EtIndonesia.com Ketika presiden Prancis Emmanuel Macron berada di Damaskus, dua bom meledak di ibu kota Suriah tersebut pada Selasa (7/6/2026). Namun, para pejabat Prancis mengatakan bahwa Macron tidak mendengar ledakan tersebut dan tetap melanjutkan agenda pertemuannya dengan Ahmed al-Sharaa sesuai jadwal.
Kementerian Dalam Negeri Suriah menyatakan bahwa pasukan keamanan telah mengidentifikasi dua alat peledak yang dipasang di dekat Kementerian Pariwisata.
Satu alat peledak ditempatkan di dalam tempat sampah, sementara yang lainnya berada di dalam sebuah mobil yang diparkir di tepi jalan.
Kedua bom itu dipasang di luar perimeter pengamanan tempat Presiden Prancis menginap, tetapi kementerian tersebut menegaskan bahwa alat peledak itu tidak menimbulkan ancaman terhadap Macron.
Ledakan itu menyebabkan sebanyak 18 orang terluka.
Pasukan Keamanan Suriah menggambarkan bom-bom itu sebagai rakitan sederhana dan sedang bersiap menjinakkannya ketika alat peledak tersebut meledak.
Hingga saat ini belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.
Kementerian Dalam Negeri Suriah mengatakan bahwa aparat keamanan telah melancarkan operasi untuk mengidentifikasi pelaku di balik aksi itu.
Beberapa jam setelah ledakan terjadi, Macron menulis di platform X bahwa “tidak ada yang dapat membungkam harapan rakyat Suriah untuk hidup di Suriah yang sepenuhnya berdaulat, aman, pluralistis, dan bersatu.”
“Pagi ini saya bertemu dengan Suriah dalam seluruh keberagamannya. Saya melihat martabat, keberanian, dan tekad. Kunjungan saya terus berlanjut,” tulisnya.


