EtIndonesia.com Gempa dahsyat berkekuatan magnitudo 7,7 terjadi di lepas pantai Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu 15 Agustus 2026. Dalam beberapa jam setelah gempa utama, tercatat 341 gempa susulan. Hingga kini, sedikitnya 51 orang tewas, lebih dari 100 orang terluka, dan sekitar 5.000 warga membutuhkan bantuan. Ratusan rumah serta bangunan mengalami kerusakan. Sejumlah wilayah mengalami pemadaman listrik, sementara setidaknya satu jalur yang digunakan untuk operasi penyelamatan masih belum dapat dilalui.
Umri, seorang warga berusia 55 tahun dari Desa Nangahale di pesisir utara Pulau Flores, mengatakan kepada AFP pada pagi hari tanggal 16 Agustus, “Kami membutuhkan makanan, air minum, obat-obatan, dan popok untuk anak-anak.” Ia bersama warga lain yang takut kembali ke rumah telah bertahan selama 24 jam di atas sebuah bukit.
Nurhidayati, seorang perempuan berusia 55 tahun yang juga mengungsi di atas bukit, mengatakan, “Saya masih sangat takut. Setiap kali teringat gempa kemarin, jantung saya masih berdebar-debar… Kemarin kami langsung berlari menuju bukit. Saya sekarang sangat takut. Gempa tahun 1992 masih meninggalkan trauma bagi saya. Saya tidak berani pulang.”
Ia berharap pemerintah segera mengirimkan bantuan untuk mereka.
Pada 1992, Pulau Flores juga pernah dilanda gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang kemudian memicu tsunami. Bencana tersebut menewaskan sekitar 2.500 orang.
Yulian Juita Ekalia, seorang dosen berusia 37 tahun, mengatakan pada sore hari ketika gempa terjadi bahwa ia terbangun akibat guncangan yang sangat kuat.
“Rasanya seperti sedang berada di atas trampolin. Benar-benar menakutkan,” katanya.
“Semua barang di rumah jatuh, seperti televisi, piala anak saya, rak piring, dan koper yang berada di atas lemari.”
Status Darurat Selama 14 Hari
Petugas penyelamat Fathur Rahman mengatakan kepada AFP pada 15 Agustus bahwa fokus operasi pencarian dan penyelamatan telah dialihkan untuk mencari korban yang kemungkinan tertimbun di bawah reruntuhan. Namun, tanah longsor yang memutus sejumlah jalan membuat operasi penyelamatan semakin sulit.
Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton Suar Pelita Panjaitan, mengatakan sedikitnya 101 warga Pulau Flores dilaporkan mengalami luka-luka.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada 16 Agustus, ia mengatakan, “Selain menimbulkan korban jiwa, gempa yang terjadi di lepas pantai ini juga menyebabkan kerusakan materi dan melumpuhkan aktivitas sehari-hari masyarakat.”
Para korban bencana sangat membutuhkan bantuan berupa tenda pengungsian sementara, makanan, obat-obatan, selimut, tempat tidur lipat, matras, air bersih, dan generator listrik.
Ia juga mengatakan sedikitnya 914 rumah mengalami kerusakan berat, sementara ratusan rumah lainnya mengalami kerusakan ringan.
Puluhan fasilitas umum turut mengalami kerusakan, termasuk 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, dan 38 kantor pemerintahan.
Panjaitan mengatakan pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur sedang menyelesaikan prosedur administrasi terkait dan diperkirakan akan menetapkan status darurat selama 14 hari.
Sementara itu, International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) pada 15 Agustus menyatakan sedang mempersiapkan bantuan bagi ribuan korban yang untuk sementara tinggal di tempat-tempat pengungsian. (***)


