Ahmed Al-Sharaa juga telah menjalin hubungan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dan tahun lalu pemerintahannya bergabung dengan koalisi pimpinan AS untuk memerangi ISIS.
EtIndonesia.com Presiden Prancis Emmanuel Macron menjadi pemimpin pertama dari Uni Eropa yang mengunjungi Suriah sejak kelompok militan yang dipimpin Presiden Suriah saat ini, Ahmed al-Sharaa, menggulingkan Bashar al-Assad dan mengakhiri rezim Partai Ba’ath.
Macron tiba di Suriah pada 6 Juli dan disambut oleh Menteri Luar Negeri Asaad Al-Shaibani. Keesokan harinya, ia mengadakan pertemuan dengan al-Sharaa.
Seorang pejabat Kepresidenan Prancis mengatakan kepada wartawan sebelum kunjungan tersebut bahwa rekonstruksi Suriah akan menjadi tema utama pembicaraan. Ia menambahkan bahwa sejumlah pemimpin bisnis, termasuk CEO TotalEnergies dan perusahaan pelayaran kontainer CMA CGM, turut mendampingi Macron.
“Saya datang untuk menyatakan komitmen Prancis kepada rakyat Suriah,” tulis Macron dalam unggahannya di platform X pada Senin. “Untuk Suriah yang berdaulat, bersatu dalam keberagamannya, dan hidup damai dengan para tetangganya. Bersama-sama, mari kita membuka babak baru stabilitas dan perdamaian.”
Pemimpin Suriah itu sebelumnya bertemu Macron di Prancis tahun lalu dalam kunjungan pertamanya ke negara Eropa sejak berkuasa pada akhir 2024. Suriah saat itu masih dikenai sanksi Barat, dan Macron menjadi salah satu pemimpin yang paling aktif menyerukan pencabutan sanksi tersebut—yang sebagian besar akhirnya dicabut pada 2025.
Al-Sharaa juga telah menjalin hubungan dengan Presiden AS Donald Trump. Tahun lalu, pemerintahannya bergabung dengan koalisi pimpinan Amerika Serikat untuk memerangi ISIS.
Kemitraan Bisnis
Kantor Macron menyatakan bahwa CMA CGM telah menandatangani perjanjian kemitraan dengan Suriah, yang mencakup pengelolaan layanan kargo udara di Bandara Internasional Damaskus.
Pada Mei lalu, CMA CGM juga menandatangani kontrak dengan pemerintah Damaskus untuk mengoperasikan dua pelabuhan darat (dry port) di negara tersebut.
Direktur Utama TotalEnergies, Patrick Pouyanne, mengatakan kepada wartawan bahwa pada 7 Juli ia akan bertemu dengan Syrian Petroleum Company guna membahas penandatanganan kontrak eksplorasi lepas pantai di Laut Mediterania.
“Wilayah lepas pantai Suriah secara historis belum pernah benar-benar dieksplorasi. Karena itu, kami telah bermitra dengan sejumlah perusahaan lain untuk menelitinya. Hari ini kami akan membahasnya dengan mitra Suriah kami untuk melihat apakah kami dapat melangkah menuju penandatanganan kontrak,” kata Pouyanne.
“Tentu saja kami lebih berharap menemukan minyak daripada gas, tetapi di Mediterania Timur, sebagian besar penemuan sejauh ini—misalnya di Siprus dan Israel—adalah gas.”
Suriah berpotensi menjadi wilayah yang memiliki arti strategis bagi transportasi minyak. TotalEnergies baru-baru ini menyoroti perlunya pembangunan jaringan pipa yang melintasi Suriah sebagai jalur alternatif selain Selat Hormuz, menyusul aksi militer Amerika Serikat terhadap Iran.
Pada 7 Juli, Pouyanne juga kembali menegaskan bahwa Suriah kini telah menjadi jalur penting untuk pengangkutan minyak dari Irak.
Reuters turut berkontribusi dalam laporan ini.


