Menurut sebuah laporan yang mengutip analisis BBC, perbandingan berbagai citra satelit menunjukkan bahwa sejumlah fasilitas militer di seluruh Iran mengalami kerusakan berat akibat serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel. Laporan tersebut menyebutkan bahwa para ahli telah mengidentifikasi lebih dari 50 instalasi militer utama, termasuk pangkalan angkatan udara, pangkalan angkatan laut, dan fasilitas rudal balistik, yang mengalami kerusakan serius.
EtIndonesia.com Sejak pecahnya konflik di kawasan Teluk pada 28 Februari 2026, militer Amerika Serikat mengklaim telah melancarkan serangan udara intensif terhadap sekitar 13.000 target di wilayah Iran.
Disebutkan pula bahwa meskipun Pentagon sebelumnya meminta penyedia citra satelit Planet untuk membatasi pembaruan gambar di wilayah terkait, BBC menggunakan data historis dan citra dari penyedia satelit internasional lainnya untuk mengidentifikasi 51 lokasi militer Iran yang mengalami kerusakan parah. Lokasi-lokasi tersebut mencakup pangkalan udara, fasilitas angkatan laut, dan markas Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Berdasarkan citra yang dianalisis, kekuatan utama angkatan udara dan angkatan laut konvensional Iran disebut hampir lumpuh. Pada 7 Maret, serangan udara Amerika Serikat terhadap kawasan militer di Bandara Internasional Mehrabad dilaporkan menghancurkan sedikitnya 17 pesawat tempur. Kemudian, antara 2 hingga 17 April, sedikitnya 13 pesawat lainnya dikabarkan hancur di Pangkalan Udara Shiraz.
Selain itu, Pelabuhan Bandar Abbas, yang berfungsi sebagai markas besar angkatan laut Iran, serta beberapa pangkalan laut lainnya seperti Konarak, dilaporkan mengalami kerusakan parah. Sejumlah kapal dan bangunan administrasi juga disebut ikut rusak.
Para analis yang dikutip dalam laporan tersebut berpendapat bahwa Amerika Serikat kini telah menguasai wilayah udara Iran. Sebelumnya, Presiden Donald Trump juga pernah menyatakan secara terbuka bahwa militer AS telah “menghancurkan 100%” kekuatan angkatan laut dan angkatan udara Iran dari sisi militer.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa serangan udara tidak hanya menyasar fasilitas pertahanan, tetapi juga menargetkan struktur keamanan internal yang setia kepada pemerintahan Iran.
Markas besar Korps Garda Revolusi Islam dan pusat komando pasukan paramiliter Basij, yang bertugas menjaga keamanan dalam negeri dan menindak aksi oposisi, dilaporkan mengalami kerusakan berat. Selain itu, komandan angkatan laut IRGC, Jenderal Alireza Tangsiri, disebut tewas dalam operasi Israel pada akhir Maret.
Menurut analisis intelijen yang dikutip dalam laporan tersebut, serangan-serangan ini bertujuan melemahkan kemampuan aparat keamanan Iran sehingga dapat menciptakan kondisi yang mendukung perubahan politik dari dalam negeri.
Meski demikian, laporan tersebut menyatakan bahwa Iran masih memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan. Citra satelit terbaru dikabarkan menunjukkan bahwa selama masa gencatan senjata sementara yang rapuh, pemerintah Iran sedang melakukan perbaikan darurat pada setidaknya empat pangkalan rudal balistik bawah tanah.
Sebagai contoh, di Pangkalan Rudal Tabriz, puing-puing di jalan telah dibersihkan dan terowongan yang sebelumnya rusak akibat serangan udara sedang digali kembali. Di lokasi tersebut juga terlihat banyak kendaraan konstruksi dan alat berat.
Para pakar keamanan memperingatkan bahwa meskipun kekuatan militer konvensional Iran mungkin telah mengalami kerusakan besar, negara itu masih memiliki kemampuan perang asimetris yang signifikan.
Dengan mengandalkan drone bunuh diri berbiaya rendah dan armada kapal cepat berukuran kecil yang sering dijuluki “armada nyamuk” (mosquito fleet), Iran dinilai masih mampu menimbulkan ancaman serius terhadap kapal-kapal militer Amerika Serikat maupun pelayaran komersial internasional di Selat Hormuz.
Sumber : NTDTV.com


