EtIndonesia.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat ke level yang lebih berbahaya. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa pemerintahannya tengah mempertimbangkan pelaksanaan operasi militer berskala sangat besar terhadap Iran. Di saat yang sama, Washington terus memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah dengan mengerahkan pesawat pengebom strategis, pasukan operasi khusus, hingga tenaga medis militer sebagai bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan konflik yang lebih luas.
Perkembangan terbaru ini muncul setelah berbagai upaya diplomatik dilaporkan mengalami jalan buntu. Sementara itu, situasi keamanan di Laut Merah juga kembali memburuk akibat meningkatnya aktivitas kelompok Houthi yang didukung Iran, sehingga semakin memperbesar risiko meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Trump Isyaratkan Operasi Militer Berskala Belum Pernah Terjadi
Dalam wawancara yang dikutip media Axios pada Rabu, 22 Juli 2026, Presiden Donald Trump menyampaikan bahwa dirinya sedang mempertimbangkan pelaksanaan sebuah operasi militer dengan skala yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Trump menyatakan bahwa seluruh persiapan operasi telah dilakukan dan keputusan akhir akan segera diambil.
Ia mengatakan bahwa apabila Amerika Serikat memutuskan untuk menyerang Iran, Israel dapat bergabung dalam operasi tersebut hanya dalam hitungan dua menit. Namun demikian, Trump menegaskan bahwa Washington pada dasarnya tidak membutuhkan bantuan negara mana pun untuk melaksanakan operasi militer terhadap Iran.
Dalam kesempatan yang sama, Trump kembali mengungkapkan bahwa pemerintah Iran sebenarnya telah menunjukkan keinginan untuk melakukan perundingan. Namun menurutnya, hingga saat ini Teheran masih belum benar-benar siap mencapai sebuah kesepakatan.
Trump bahkan menyatakan bahwa tekanan yang sedang dialami Iran saat ini dinilainya masih belum cukup besar untuk memaksa negara tersebut mengubah sikapnya.
Upaya Diplomatik Masih Buntu
Di tengah meningkatnya ancaman operasi militer, sejumlah sumber regional yang terlibat dalam proses mediasi mengungkapkan bahwa pemerintah Iran hingga kini belum menerima proposal terbaru yang diajukan melalui jalur diplomatik.
Salah satu sumber yang mengetahui proses tersebut mengatakan bahwa berbagai upaya negosiasi masih terus dilakukan, namun menurutnya pemerintah Iran belum menunjukkan sikap kooperatif untuk melanjutkan pembicaraan secara serius.
Kondisi tersebut semakin memperkecil peluang tercapainya penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dalam waktu dekat.
Amerika Serikat Bersiap Memperluas Serangan
Menurut sumber dari pihak Israel, pemerintah Amerika Serikat telah memberi tahu Tel Aviv mengenai rencana memperluas operasi militernya terhadap Iran.
Bila rencana tersebut benar-benar dijalankan, Amerika Serikat untuk pertama kalinya sejak operasi gabungan AS–Israel dimulai tahun ini akan mengerahkan pesawat pengebom berat untuk menghantam sasaran-sasaran strategis di wilayah Iran.
Kalangan militer Israel menilai bahwa operasi tersebut berpotensi menjadi salah satu eskalasi terbesar dalam konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak ketegangan kembali meningkat beberapa bulan terakhir.
Analisis intelijen Israel memperkirakan bahwa sasaran utama serangan kemungkinan berada di kawasan pegunungan Iran yang selama ini diyakini menjadi lokasi berbagai fasilitas strategis, termasuk instalasi militer dan fasilitas bawah tanah yang memiliki perlindungan sangat kuat.
Setelah menerima pemberitahuan dari Washington, pemerintah Israel pada malam 22 Juli 2026 langsung meningkatkan status kesiagaan militer nasional ke tingkat tertinggi sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan pecahnya perang dalam skala lebih luas.
Bomber Strategis B-1B Mulai Digunakan
Perkembangan lain yang turut menjadi perhatian adalah laporan mengenai penggunaan pesawat pengebom strategis B-1B Lancer oleh militer Amerika Serikat.
Menurut laporan Axios, yang kemudian dikonfirmasi Fox News, pada Selasa, 22 Juli 2026, Angkatan Udara Amerika Serikat telah menggunakan pesawat B-1B untuk menyerang sasaran milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Langkah tersebut menjadi penggunaan perdana pesawat B-1B dalam operasi tempur sejak konflik terbaru kembali memanas.
Berdasarkan data Angkatan Udara Amerika Serikat, B-1B Lancer merupakan salah satu pesawat pengebom strategis paling kuat yang dimiliki Washington.
Pesawat ini mampu membawa hingga:
- 24 bom berbobot 2.000 pon;
- atau puluhan rudal jelajah dalam satu misi.
Kemampuan membawa muatan senjata dalam jumlah besar membuat B-1B dinilai sangat efektif untuk menyerang berbagai target strategis yang memiliki perlindungan kuat.
Para analis militer menilai pengerahan pesawat tersebut merupakan sinyal jelas bahwa Amerika Serikat sedang meningkatkan tekanan militer terhadap Iran secara signifikan.
Washington Perkuat Kekuatan Tempur di Timur Tengah
Selain meningkatkan intensitas operasi udara, Amerika Serikat juga terus memperbesar kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah.
Pada Kamis, 23 Juli 2026, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa sejak blokade maritim terhadap Iran kembali diberlakukan, selama sembilan hari terakhir mereka telah:
- mengalihkan jalur pelayaran 12 kapal dagang;
- serta membuat satu kapal kehilangan kemampuan beroperasi.
Sementara itu, laporan The Wall Street Journal menyebutkan bahwa Washington kini terus mengirim tambahan:
- pasukan operasi khusus;
- tenaga medis militer;
- perlengkapan tempur;
- serta memperkuat berbagai pangkalan militer di kawasan Timur Tengah.
Data pelacakan penerbangan juga menunjukkan bahwa selama sepekan terakhir berbagai unit operasi khusus telah diterbangkan dari pangkalan-pangkalan militer di Amerika Serikat menuju kawasan Timur Tengah.
Beberapa skuadron tempur juga dilaporkan telah selesai ditempatkan di sejumlah pangkalan utama.
Selain itu, pesawat-pesawat pengebom yang berada di pangkalan Amerika Serikat maupun Inggris kini telah berada dalam status siaga tinggi dan siap diterbangkan kapan saja apabila Presiden Trump mengeluarkan perintah operasi.
Sebagai bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan meningkatnya korban perang, lebih dari 150 tenaga medis militer juga telah tiba di Landstuhl Regional Medical Center, Jerman.
Rumah sakit tersebut merupakan pusat utama penanganan prajurit Amerika Serikat yang terluka dalam operasi militer di kawasan Timur Tengah.
Laut Merah Kembali Memanas
Di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, situasi keamanan di Laut Merah juga kembali memburuk.
Berbagai laporan menyebutkan bahwa kelompok Houthi mulai melancarkan serangan terhadap dua kapal milik Arab Saudi yang sedang berlayar di Laut Merah.
Menanggapi perkembangan tersebut, Presiden Donald Trump pada Kamis pagi, 23 Juli 2026, mengunggah pernyataan melalui media sosialnya.
Trump menyatakan dirinya sangat kecewa atas tindakan Houthi dan memperingatkan bahwa apabila kelompok tersebut kembali melakukan serangan serupa, maka Amerika Serikat akan meminta Iran bertanggung jawab penuh.
Washington tetap memandang Houthi sebagai kelompok proksi yang mendapat dukungan langsung dari Teheran.
Trump juga menegaskan bahwa apabila eskalasi terus meningkat, Amerika Serikat akan menjatuhkan tindakan militer yang jauh lebih keras, baik terhadap Iran maupun terhadap kelompok Houthi.
Marco Rubio: Iran Berada di Balik Blokade Laut Merah
Dalam pertemuan ASEAN, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio turut menyampaikan peringatan keras kepada kelompok Houthi.
Menurut Rubio, blokade laut yang dilakukan Houthi terhadap kapal-kapal Arab Saudi merupakan bagian dari strategi yang didorong oleh Iran.
Ia menilai kelompok tersebut seharusnya tidak membiarkan diri dimanfaatkan oleh Teheran dan mendesak agar seluruh aksi militer segera dihentikan.
Rubio juga mengungkapkan bahwa Iran sebelumnya memiliki rencana untuk melipatgandakan persediaan rudalnya.
Meski demikian, menurutnya pemerintah Iran hampir setiap hari tetap berupaya membuka jalur perundingan dengan Amerika Serikat.
Namun, karena belum menunjukkan kesiapan mencapai kesepakatan, Rubio menilai Iran akan terus menghadapi konsekuensi yang semakin berat.
“Setiap malam, harga yang harus dibayar Iran terus meningkat,” ujarnya.
Iran Diduga Kirim Personel Garda Revolusi ke Yaman
Empat sumber yang mengetahui persoalan tersebut, termasuk dua narasumber dari Iran, Menteri Informasi Yaman, dan seorang analis keamanan kawasan, mengungkapkan bahwa pada 13 Juli 2026 Iran diduga mengirim personel Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), penasihat militer, serta perlengkapan sistem rudal kepada kelompok Houthi di Yaman.
Pengiriman tersebut disebut menggunakan pesawat milik Mahan Air yang membawa sekitar 10 hingga 21 personel IRGC, termasuk beberapa komandan senior.
Pesawat awalnya dijadwalkan mendarat di Sanaa, namun karena bandara tersebut diserang pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi, penerbangan akhirnya dialihkan menuju Pelabuhan Hodeidah di pesisir Laut Merah.
Menurut sumber tersebut, para personel IRGC dikirim untuk:
- membantu operasi militer Houthi;
- memberikan pelatihan penggunaan sistem rudal generasi baru;
- meningkatkan kemampuan tempur kelompok tersebut.
Sumber yang sama juga menduga pesawat tersebut turut membawa emas sebagai sumber pendanaan aktivitas Houthi.
Kapal Tanker Tiongkok Tetap Melintasi Laut Merah
Di tengah meningkatnya ancaman keamanan, Reuters melaporkan bahwa dua kapal tanker minyak mentah berkapasitas sangat besar milik Tiongkokk tetap melanjutkan pelayaran menuju Selat Bab el-Mandeb.
Kedua kapal tersebut membawa sekitar 4 juta barel minyak mentah Arab Saudi.
Salah satu kapal berbendera Singapura, Xin Long Yang, sempat berbalik arah dan berhenti sementara di tengah Laut Merah pada Selasa sebelum kembali melanjutkan pelayaran pada Rabu malam menuju Pelabuhan Qinzhou, Provinsi Guangxi.
Kapal tanker kedua, Yuan Xin Hu, juga mengikuti jalur yang sama dan dijadwalkan membongkar muatan di Pelabuhan Huizhou, Provinsi Guangdong.
Dugaan Bantuan Teknologi Militer Tiongkok kepada Iran
Di tengah meningkatnya konflik, perhatian internasional juga tertuju pada dugaan bantuan teknologi militer dari Tiongkok kepada Iran.
Beberapa laporan menyebutkan bahwa Beijing diduga telah memasok radar YLC-8B buatan China Electronics Technology Group Corporation (CETC) kepada Iran.
Radar tersebut diklaim memiliki kemampuan mendeteksi sasaran udara jarak jauh, termasuk pesawat tempur siluman seperti F-35 Lightning II dan F-22 Raptor milik Amerika Serikat.
Selain itu, data penerbangan menunjukkan bahwa sebuah pesawat kargo Iran dengan nomor penerbangan W576 baru-baru ini menyelesaikan proses pemuatan barang di Tiongkok sebelum kembali menuju Iran.
Pergerakan tersebut memicu spekulasi mengenai kemungkinan adanya pengiriman perlengkapan militer atau teknologi strategis dari Tiongkok kepada Teheran. Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi yang memverifikasi isi muatan pesawat tersebut. (***)


