gambar Pelat Besi). Ramalan tersebut menggambarkan lima ekor burung yang terbang menuju gunung; empat burung hitam berhasil terbang melaluinya, namun burung kelima, yang memiliki bulu putih, menabrak gunung dan tewas bersimbah darah.

Secara etimologi, karakter Mandarin untuk “Xi” (習) terdiri dari dua bagian yang bermakna “bulu putih” (白羽). Ada spekulasi bahwa “gunung” yang ditabrak oleh sang pemimpin terakhir adalah Wang Qishan—bukan dalam arti Wang akan menjatuhkan Xi, melainkan bahwa setelah Wang membantu Xi menyingkirkan semua hambatan dan mencapai kekuasaan absolut, Xi akan menjadi “pemimpin tunggal” yang akhirnya membawa kehancuran bagi dirinya sendiri.

Di penghujung laporannya, Jiang Guangyu merenungkan nasib sang pialang kuasa: “Mungkin di tengah malam yang sunyi, hakim berwajah besi yang dulu ditakuti ini akan teringat kembali pada lampu minyak kuning di gua Shaanxi tahun 1969. Apakah ia akan menyesal telah ikut mengasah mesin penggiling kekuasaan yang kini menelannya bulat-bulat?”.

Kisah Wang Qishan adalah pengingat keras tentang hukum besi politik Tiongkok: mereka yang membantu membangun alat penindasan seringkali berakhir menjadi korban dari alat tersebut. Seperti pepatah kuno, mereka yang mengasah pisau, akhirnya akan mati di bawah mata pisau itu sendiri. (***)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine