EtIndonesia.com Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) pada Sabtu (11 Juli) menyatakan bahwa setelah Iran melakukan “serangan terang-terangan” terhadap sebuah kapal dagang, Amerika Serikat telah melancarkan gelombang baru serangan militer ke Iran.
Pada saat yang sama, Menteri Luar Negeri Iran telah bertolak ke Oman untuk membahas situasi kawasan. Sementara itu, Amerika Serikat memilih tidak mengirim delegasinya secara langsung, melainkan menggunakan negara-negara mediator seperti Qatar dan Pakistan untuk menyampaikan pesan secara tidak langsung dan melakukan koordinasi melalui pertemuan daring.
AS melancarkan serangan udara putaran ketiga pekan ini
Menurut berbagai laporan media, CENTCOM mengeluarkan pernyataan bahwa setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melakukan serangan terhadap sebuah kapal dagang berbendera Siprus yang sedang melintasi Selat Hormuz, militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara putaran ketiga terhadap Iran pada pekan ini.
Serangan dimulai pada 11 Juli pukul 19.15 waktu Pantai Timur Amerika Serikat (23.15 GMT).
Dalam pernyataan yang diunggah melalui platform X, CENTCOM mengatakan bahwa serangan Iran terhadap kapal dagang tersebut menyebabkan:
- satu awak kapal sipil dinyatakan hilang;
- kapal mengalami kebakaran;
- ruang mesin mengalami kerusakan berat;
- kapal kehilangan tenaga dan tidak dapat melanjutkan pelayaran.
CENTCOM menyatakan bahwa operasi militer AS bertujuan untuk terus melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang awak kapal sipil dan kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz, serta membuat Iran menanggung konsekuensi yang berat.
Pernyataan tersebut juga menambahkan bahwa serangan dilakukan atas instruksi Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Menteri Pertahanan AS: Iran harus menanggung akibatnya
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth secara singkat mengatakan kepada media: “Iran telah membuat pilihan yang buruk, dan sekarang mereka harus menanggung akibatnya.”
IRGC mengancam menutup Selat Hormuz
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan akan menutup Selat Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa sebelumnya IRGC telah melepaskan tembakan peringatan ke arah sebuah kapal yang disebut berlayar melalui jalur yang tidak diizinkan.
Perundingan AS-Iran semakin sulit
Aksi saling serang antara kedua pihak diperkirakan akan semakin mempersulit upaya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran.
Menurut laporan, hambatan terbesar untuk mencapai kesepakatan akhir saat ini adalah masa depan pengelolaan Selat Hormuz.
- Iran bersikeras ingin mengendalikan hak pengaturan pelayaran di selat tersebut.
- Amerika Serikat menuntut agar kebebasan bernavigasi tetap dipertahankan.
Pihak Amerika menyatakan bahwa Iran telah melanggar kesepakatan dengan berulang kali menembaki kapal-kapal dagang di Selat Hormuz, sehingga menimbulkan keraguan terhadap kesungguhan maupun kemampuan Iran dalam menjalankan perundingan mengenai program nuklirnya.
Araghchi berkunjung ke Oman
Pada Jumat (10 Juli), Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa setelah Iran mengajukan permintaan untuk berunding, Amerika Serikat telah menyetujuinya.
Namun, Trump juga menegaskan bahwa perjanjian gencatan senjata yang dicapai kedua negara pada Juni telah berakhir.
Sementara itu, pada Sabtu (11 Juli), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tiba di Oman untuk membahas:
- hubungan bilateral;
- perkembangan situasi regional;
- serta isu Selat Hormuz.
Di sisi lain, Amerika Serikat membatalkan pengiriman delegasinya secara langsung dan memilih menggunakan Qatar serta Pakistan sebagai negara mediator untuk menyampaikan pesan secara tidak langsung dan melakukan koordinasi jarak jauh dengan perwakilan Iran di Oman. (***)


