EtIndonesia.com — Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki babak yang semakin intens. Pada Senin malam, 21 Juli 2026 waktu Pantai Timur Amerika Serikat (Eastern Daylight Time/EDT), militer Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan udara ke-11 terhadap berbagai sasaran militer di Iran.
Serangan yang berlangsung hingga dini hari waktu Iran tersebut kembali mengguncang ibu kota Teheran melalui beberapa gelombang pemboman. Hingga laporan terakhir, sedikitnya 10 hingga 12 lokasi strategis di berbagai wilayah Iran dilaporkan menjadi sasaran serangan atau mengalami ledakan, termasuk sejumlah pangkalan militer, pusat logistik, serta fasilitas pertahanan yang dinilai memiliki nilai strategis tinggi.
Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa operasi tersebut secara khusus difokuskan pada target-target militer. Washington menyatakan tujuan utamanya adalah terus mengikis kemampuan Iran dalam mengancam jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak dan energi terpenting di dunia.
Di tengah meningkatnya operasi militer tersebut, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth juga mengungkapkan bahwa menurut penilaian Washington, Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan Rusia telah memberikan berbagai bentuk dukungan kepada Iran selama konflik berlangsung.
Teheran Diguncang Serangan Beruntun Sejak Dini Hari
Serangan udara kembali menghantam Iran pada Rabu dini hari, 22 Juli 2026, sekitar pukul 03.30 waktu setempat.
Menurut laporan Televisi Nasional Iran, sistem pertahanan udara di berbagai wilayah Teheran langsung diaktifkan secara intensif menyusul rentetan ledakan yang terdengar hampir tanpa henti.
Aktivitas pertahanan udara dilaporkan berlangsung di sejumlah kawasan ibu kota, meliputi:
- Teheran bagian barat;
- Teheran bagian timur;
- serta Teheran bagian timur laut.
Selain Teheran, sejumlah wilayah lain di Iran juga dilaporkan menjadi sasaran serangan maupun mengalami ledakan. Di antaranya:
- Tabriz;
- Kompleks Militer Parchin;
- Mahshahr;
- Bandar Abbas;
- Pardis;
- Chabahar;
- Behbahan;
- Kabupaten Kangavar;
- Provinsi Bushehr;
- serta beberapa lokasi strategis lainnya.
Secara keseluruhan, sedikitnya 12 kawasan dilaporkan mengalami serangan udara atau ledakan dalam rentang waktu yang hampir bersamaan.
Skala operasi tersebut menunjukkan bahwa Amerika Serikat masih mempertahankan tekanan militer tinggi terhadap infrastruktur pertahanan Iran setelah lebih dari sepuluh gelombang serangan dilancarkan dalam beberapa pekan terakhir.
Kebakaran Besar Terjadi Setelah Pangkalan Militer Diserang
Salah satu dampak paling signifikan dari serangan terbaru terjadi di kota Behbahan, ketika sebuah pangkalan militer dilaporkan terkena serangan dan memicu kebakaran besar yang membakar sebagian fasilitas di kawasan tersebut.
Sementara itu, sejumlah kota strategis lain juga melaporkan adanya ledakan pada malam sebelumnya, antara lain:
- Bandar Abbas;
- Chabahar;
- Tabriz;
- Kangavar.
Namun demikian, hingga kini penyebab pasti seluruh ledakan tersebut masih belum dapat dipastikan.
Sejumlah analis keamanan menilai sebagian ledakan kemungkinan merupakan dampak langsung dari serangan udara Amerika Serikat. Namun tidak tertutup kemungkinan bahwa beberapa di antaranya terjadi akibat aktivitas peluncuran rudal atau ledakan internal yang berkaitan dengan operasi militer Iran sendiri.
Oleh karena itu, penyebab pasti setiap insiden masih menunggu verifikasi lebih lanjut dari berbagai sumber independen.
CENTCOM: Infrastruktur Militer Iran Menjadi Sasaran Utama
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menjelaskan bahwa operasi terbaru tetap difokuskan pada penghancuran berbagai fasilitas yang dinilai berperan penting dalam mendukung kemampuan tempur Iran.
Target operasi meliputi:
- pusat operasi dan komando militer;
- fasilitas maritim;
- hanggar pesawat militer;
- gudang penyimpanan pesawat nirawak (drone);
- pusat logistik militer;
- serta berbagai infrastruktur pendukung operasi militer lainnya.
Menurut CENTCOM, penghancuran fasilitas-fasilitas tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang Amerika Serikat untuk terus menurunkan kemampuan Iran dalam menjalankan operasi militer maupun mengganggu jalur pelayaran internasional di kawasan Teluk Persia.
Washington menilai bahwa semakin besar kerusakan terhadap infrastruktur militer Iran, semakin terbatas pula kemampuan Teheran dalam melancarkan serangan lanjutan terhadap kepentingan Amerika Serikat maupun negara-negara sekutunya.
Pete Hegseth: Rusia dan Tiongkok Membantu Iran
Pada Senin, 21 Juli 2026 (EDT), Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth memberikan kesaksian dalam sidang Komite Alokasi Anggaran Senat Amerika Serikat.
Dalam keterangannya, Hegseth menyatakan bahwa menurut penilaian pemerintah Amerika Serikat, Rusia dan Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah memberikan berbagai bentuk bantuan kepada Iran selama konflik berlangsung.
Ia mengatakan bahwa kedua negara tersebut:
“Dengan cara masing-masing dan pada tingkat yang berbeda-beda, telah memungkinkan Iran untuk menjalankan sejumlah aktivitas militernya.”
Meski demikian, Hegseth menegaskan bahwa pemerintah Amerika Serikat telah menyiapkan berbagai langkah untuk menghambat maupun memutus jalur bantuan tersebut.
Namun, ia menolak menjelaskan secara rinci metode yang digunakan Washington.
Menurut Hegseth, “Kedalaman maupun cakupan tindakan tersebut harus tetap dirahasiakan.”
Ia beralasan bahwa keterbukaan mengenai strategi tersebut justru berpotensi mengurangi efektivitas operasi Amerika Serikat di lapangan.
Pernyataan Pentagon Sejalan dengan Laporan Intelijen Sebelumnya
Pernyataan Pete Hegseth dinilai sejalan dengan sejumlah laporan intelijen Amerika Serikat yang telah muncul beberapa bulan sebelumnya.
Pada April 2026, CNN, mengutip sejumlah sumber yang mengetahui isi laporan intelijen Amerika Serikat, melaporkan bahwa Tiongkok disebut tengah mempersiapkan pengiriman sistem pertahanan udara baru kepada Iran.
Sementara itu, pada Maret 2026, berbagai media internasional juga mengutip informasi intelijen yang menyebut bahwa Rusia diduga memberikan bantuan intelijen kepada Iran.
Informasi yang disebut diberikan tersebut antara lain mencakup:
- lokasi penempatan pasukan Amerika Serikat di Timur Tengah;
- posisi kapal perang Amerika Serikat;
- pergerakan pesawat militer Amerika Serikat;
- serta berbagai data operasional lainnya yang dinilai bernilai strategis.
Apabila informasi tersebut benar, bantuan tersebut dinilai berpotensi meningkatkan kemampuan Iran dalam memantau aktivitas militer Amerika Serikat di kawasan.
Pentagon: Lawan Amerika Melakukan Hal yang Tidak Seharusnya Dilakukan
Dalam konferensi pers yang digelar di Pentagon pada akhir Maret 2026, Hegseth juga pernah menuduh sejumlah pihak yang menjadi lawan strategis Amerika Serikat telah melakukan tindakan yang menurutnya tidak semestinya.
Ia menyatakan bahwa terdapat pihak-pihak yang memberikan informasi intelijen sensitif kepada Iran mengenai:
- lokasi aset militer Amerika Serikat di Timur Tengah;
- posisi pangkalan militer;
- penempatan kekuatan tempur;
- hingga berbagai informasi strategis mengenai operasi militer Amerika Serikat di kawasan.
Meski tidak secara rinci menyebut mekanisme maupun sumber informasi tersebut, Hegseth menegaskan bahwa pemerintah Amerika Serikat terus memantau perkembangan aktivitas tersebut melalui berbagai jalur intelijen.
Pentagon Klaim Kekuatan Militer Iran Melemah Drastis
Dalam sidang dengar pendapat yang berlangsung pada Selasa, 21 Juli 2026, Hegseth juga menyampaikan penilaian terbaru mengenai kondisi militer Iran setelah berulang kali menjadi sasaran operasi udara Amerika Serikat.
Menurutnya, meskipun Iran masih memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan, efektivitas kekuatan militernya telah mengalami penurunan yang sangat signifikan.
Hegseth menyatakan bahwa kemampuan tempur Iran kini berada pada titik terendah dalam:
- 10 tahun terakhir, bahkan kemungkinan merupakan kondisi terlemah dalam 47 tahun terakhir, sejak berdirinya Republik Islam Iran pada 1979.
Ia menilai keberhasilan operasi militer Amerika Serikat dalam menghancurkan berbagai fasilitas strategis Iran menjadi bukti bahwa strategi tekanan militer yang dijalankan Washington telah memberikan dampak yang sangat besar terhadap kemampuan operasional Teheran.
Atas dasar itu, Hegseth juga mendorong Kongres Amerika Serikat untuk menyetujui tambahan anggaran pertahanan agar militer Amerika memiliki sumber daya yang memadai apabila operasi lanjutan kembali diperlukan dalam menghadapi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. (***)


