AS Tambah Pasukan ke Timur Tengah, Dua Kelompok Ekspedisi Marinir Dikerahkan untuk Mengawasi Selat Hormuz

EtIndonesia.com Situasi di Timur Tengah kembali menjadi sorotan. Di tengah berlangsungnya masa pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, militer Amerika Serikat mengirimkan kelompok ekspedisi marinir kedua ke kawasan tersebut untuk bergabung dengan pasukan yang telah lebih dahulu ditempatkan, sehingga semakin meningkatkan tekanan militer terhadap Iran. Sementara itu, ketidakhadiran putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, dalam upacara pemakaman kembali memicu spekulasi mengenai keberadaan dan kondisi dirinya.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) sebelumnya mengumumkan bahwa kapal-kapal yang membawa Kelompok Ekspedisi Marinir (Marine Expeditionary Unit/MEU) kedua kini telah beroperasi di kawasan Timur Tengah.

Penempatan terbaru ini bergabung dengan kekuatan Korps Marinir AS yang telah berada di kawasan sejak akhir Maret, termasuk kapal serbu amfibi USS Tripoli, sehingga semakin memperkuat dominasi angkatan laut Amerika di wilayah tersebut.

Mantan pejabat intelijen Amerika Serikat memperingatkan bahwa meskipun AS telah menghancurkan sebagian besar kemampuan militer Iran, Teheran masih memiliki kemampuan untuk mengancam Selat Hormuz.

“Kami telah menghancurkan sebagian besar rudal dan pesawat nirawak Iran. Namun mereka masih memiliki kemampuan perang asimetris yang cukup besar, termasuk armada kapal cepat berukuran kecil yang menggunakan taktik ‘gerombolan nyamuk’, ranjau laut, serta sebagian rudal dan drone yang masih mampu menimbulkan gangguan bagi kami di Selat Hormuz,” kata Mantan Kepala Stasiun Luar Negeri CIA, Dan Hoffman. 

Marinir AS dari Satuan Serangan Maritim, Unit Ekspedisi Marinir ke-31, turun menggunakan tali dari helikopter MH-60S Sea Hawk, yang ditugaskan ke Skuadron Helikopter Tempur Laut (HSC) 25, selama pelatihan pemeliharaan helikopter dan tali di atas kapal serbu amfibi USS Tripoli (LHA 7) yang ditempatkan di garis depan di wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS, 8 Mei 2026. Tripoli ditempatkan di wilayah operasi Armada ke-5 AS untuk mendukung keamanan dan stabilitas maritim di Timur Tengah (U.S. Marine Corps photo)

Pada saat yang sama, beredar informasi bahwa Iran dan Oman telah mengajukan proposal kepada Amerika Serikat mengenai pengelolaan bersama Selat Hormuz. Proposal tersebut mencakup rencana agar kedua negara Timur Tengah itu bersama-sama memungut biaya bagi kapal yang melintasi selat tersebut. Namun rincian proposal tersebut masih belum jelas.

Menurut laporan Axios, dalam perundingan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran sebelumnya, menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner, bersama Utusan Khusus Gedung Putih Steve Witkoff, berupaya keras membujuk Teheran agar membatalkan rencana pengenaan biaya transit di Selat Hormuz. Mereka menilai kebijakan tersebut dapat menggagalkan kesepakatan ekonomi yang nilainya jauh lebih besar.

Sejumlah sumber yang mengetahui proses negosiasi menilai bahwa apabila Amerika Serikat secara bertahap mencabut sanksi terhadap Iran, Teheran akan memperoleh keuntungan yang jauh lebih besar melalui pengembangan dan ekspor minyak serta sumber daya lainnya dibandingkan dengan memungut biaya transit kapal di Selat Hormuz.

Korps Marinir AS. Foto: Diambil dari Facebook Korps Marinir AS

Berdasarkan pernyataan Kementerian Luar Negeri Pakistan, semua pihak telah sepakat untuk melanjutkan proses perundingan. Pernyataan itu juga mengungkapkan bahwa putaran negosiasi berikutnya diperkirakan akan segera digelar setelah proses pemakaman mantan pemimpin Iran selesai.

Menjelang libur Hari Kemerdekaan Amerika Serikat, sejumlah laporan menyebutkan bahwa Washington dan Teheran telah mencapai kesepahaman sementara untuk memastikan situasi di Selat Hormuz tidak kembali memanas dalam waktu dekat. 

Namun para pengamat khawatir kondisi ini justru menunjukkan bahwa konflik baru masih berpotensi pecah sewaktu-waktu. Mereka menilai kemungkinan gagalnya kesepakatan awal bahkan lebih besar dibandingkan peluang tercapainya perjanjian akhir.

Di sisi lain, media Iran melaporkan bahwa Panglima Garda Revolusi Iran, Vahidi, terlihat menghadiri upacara pemakaman Khamenei. Namun Mojtaba Khamenei, yang disebut dalam laporan ini sebagai pemimpin tertinggi Iran saat ini sekaligus putra Ali Khamenei, tidak tampil di hadapan publik. Ketidakhadirannya kembali memicu berbagai spekulasi mengenai apakah ia masih hidup dan di mana keberadaannya.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pernah menyatakan bahwa Mojtaba Khamenei juga merupakan salah satu target utama yang ingin dieliminasi.

Karena khawatir terhadap kemungkinan serangan, Garda Revolusi Iran meningkatkan pengamanan secara besar-besaran menjelang upacara pemakaman guna mencegah aksi dari pihak musuh. 

Pemerintah di Teheran juga berencana menutup sepenuhnya wilayah udara negara itu pada hari Senin mendatang untuk menghindari kemungkinan serangan presisi dari Amerika Serikat maupun Israel selama berlangsungnya prosesi pemakaman.

Artikel ini sebelumnya terbit dalam bahasa mandarin di NTDTV.com  

INSPIRASI ERABARU

Ketahui Jalan Kehidupan yang Dapat Menyelamatkan Anda dari Kesalahan yang Memakan Waktu Puluhan Tahun

Sebagian besar jalan memutar dalam hidup bukan disebabkan oleh kurangnya kemampuan, melainkan oleh kesalahan penilaian kecil yang dilakukan berulang kali. Apa yang akan dibahas berikut...

Rahasia Membangun Kekayaan: Pelajaran dari Tiga Tokoh Besar dalam Sejarah Tiongkok

Kerja keras dapat menopang kehidupan. Namun, kerja keras jarang menghasilkan kekayaan atau harta besar dengan sendirinya. Perbedaan antara sekadar mencari nafkah dan membangun kekayaan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine