EtIndonesia.com Kebakaran yang terjadi pada 9 Juli di Pabrik Sepatu Huiteng (Huiteng Shoes Co., Ltd.) di Desa Jiangtou, Kota Chendai, Jinjiang, Quanzhou, Provinsi Fujian, menewaskan 28 orang, menurut data resmi pemerintah Tiongkok.
Insiden ini memicu pertanyaan publik mengenai dugaan minimnya fasilitas pencegahan kebakaran dan lemahnya pengawasan keselamatan. Setelah kejadian tersebut, informasi mengenai perusahaan juga mulai beredar di internet, termasuk data yang menunjukkan bahwa dari lebih dari 1.000 karyawan yang diklaim dimiliki perusahaan, hanya 12 orang yang tercatat mengikuti asuransi sosial.
Pabrik memiliki lebih dari 1.000 pekerja, tetapi hanya 12 peserta asuransi sosial
Menurut laporan CCTV (televisi pemerintah Tiongkok), saat kebakaran terjadi terdapat 237 karyawan perusahaan dan 2 orang dari luar perusahaan berada di dalam gedung.
Kebakaran tersebut mengakibatkan 28 orang meninggal dunia, sementara penanggung jawab perusahaan telah diamankan oleh kepolisian.
Berdasarkan data dari platform informasi perusahaan Tianyancha, Fujian Huiteng Shoes Co., Ltd. didirikan pada Februari 2015 dengan:
- modal terdaftar sebesar 10 juta yuan;
- modal yang telah disetor sebesar 6 juta yuan.
Pemegang saham utamanya adalah:
- Lai Yuping (65%);
- Lai Xiuque (30%);
- Ding Jingshan (5%).
Perusahaan bergerak di bidang:
- produksi sepatu;
- produksi pakaian;
- grosir dan ritel sepatu serta topi.
Meskipun perusahaan mempromosikan diri sebagai memiliki lebih dari 1.000 karyawan, data Tianyancha menunjukkan bahwa pada tahun 2025 hanya 12 orang yang tercatat sebagai peserta asuransi sosial perusahaan.
Warganet: Mayoritas pekerja hanyalah buruh sementara
Seorang warganet berkomentar: “Hanya segelintir pegawai inti dan manajemen yang mendapatkan jaminan sosial. Ratusan pekerja di lini produksi lainnya hanyalah ‘buruh sementara’, ‘buruh borongan’, atau pekerja fleksibel.”
Seorang warganet yang mengaku mengetahui kondisi setempat mengatakan bahwa bukan hanya pabrik yang mengalami kebakaran tersebut.
Menurutnya, di banyak pabrik sepatu lain di Jinjiang:
- pekerja bekerja 13–14 jam setiap hari;
- tidak memperoleh jaminan pensiun;
- tidak memiliki asuransi kesehatan;
- tidak mendapatkan perlindungan kecelakaan kerja;
- kartu identitas mereka sering ditahan oleh pemilik pabrik;
- upah baru dibayarkan setiap enam bulan sekali.
Jinjiang dikenal sebagai “Kota Sepatu Tiongkok”
Jinjiang dijuluki sebagai “Kota Sepatu Tiongkok” karena memiliki sangat banyak pabrik sepatu.
Media Tiongkok sebelumnya pernah melaporkan bahwa satu dari setiap lima pasang sepatu olahraga di dunia diproduksi di Chendai, Jinjiang.
Menurut platform informasi perusahaan Qichacha, pelanggan pabrik yang terbakar tersebut mencakup sejumlah merek internasional, antara lain:
- Slazenger (Inggris);
- HI-TEC (Inggris);
- BEPPI (Portugal).
Produk-produknya terutama diekspor ke:
- Prancis;
- Inggris;
- Jerman;
- Amerika Serikat;
- Australia;
- Jepang.
Warganet: Tidak peduli kesejahteraan pekerja, juga tidak peduli keselamatan
Sejumlah warganet memberikan komentar: “Sebagian besar perusahaan masih menggunakan pola lama: tidak menandatangani kontrak kerja dan tidak membayar asuransi sosial.”
“Ada penelitian terhadap sebuah pabrik garmen di Jinjiang yang memiliki lebih dari 200 pekerja. Hanya 45 orang yang didaftarkan dalam asuransi sosial, sedangkan sisanya adalah buruh borongan sementara.”
“Kalau sebuah pabrik tidak peduli pada kesejahteraan pekerjanya, kemungkinan besar juga tidak peduli terhadap keselamatan kerja. Kecelakaan besar hanya tinggal menunggu waktu.”
Kebakaran serupa pernah terjadi pada tahun 2020
Pada 8 Agustus 2020, sebuah pabrik di Desa Xiban, Chendai, Jinjiang, juga mengalami kebakaran.
Menurut laporan resmi saat itu, kebakaran dipicu oleh:
- penyimpanan bahan mudah terbakar yang melanggar aturan;
- lorong yang dipenuhi barang-barang;
- jalur evakuasi yang tertutup.
Akibatnya para pekerja tidak dapat melarikan diri dengan aman, dan 8 orang meninggal dunia.
Kritik masyarakat
Warganet mengkritik bahwa kecelakaan seperti ini terus berulang.
Beberapa komentar di antaranya: “Setiap tahun selalu terjadi kecelakaan seperti ini. Prosesnya selalu sama: diselidiki, diberi peringatan, lalu beberapa waktu kemudian terulang lagi.”
“Sebenarnya lingkungan kerja di pabrik-pabrik seperti ini memang sudah lama sangat buruk. Hanya saja para pekerja lapisan bawah di berbagai pabrik jarang mendapat perhatian.”
Dilaporkan oleh Li Li / Diedit oleh Li Qian


