Sebelum Ingatan Memudar, Cara Berjalan Anda Bisa Mengungkap 5 Gangguan Otak Tersembunyi

Kaki Anda mungkin mendeteksi masalah otak sebelum ingatan menyadarinya


Ellen Wan

Sebelum ingatan mulai memudar, otak mungkin sebenarnya sudah mengirimkan sinyal adanya masalah melalui sesuatu yang tak terduga: cara Anda berjalan.

Banyak orang menganggap langkah yang semakin lambat atau tubuh yang semakin sulit menjaga keseimbangan sebagai konsekuensi wajar dari penuaan. Namun, para ahli saraf mengatakan bahwa berjalan merupakan salah satu aktivitas paling kompleks yang dilakukan otak. Perubahan kecil pada kecepatan, keseimbangan, atau koordinasi gerak bahkan dapat muncul bertahun-tahun sebelum gangguan ingatan menjadi jelas.

“Berjalan adalah cermin kesehatan otak,” kata Dr. Hsieh Ping-Hsien, ahli bedah saraf di National Chiao Tung University Hospital, Taiwan, kepada The Epoch Times. “Perubahan pola berjalan bahkan dapat menjadi tanda peringatan paling awal dari sejumlah penyakit neurologis.”

Mengapa Cara Berjalan Berkaitan dengan Otak?

Berjalan mungkin terasa seperti aktivitas otomatis. Namun, setiap langkah sebenarnya mengharuskan berbagai bagian otak bekerja secara bersamaan dalam hitungan sepersekian detik.

Otak tidak sekadar memerintahkan kaki untuk bergerak. Otak terus-menerus merencanakan gerakan, menjaga keseimbangan, memantau lingkungan sekitar, serta menyesuaikan posisi tubuh.

Menurut Hsieh, proses tersebut melibatkan:

  • Perintah motorik: Lobus frontal mengirimkan sinyal untuk “melangkah”.
  • Pengendalian keseimbangan: Otak kecil atau serebelum menyesuaikan pusat gravitasi tubuh secara real time.
  • Persepsi ruang: Lobus parietal memperkirakan jarak terhadap benda-benda di sekitar.
  • Pembagian perhatian: Korteks prefrontal membantu mencegah Anda tersandung atau menabrak sesuatu.

Jika salah satu mata rantai dalam sistem kompleks tersebut terganggu, kecepatan berjalan dapat melambat, kata Hsieh.

5 Gangguan Otak yang Bisa Pertama Kali Terlihat dari Cara Berjalan

Ketika tubuh menua, mengalami stroke ringan, atau terserang penyakit neurologis degeneratif seperti Parkinson atau demensia, salah satu tanda awal yang muncul dapat berupa ketidakstabilan saat berjalan.

1. Demensia Tahap Awal

Orang dengan gangguan kognitif ringan sering mengalami perlambatan langkah secara bertahap sebelum penurunan daya ingat menjadi signifikan.

Sebuah studi tahun 2023 yang diterbitkan dalam Scientific Reports menganalisis kecepatan berjalan hampir 2.000 orang lanjut usia. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka yang memiliki fungsi kognitif lebih buruk cenderung berjalan lebih lambat dalam aktivitas sehari-hari.

Bahkan, orang dengan gangguan kognitif ringan dapat mengalami penurunan kecepatan berjalan pada waktu-waktu tertentu sebelum penurunan daya ingat yang signifikan terjadi.

2. Penyakit Parkinson

Pada penderita Parkinson, kemampuan otak menghasilkan dopamin secara bertahap menurun. Akibatnya, langkah menjadi lebih pendek, cara berjalan seperti menyeret kaki, dan ayunan lengan berkurang.

Banyak orang keliru menganggap perubahan tersebut hanya sebagai tanda penuaan biasa. Padahal, mengabaikannya dapat membuat kesempatan untuk mendeteksi dan menangani penyakit sejak dini terlewatkan.

3. Penyakit Pembuluh Darah Kecil Otak

Stroke yang menyerang pembuluh darah kecil di bagian dalam otak dapat merusak jalur materi putih yang bertugas menghantarkan sinyal saraf.

Gangguan tersebut dapat memperlambat transmisi sinyal dan menyebabkan seseorang berjalan lebih lambat serta tidak stabil.

Karena biasanya tidak disertai gejala jelas seperti kelumpuhan pada satu sisi tubuh, kondisi ini sering luput dari perhatian.

4. Hidrosefalus Tekanan Normal

Ketika cairan serebrospinal menumpuk secara berlebihan di dalam ventrikel otak, jaringan otak dapat tertekan dan fungsi saraf yang mengendalikan gerakan berjalan ikut terganggu.

Penderita sering mengalami apa yang disebut “magnetic gait” atau gaya berjalan magnetik—seolah-olah telapak kaki melekat pada lantai.

Langkah menjadi sangat sempit dan penderita kesulitan mengangkat kaki dari permukaan lantai.

5. Hematoma Subdural Kronis

Sebagian orang lanjut usia dapat mengalami perdarahan ringan setelah kepala terbentur benda ketika berjalan atau terjatuh.

Namun, beberapa minggu kemudian, darah dapat perlahan menumpuk di bawah lapisan dura mater dan menekan otak.

Gejalanya dapat meliputi gangguan keseimbangan saat berjalan, rasa mengantuk, reaksi yang melambat, hingga kelemahan pada salah satu sisi tubuh.

Peradangan Kronis Juga Dapat Mengganggu Cara Berjalan

Selain penyakit otak seperti demensia dan Parkinson, peradangan kronis juga dapat secara perlahan merusak otak, kata Hsieh.

Sejumlah penelitian menemukan bahwa orang lanjut usia dengan kadar faktor peradangan yang lebih tinggi dalam darah cenderung berjalan lebih lambat dan memiliki risiko lebih besar mengalami gangguan motorik di kemudian hari.

Peradangan kronis tingkat rendah ibarat api kecil yang terus menyala di dalam otak. Mungkin tidak terasa secara langsung, tetapi kerusakannya dapat terakumulasi dari hari ke hari.

Beberapa dampaknya antara lain:

  • Kerusakan neuron: Faktor peradangan seperti sitokin proinflamasi IL-6 dan TNF-α dapat menyerang sel saraf dan memperlambat transmisi sinyal saraf.
  • Kerusakan materi putih: “Kabel” dalam otak yang membawa perintah gerakan dapat mengalami kerusakan sehingga mengganggu pengendalian langkah.
  • Kekurangan dopamin: Peradangan kronis dapat menghambat produksi dopamin sehingga memulai gerakan menjadi lebih lambat dan membutuhkan lebih banyak tenaga.
  • Gangguan koordinasi otot: Sinyal dari otak yang terlambat dapat mengacaukan waktu kontraksi otot sehingga langkah menjadi lambat dan tidak stabil.

Menurut Hsieh, sejumlah faktor dapat memicu peradangan kronis, termasuk kurang tidur berkepanjangan, sindrom metabolik, ketidakseimbangan mikrobiota usus, serta stres psikologis jangka panjang.

Tanpa disadari, kondisi-kondisi tersebut dapat mempercepat degenerasi otak sekaligus penurunan kemampuan motorik.

5 Perubahan Cara Berjalan yang Tak Boleh Diabaikan

Perlambatan cara berjalan biasanya tidak terjadi secara tiba-tiba, kata Hsieh. Otak sering kali memberikan sejumlah sinyal peringatan jauh sebelum masalah menjadi serius.

1. Sering Menunduk Melihat Tanah Saat Berjalan

Secara normal, pandangan akan mengarah ke depan ketika berjalan.

Jika Anda mulai terbiasa menunduk dan terus melihat lantai, hal tersebut mungkin menunjukkan adanya penurunan kemampuan menjaga keseimbangan dan memperkirakan posisi dalam ruang.

2. Membutuhkan Lebih Banyak Langkah Saat Berbelok

Ketika respons otak terhadap perubahan arah melambat, tubuh mungkin kesulitan melakukan gerakan berbelok dalam satu langkah yang lancar.

Akibatnya, seseorang memecah gerakan tersebut menjadi beberapa langkah kecil.

3. Sulit Menjaga Keseimbangan Saat Berjalan dan Berbicara

Jika Anda mudah kehilangan keseimbangan ketika berjalan sambil berbicara, kondisi tersebut disebut “gangguan tugas ganda” (dual-task disorder).

Hal ini dapat menunjukkan menurunnya kemampuan otak memproses dua aktivitas secara bersamaan dan menjadi salah satu tanda peringatan penting adanya penurunan fungsi kognitif.

4. Langkah Semakin Pendek

Jika langkah Anda semakin pendek dan lambat secara nyata, terutama pada pagi hari atau ketika berada di lingkungan yang tidak familiar, kondisi tersebut patut diperhatikan.

5. Ayunan Lengan Tidak Simetris

Jika satu lengan masih mengayun secara normal sementara lengan lainnya jauh lebih sedikit bergerak, hal tersebut dapat mengindikasikan adanya gangguan pada penghantaran saraf di salah satu sisi tubuh.

Menurut Hsieh, jika Anda mengalami gejala-gejala tersebut—terutama setelah mengalami cedera kepala, terjatuh, atau guncangan keras—sebaiknya segera menjalani pemeriksaan oleh ahli bedah saraf.

Menjaga Kesehatan Otak Melalui Gaya Hidup

Tidak semua penyakit neurologis dapat dicegah. Namun, kebiasaan hidup sehat yang membantu mengurangi peradangan dan mendukung fungsi otak dapat membantu mempertahankan kemampuan bergerak seiring bertambahnya usia.

Ahli saraf Jepang Nobusada Shinoura merekomendasikan minyak bawang putih sebagai salah satu pilihan makanan yang menurutnya dapat mendukung kesehatan kognitif dan perlindungan saraf.

Sebuah ulasan yang diterbitkan dalam ACS Chemical Neuroscience menemukan bahwa berbagai senyawa kimia dalam bawang putih, terutama senyawa organosulfur, memiliki potensi terapeutik terhadap penyakit Parkinson.

Senyawa tersebut dapat membantu mengurangi stres oksidatif, memperbaiki fungsi mitokondria, serta meredam respons neuroinflamasi yang dapat merusak sel-sel saraf otak.

Minyak bawang putih dapat ditambahkan ke salad sayuran, sup miso, natto, tahu dingin, atau disantap bersama roti.

Shinoura mengatakan bahwa selama bertahun-tahun ia memiliki kebiasaan mengonsumsi minyak bawang putih sebelum menjalani operasi. Menurut pengalamannya, setelah mengonsumsinya, aktivitas saraf terasa lebih hidup dan tubuh secara keseluruhan terasa lebih berenergi.

Namun, perlindungan otak tidak dapat bergantung pada satu jenis makanan saja.

Shinoura menekankan bahwa pola makan secara keseluruhan jauh lebih penting. Menu sebaiknya didominasi sayuran dan biji-bijian utuh, disertai makanan fermentasi, makanan laut, dan jamur.

Ia secara khusus merekomendasikan ikan seperti bream sirip biru, saury, dan sarden, yang kaya akan asam lemak omega-3 DHA dan EPA yang bermanfaat bagi kesehatan otak.

Selain pola makan, Shinoura juga menyarankan olahraga aerobik seperti tai chi dan jalan cepat.

Intensitas olahraga cukup sampai tubuh mengeluarkan sedikit keringat dengan denyut nadi sekitar 110–120 kali per menit. Tidak perlu memaksakan diri melakukan olahraga yang terlalu berat.

Jangan Tunggu Ingatan Hilang untuk Menyadari Ada Masalah

Kehilangan ingatan bukan selalu menjadi jeritan pertama otak ketika meminta pertolongan.

Terkadang, tanda paling awal justru muncul dari sesuatu yang selama ini kita anggap sepele: langkah kaki.

Jika Anda mulai berjalan lebih lambat, mengambil langkah yang tidak biasa pendeknya, kesulitan berbelok, atau lebih sering kehilangan keseimbangan, jangan buru-buru menganggapnya sekadar bagian dari proses penuaan.

Perubahan kecil dalam cara berjalan bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam otak—dan semakin cepat diperiksa, semakin besar peluang masalah tersebut dikenali lebih dini.

INSPIRASI ERABARU

Socrates: Kejeniusan Kreatif Bergantung pada Inspirasi Ilahi—Lalu, Apa yang Menentukan Datangnya Inspirasi Ilahi?

Oleh Ila BonczekBaik sastra, musik, maupun seni rupa, karya-karya agung memiliki kekuatan untuk mengguncang dan mengubah mereka yang menikmatinya. Karya-karya abadi tersebut menyentuh jiwa,...

Rahasia Filsuf Cicero : 5 Langkah Membangun Percakapan yang Baik

Nasihat dari filsuf Romawi ini dapat membantu Anda menjadi pembicara yang lebih bijaksana, menarik, dan menyenangkan untuk diajak berbicaraAnnie HolmquistKita semua mungkin pernah mengalaminya....

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine