【Serial Sejarah】Jiang Zemin yang Sebenarnya (Bagian 5)

【Catatan Redaksi】 Empat belas tahun lalu, Jiang Zemin yang Sebenarnya pertama kali diperkenalkan kepada pembaca. Empat belas tahun kemudian, Jiang Zemin telah meninggal dunia, tetapi racun politik yang ditinggalkannya belum lenyap. Banyak kekacauan dan krisis yang terjadi di Tiongkok saat ini dapat ditelusuri kembali ke masa ketika Jiang memegang kekuasaan.

Pemerintahan yang mengandalkan korupsi, pengabaian terhadap supremasi hukum, penghancuran moral, penganiayaan terhadap Falun Gong, serta berkembangnya mesin kediktatoran dan kekerasan Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang dipicu oleh semua itu telah meninggalkan bencana yang tak berkesudahan bagi Tiongkok.

Untuk memahami PKT saat ini dan memahami bagaimana Tiongkok bisa sampai pada kondisi seperti sekarang, penting untuk memahami  Jiang Zemin yang Sebenarnya. Karena itu, tulisan ini diterbitkan kembali.

Seri dokumenter sejarah Jiang Zemin yang Sebenarnya, episode kelima: “Kekacauan Sosial Setelah Runtuhnya Moral (Bagian I)”

Lingkungan Hidup yang Dipenuhi Racun

Southern Daily melaporkan pada Desember 2011 bahwa data pemantauan PM2.5 di Beijing yang dirilis Kedutaan Besar Amerika Serikat di Tiongkok kembali menembus batas tertinggi. Angkanya bahkan melampaui indeks polusi maksimum 500. Konsentrasi PM2.5 saat itu mencapai 522. Karena “melampaui rentang nilai polutan tersebut”, angka itu bahkan tidak dapat dikonversi menjadi indeks kualitas udara di situs Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA).

Pada 4 Agustus 2013, The New York Times menerbitkan artikel berjudul “Living in a Toxic Country” atau “Hidup di Negara Beracun”.

Seorang wartawan yang ditugaskan di Beijing mengatakan bahwa ketika hendak kembali ke Beijing, ia menyeret sebuah koper dari bandara San Francisco yang berisi 12 kaleng susu bubuk, serta sebuah kardus yang berisi dua alat penyaring udara. Barang-barang tersebut merupakan oleh-oleh yang paling diharapkan keluarganya untuk ia bawa pulang.

Masyarakat sangat khawatir terhadap keamanan makanan yang mereka makan, air yang mereka minum, udara yang mereka hirup, dan berbagai kebutuhan hidup lainnya. Situasinya seolah-olah mereka hidup di bekas Uni Soviet setelah bencana nuklir Chernobyl atau di Jepang setelah Fukushima.

Makanan Beracun yang Sulit Dihindari

Skandal susu bubuk beracun di Tiongkok pada 2008 merupakan salah satu kasus keamanan pangan yang mengguncang Tiongkok dan dunia.

Kasus ini bermula ketika pihak Selandia Baru menemukan bahwa susu bubuk yang diproduksi Sanlu, perusahaan patungan dengan pihak Tiongkok, mengandung melamin. Selandia Baru segera bernegosiasi dengan pihak Tiongkok dan meminta Sanlu secara terbuka menarik susu bubuk beracun tersebut dari peredaran. Namun, permintaan itu terus ditolak.

Pada akhirnya, Perdana Menteri Selandia Baru turun tangan secara langsung dan bernegosiasi dengan Tiongkok. Ia memperingatkan bahwa jika PKT terus sengaja menyembunyikan masalah tersebut, Selandia Baru akan mengungkapkannya secara sepihak.

Setelah kasus tersebut terungkap ke publik, banyak bayi yang mengonsumsi susu bubuk produksi Grup Sanlu diketahui menderita batu ginjal. Penyebabnya adalah bahan kimia industri melamin yang terdapat dalam susu bubuk tersebut.

Setelah Administrasi Umum Pengawasan Mutu, Inspeksi, dan Karantina Tiongkok mengumumkan hasil pemeriksaan kandungan melamin pada susu bubuk bayi yang diproduksi berbagai perusahaan susu domestik, situasinya dengan cepat memburuk.

Susu bubuk dari sejumlah produsen, termasuk Yili, Mengniu, Guangming, Shengyuan, dan Yashili, juga ditemukan mengandung melamin.

Ternyata, mencampurkan melamin ke dalam susu merupakan salah satu “aturan tak tertulis” dalam industri tersebut. Tujuannya adalah meningkatkan kadar nitrogen yang terdeteksi dalam pemeriksaan, karena nitrogen digunakan sebagai indikator kandungan protein.

Bagaimanapun, harga melamin jauh lebih murah dibandingkan susu mentah.

Karena kasus susu bubuk beracun Sanlu berdampak besar dan meluas, ditambah lagi produk Sanlu merupakan merek terkenal yang mendapat status bebas pemeriksaan negara, kasus tersebut mendapat perhatian luas. Skandal ini kemudian membuka lebih lebar luka lama mengenai maraknya makanan beracun di Tiongkok.

Pada 2013, pembatasan pembelian susu bubuk di Hong Kong kembali membawa masalah makanan beracun dari Tiongkok ke sorotan dunia.

Sejak skandal pencampuran melamin ke dalam susu bubuk Sanlu terungkap pada 2008, masalah susu bubuk beracun di Tiongkok daratan tidak kunjung berakhir. Kasus demi kasus terus bermunculan.

Banyak wisatawan dari Tiongkok daratan berbondong-bondong ke Hong Kong untuk membeli susu bubuk, sehingga menyebabkan kelangkaan susu bubuk di Hong Kong.

Setelah skandal susu bubuk beracun, masyarakat Tiongkok ternyata masih belum terbebas dari makanan berbahaya. Muncul pula kacang panjang beracun, beras beracun, lobster beracun, mentimun beracun, dan berbagai jenis pangan tercemar lainnya.

Seseorang bahkan menyusun “ensiklopedia lengkap makanan beracun Tiongkok”, yang memuat sedikitnya 55 jenis makanan beracun yang paling umum ditemukan di Tiongkok.

Di antaranya adalah:

  • Beras beracun yang sangat karsinogenik, berupa beras lama yang telah rusak atau beras berkualitas rendah yang biasa diperuntukkan bagi pekerja migran, serta berbagai produk makanan yang dibuat dari beras tersebut.
  • Kecap beracun yang dibuat dengan mencampurkan cairan hasil pengolahan rambut.
  • Ham Jinhua yang direndam dengan pestisida dichlorvos.
  • Tahu busuk yang dibuat dengan merendamnya menggunakan kotoran babi.
  • Biji melon beracun yang diproses menggunakan minyak mineral.
  • Daging babi kering Taicang yang menggunakan daging babi mati dan daging babi indukan, kemudian daging babi indukan tersebut diputihkan dengan hidrogen peroksida.
  • “Minyak selokan” atau minyak jelantah ilegal, yang diambil dari saluran pembuangan dan kemudian diolah kembali untuk digunakan sebagai minyak makanan.

Wu Heng, seorang mahasiswa pascasarjana Universitas Fudan, melakukan pencarian melalui internet dan menemukan sebuah basis data bernama “Safety Express”.

Basis data tersebut mengumpulkan lebih dari 10.000 laporan berita terkait pangan, dan sekitar 6.000 di antaranya berkaitan dengan makanan beracun.

Setelah membaca laporan-laporan tersebut, ia baru menyadari bahwa lokasi dan frekuensi terjadinya kasus keamanan pangan sangat mengejutkan.

Tergerak oleh temuan tersebut, Wu Heng bersama puluhan pengguna internet lainnya menelusuri puluhan ribu laporan mengenai makanan beracun. Mereka kemudian menyaring dan mengolah informasi tersebut hingga menghasilkan bentuk awal Wikipedia Makanan Beracun Tiongkok.

Tragedi Air

Pan Yue, mantan Wakil Kepala Administrasi Negara Perlindungan Lingkungan, pernah menulis seruan keras:

“Pencemaran air semakin mendekati titik kritis yang berbahaya!”

Hal tersebut telah menjadi bencana yang muncul setiap musim panas.

Kota pesisir Qingdao menghadapi ledakan alga yang nyaris memecahkan rekor. Pantai-pantai yang sangat populer di kota tersebut tertutup lapisan serat berwarna hijau.

Pada musim panas 2007, Tiongkok berturut-turut mengalami ledakan alga biru-hijau di Danau Taihu, Danau Dianchi, dan Danau Chaohu.

Peristiwa tersebut menjadi sebuah tanda bahwa biaya lingkungan yang terakumulasi akibat model pembangunan tradisional Tiongkok telah mencapai titik kritis.

Saat itu, sekitar 26 persen dari tujuh sistem sungai utama Tiongkok tergolong sebagai air Kelas V dan di bawah Kelas V. Dari sembilan danau utama, tujuh di antaranya juga tergolong Kelas V atau lebih buruk.

Air Kelas V dan di bawah Kelas V tidak boleh bersentuhan dengan tubuh manusia dan bahkan tidak layak digunakan untuk keperluan pertanian.

Pada Maret 2013, sejumlah besar bangkai babi ditemukan mengambang dan diangkat dari Sungai Huangpu, sumber air minum bagi lebih dari 20 juta penduduk Shanghai.

Menurut laporan resmi Tiongkok daratan, hingga 19 Maret, lebih dari 13.000 bangkai babi telah diangkat dari Sungai Huangpu.

Pada 18 Maret, pembawa acara program televisi NBC The Tonight Show, Jay Leno, secara tajam menyindir pernyataan pemerintah PKT yang menyebut bahwa ribuan bangkai babi tersebut tidak akan memengaruhi kualitas air.

Jay Leno berkata:

“Jumlah total babi mati yang mengambang di sungai Shanghai telah melebihi 13.000 ekor. Pemerintah menduga penyebabnya adalah petani di hulu membuang babi yang mati karena penyakit ke sungai. Kalau bukan itu, mungkin ada seseorang yang sedang memainkan permainan Angry Birds terbesar di dunia. Entahlah, yang mana.”

Ia kemudian menyindir:

“Yang menurut saya lucu adalah pemerintah PKT justru menyatakan bahwa bangkai-bangkai babi itu tidak akan memengaruhi kualitas air minum! Kalau 13.000 bangkai babi yang membusuk saja tidak berpengaruh, seburuk apa sebenarnya kualitas air minum kalian? Oh, ternyata rasanya sama seperti biasanya. Saya memang suka air minum rasa daging asap.”

Perumahan Dibangun di Atas Tanah Beracun

Majalah Caijing melaporkan pada 6 Juni 2012 bahwa dalam beberapa tahun terakhir, akibat penyesuaian struktur penggunaan lahan industri dan perkotaan di Tiongkok daratan, banyak industri berpolusi tinggi yang sebelumnya menempati lokasi strategis di kawasan perkotaan dipindahkan. Hampir seluruh lahan bekas industri tersebut kemudian dikembangkan.

Menurut penelitian Institut Ilmu Tanah Nanjing, Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok, pada 2008, ribuan pabrik di Jiangsu, Liaoning, Guangzhou, Chongqing, dan berbagai wilayah lainnya dipindahkan. Sekitar 200 juta meter persegi lahan dinilai dapat digunakan kembali.

Namun, sejumlah besar tanah tercemar atau “tanah beracun” digunakan kembali tanpa menjalani proses pembersihan dan pengolahan yang semestinya, bahkan dibangun menjadi kawasan perumahan.

Salah satu contohnya adalah sebuah proyek perumahan yang sedang dibangun di Distrik Chaoyang, di luar Jalan Lingkar Kelima Timur Beijing. Lokasi tersebut sebelumnya merupakan pabrik pengawetan bantalan rel milik Kementerian Perkeretaapian.

Pabrik itu telah beroperasi selama lebih dari 30 tahun. Sejumlah besar bahan kimia telah meresap ke dalam tanah dan air tanah.

Pabrik tersebut dipindahkan delapan tahun sebelumnya dan lahannya dibiarkan kosong. Namun setelah pembangunan dimulai pada awal tahun sebelumnya, pemeriksaan masih menemukan zat karsinogenik hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) dengan kadar lebih dari 1.000 kali batas yang diperbolehkan.

Berbagai polutan volatil lainnya juga ditemukan dengan kadar 300–400 kali lebih tinggi dari batas yang ditetapkan.

Pada 2006, Kementerian Perlindungan Lingkungan menghabiskan 1 miliar yuan untuk melakukan survei pencemaran tanah secara nasional. Namun, data hasil survei tersebut hingga kini belum dipublikasikan.

Para pakar menganalisis bahwa selain dapat memicu kepanikan masyarakat, hasil survei tersebut juga berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar.

Racun Tersembunyi di Balik Pakaian

Menurut Xinhua dan sejumlah media lainnya, Greenpeace pada 23 Agustus 2011 menerbitkan laporan investigasi mengenai residu zat beracun dan berbahaya dalam pakaian bermerek global.

Greenpeace membeli 78 sampel dari 15 merek pakaian di 18 negara di seluruh dunia. Hasil pengujian menunjukkan bahwa 52 sampel mengandung residu zat beracun dan berbahaya.

Dalam laporan tersebut, 40 persen sampel Adidas ditemukan mengandung NPE, sedangkan 100 persen sampel Li-Ning mengandung NPE.

Maraknya Dokter Palsu dan Obat Palsu

Jika dibandingkan dengan makanan beracun yang ada di mana-mana, praktik dokter palsu dan obat palsu juga tidak kalah parah.

Menurut laporan, pada 2005 saja terdapat lebih dari 78.000 kasus obat palsu dan obat berkualitas buruk yang ditindak oleh pihak berwenang.

Pada 29 dan 30 April 2006, Departemen Penyakit Menular Rumah Sakit Afiliasi Ketiga Universitas Sun Yat-sen mengalami serangkaian kasus pasien hepatitis berat yang tiba-tiba mengalami gagal ginjal akut. Lima pasien meninggal meskipun telah mendapat pertolongan medis.

Setelah dilakukan pemeriksaan, diketahui bahwa pasien-pasien tersebut menggunakan suntikan Kelan Jiabei (亮菌甲素) yang diproduksi Qiqihar No. 2 Pharmaceutical Co., Ltd. Obat tersebut mengandung zat pengotor yang tidak diketahui dan dinyatakan sebagai obat palsu.

Tidak lama setelah skandal Qiqihar No. 2 Pharmaceutical, terjadi kasus yang lebih serius, yaitu kematian akibat obat palsu Xinfu (欣弗).

Pada 27 Juli 2006, seorang anak perempuan berusia enam tahun dari Harbin, Liu Sichen, meninggal setelah menerima infus klindamisin.

Di 16 provinsi dan kota di seluruh Tiongkok, tercatat 93 kasus efek samping Xinfu, dengan 11 orang meninggal dunia.

Penyebabnya kembali terkait dengan produsen obat yang memproduksi obat yang tidak memenuhi standar.

Pada 31 Maret 2010, Changzhou diguncang skandal besar pemalsuan vaksin. Produsen vaksin terkenal setempat, Jiangsu Yanshen Biotechnology Co., Ltd., terbukti oleh Badan Pengawas Obat Nasional telah melakukan pemalsuan secara sengaja dalam proses produksi vaksin selama bertahun-tahun.

Akibatnya, sejumlah besar vaksin bermasalah beredar di pasaran. Laporan tersebut menyebut jumlah korban sedikitnya lebih dari satu juta orang.

Ke Mana Perginya “Malaikat Berbaju Putih”?

Saat ini, ketika membicarakan hubungan antara dokter dan pasien di Tiongkok, situasinya seolah-olah seperti membicarakan transaksi jual beli di pusat perbelanjaan.

Rumah sakit telah berubah menjadi unit bisnis dengan keuntungan sebagai tujuan utama. Pasien menjadi pelanggan sekaligus sumber pemasukan bagi rumah sakit dan dokter.

Dalam kondisi kemerosotan moral yang tajam dan ketika segala sesuatu diukur berdasarkan uang, berbagai cara tidak etis pun muncul. Rumah sakit dan dokter memanfaatkan fungsi serta kewenangan mereka untuk memperoleh keuntungan ekonomi tambahan dari pasien.

Seorang dokter muda pernah mengungkapkan dalam blog pribadinya apa yang disebutnya sebagai “rahasia mengejutkan tentang bagaimana pasien diperas—hal-hal yang tidak pernah dipahami pasien bahkan hingga meninggal dunia.”

Pada 2009, setelah lulus dari program pascasarjana spesialis onkologi di Tianjin Medical University, saya beruntung diterima sebagai dokter di departemen onkologi sebuah rumah sakit kelas III tingkat A di Provinsi Shandong.

Pada akhir November 2009, ketika departemen onkologi kami membagikan bonus, rata-rata setiap orang hanya menerima sedikit lebih dari 2.000 yuan.

Kepala departemen menutup pintu dan mengadakan rapat rahasia. Ia berkata:

“Rumah sakit kita menerapkan sistem penilaian berdasarkan kinerja. Pendapatan dikurangi biaya, kemudian dikalikan persentase komisi—itulah yang menjadi bonus departemen.”

Ia sengaja berhenti sejenak, kemudian berkata:

“Saya rasa tidak perlu saya jelaskan lebih jauh, kan? Kalau kalian menggunakan obat murah yang hanya beberapa yuan, itu pilihan kalian. Tetapi jangan menganggap diri kalian sebagai Bodhisattva yang turun ke dunia, lalu membuat semua orang ikut hidup susah.”

Begitu kepala departemen selesai berbicara, semua orang langsung mengarahkan pandangan kepada saya. Wajah saya seketika terasa panas.

Beberapa hari kemudian, seorang pensiunan pejabat yang menderita kanker prostat dirawat di bangsal. Sel kanker tersebut bahkan sudah menyebar ke rongga perut.

Mengingat pelajaran sebelumnya, saya mencoba berbicara dengan istrinya:

“Saya menyarankan menggunakan obat yang relatif lebih baik karena dapat meningkatkan kualitas hidup pasien…”

Belum selesai saya berbicara, istrinya langsung mengangguk berkali-kali:

“Obat apa pun yang bagus, gunakan saja. Saya rela mengeluarkan uang untuk suami saya, Zhang.”

Mendengar kalimat itu, saya pun mulai memberikan berbagai obat mahal.

Pada akhirnya, lelaki tua tersebut dirawat selama dua bulan dan menghabiskan 400.000 yuan, tetapi akhirnya tetap meninggal dunia.

Pada Juli 2010, saya menerima seorang pasien kanker paru-paru stadium awal. Karena menurut saya pasien tersebut memiliki indikasi untuk menjalani operasi, saya merujuknya kepada seorang dokter di departemen bedah toraks.

Namun, setelah operasi, dokter bedah toraks tersebut secara khusus mengundang saya makan dan memberi saya amplop berisi 500 yuan.

Saya menolaknya, tetapi dia berkata:

“Ini memang hakmu. Nanti kalau saya punya pasien yang perlu menjalani kemoterapi, saya akan ‘memperkenalkan’ mereka kepadamu. Kita bekerja sama dalam jangka panjang!”

Kemudian, sebagai orang yang merasa lebih berpengalaman, dia “mengajari” saya:

“Kamu baru lulus belum lama. Sudah memahami alur kerja departemen onkologi? Sederhananya begini: ketika ada pasien kanker, pertama-tama kita rujuk ke bagian bedah untuk operasi. Biarkan bagian bedah mendapatkan uang dari operasinya. Setelah itu pasien dipindahkan ke bagian kemoterapi untuk kemoterapi, kemudian ke bagian radioterapi untuk radioterapi. Setelah semua departemen mendapatkan uangnya, barulah pasien dilempar ke bagian pengobatan tradisional Tiongkok untuk minum obat herbal.”

Kejadian berikutnya akhirnya membuat saya membuktikan sendiri ucapan dokter bedah tersebut.

Ada seorang pasien kanker lambung stadium lanjut yang sel kankernya sudah menyebar ke peritoneum. Namun, pasien itu tetap dipindahkan ke bagian bedah umum untuk menjalani operasi.

Setelah operasi, pasien dipindahkan ke departemen onkologi untuk kemoterapi, kemudian ke departemen radioterapi untuk menjalani radioterapi, lalu ke bagian pengobatan tradisional Tiongkok untuk minum obat herbal.

Setelah menjalani berbagai tindakan tersebut selama tiga bulan, pasien akhirnya meninggal dunia.

Saya diam-diam mengambil data pencitraan medis pasien tersebut untuk memeriksanya. Begitu melihat hasilnya, saya langsung menyadari bahwa pasien sebenarnya tidak memiliki indikasi untuk menjalani operasi.

Tim Penulis Jiang Zemin yang Sebenarnya, diproduksi bersama oleh New Tang Dynasty Television (NTD).

INSPIRASI ERABARU

Bagaimana Topi Biasa Menjadi Simbol Jabatan dalam Sejarah Tradisional Tiongkok

Topi kasa hitam pada awalnya hanyalah penutup kepala sehari-hari yang dikenakan baik oleh rakyat biasa maupun para juru tulis. Dibutuhkan waktu sekitar seribu tahun—serta...

3 Kebiasaan Sederhana untuk Menjaga Kesehatan Otak yang Hanya Membutuhkan Beberapa Menit Sehari

Banyak orang paruh baya dan lanjut usia mulai mengenali momen-momen kecil yang menimbulkan keraguan. Anda hendak keluar rumah, tetapi tidak menemukan kunci. Sebuah nama...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine