Surabaya – Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global akibat konflik geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia, optimisme masyarakat Jawa Timur terhadap kondisi ekonomi masih tetap terjaga. Hal itu tercermin dari hasil Survei Konsumen Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur periode Mei 2026 yang menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tetap berada pada level optimistis.
Bank Indonesia mencatat IKK Jawa Timur pada Mei 2026 mencapai 122,6, meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan April 2026 yang berada pada level 126,2. Namun angka tersebut masih jauh di atas batas optimisme 100, yang menunjukkan mayoritas masyarakat Jawa Timur tetap yakin terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun prospeknya dalam enam bulan mendatang. Bahkan, capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan IKK nasional yang tercatat sebesar 120,9.
Penghasilan dan Lapangan Kerja Jadi Penopang Optimisme
Optimisme konsumen Jawa Timur terutama ditopang oleh persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini yang masih relatif baik. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat sebesar 116,2, sementara Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) berada di level 129,0. Keduanya masih menunjukkan zona optimistis meskipun mengalami moderasi dibanding bulan sebelumnya.
Dari sisi pendapatan, sebanyak 38,6 persen responden mengaku penghasilan mereka saat ini lebih tinggi dibandingkan enam bulan lalu. Kondisi tersebut didorong oleh adanya tambahan bonus atau insentif, kenaikan upah, serta meningkatnya permintaan terhadap barang dan jasa. Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) tercatat sebesar 121,2.
Sementara itu, 39,2 persen responden menilai peluang kerja saat ini lebih baik dibanding enam bulan sebelumnya. Mereka melihat kebijakan pemerintah dan meningkatnya aktivitas ekonomi mulai membuka lebih banyak kesempatan kerja. Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) tercatat sebesar 113,0.
Kondisi tersebut turut mendorong konsumsi masyarakat. Sekitar 30,7 persen responden menyatakan terjadi peningkatan pembelian barang tahan lama seperti elektronik, furnitur, dan kendaraan. Indeks Pembelian Durable Goods (IPDG) tercatat sebesar 114,3, mengindikasikan daya beli masyarakat masih cukup kuat.
Warga Optimistis Ekonomi Enam Bulan ke Depan
Meski ekonomi global masih dibayangi berbagai risiko, masyarakat Jawa Timur tetap memandang masa depan dengan optimistis.
Survei menunjukkan 44,8 persen responden meyakini kegiatan usaha enam bulan mendatang akan lebih baik dibanding saat ini. Optimisme tersebut didukung oleh kemudahan akses pembiayaan perbankan, inflasi yang terkendali, dan berlanjutnya pembangunan infrastruktur. Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha (IEKU) tercatat sebesar 126,3.
Selain itu, 45,7 persen responden memperkirakan penghasilan mereka akan meningkat dalam enam bulan ke depan. Harapan adanya kenaikan gaji, tambahan pendapatan, dan peningkatan omzet usaha menjadi faktor utama yang menopang optimisme tersebut. Indeks Ekspektasi Penghasilan (IEP) mencapai 133,9.
Optimisme serupa juga terlihat pada sektor ketenagakerjaan. Sebanyak 44,9 persen responden percaya peluang kerja akan semakin terbuka dalam enam bulan mendatang, terutama karena berlanjutnya proyek-proyek pemerintah dan swasta. Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja (IEKLK) tercatat sebesar 126,9.
Bank Indonesia menilai hasil tersebut menunjukkan masyarakat masih percaya terhadap prospek ekonomi Jawa Timur, meskipun perkembangan global seperti eskalasi konflik di Timur Tengah tetap perlu diwaspadai karena berpotensi memengaruhi sentimen ekonomi dan daya beli masyarakat.
Jember dan Kediri Jadi Motor Optimisme
Secara wilayah, optimisme masyarakat tidak merata. Survei menunjukkan Kabupaten Jember dan Kota Kediri menjadi daerah dengan peningkatan keyakinan konsumen paling kuat pada Mei 2026.
Kabupaten Jember mencatat IKK tertinggi sebesar 146,8, meningkat dibanding bulan sebelumnya yang berada di angka 138,0. Sementara Kota Kediri mencatat IKK sebesar 127,8, naik dari 119,5 pada April 2026.
Sebaliknya, Kota Surabaya dan Kota Malang mengalami moderasi meskipun masih berada pada zona optimistis. IKK Surabaya tercatat sebesar 115,5, sedangkan Kota Malang sebesar 134,5.
Menurut Bank Indonesia, penguatan optimisme di Jember dan Kediri dipengaruhi oleh membaiknya persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi ekonomi ke depan.
Konsumsi Naik, Tabungan Mulai Menyusut
Laporan survei juga menunjukkan adanya perubahan perilaku keuangan rumah tangga. Masyarakat cenderung meningkatkan alokasi pendapatan untuk konsumsi dan pembayaran kewajiban finansial, sementara porsi tabungan mengalami penurunan. Meski demikian, tingkat tabungan masih relatif terjaga sehingga ketahanan keuangan rumah tangga dinilai tetap cukup baik.
Fenomena ini menunjukkan masyarakat mulai lebih percaya diri dalam membelanjakan uang mereka seiring membaiknya kondisi ekonomi dan meningkatnya harapan terhadap pendapatan di masa mendatang.
Tantangan Global Masih Membayangi
Meski optimisme konsumen tetap kuat, Bank Indonesia mengingatkan bahwa sejumlah risiko eksternal masih perlu diwaspadai. Konflik geopolitik di Timur Tengah, tingginya harga energi, dan ketidakpastian kebijakan suku bunga global berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi, investasi, serta sentimen konsumen di Indonesia.
Namun secara keseluruhan, hasil survei Mei 2026 memberikan sinyal positif bahwa masyarakat Jawa Timur masih memiliki keyakinan yang tinggi terhadap kondisi ekonomi daerah. Kuatnya persepsi terhadap pendapatan, peluang kerja, dan prospek usaha menjadi modal penting bagi Jawa Timur untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan global yang belum sepenuhnya mereda.


