EtIndonesia.com Jumlah orang yang hidup sebagai tunawisma di Tiongkok dilaporkan meningkat pesat. Sebuah survei internal yang kemudian dihapus menyebutkan bahwa pada 2025, jumlah tunawisma di Tiongkok mencapai sekitar 47,5 juta orang, lebih dari lima kali lipat dibandingkan 2020. Di berbagai kota di Tiongkok, orang yang tidur di jalan juga semakin sering terlihat di trotoar, kolong jembatan, taman, hingga pintu masuk stasiun metro.
Komentator politik , Gordon G. Chang (章家敦), dalam artikel terbarunya di The Hill, mengutip sebuah laporan yang menyebutkan bahwa saat ini terdapat sekitar 47,5 juta tunawisma di Tiongkok. Banyak diantaranya merupakan kaum muda.
Banyak dari mereka datang ke pusat layanan untuk menggunakan Wi-Fi gratis dan pendingin udara, serta mendapatkan makanan dan air. Bahkan, sebuah pusat layanan di Shenzhen dilaporkan didatangi hampir 3.000 anak muda setiap hari.
Menurut laporan Caixin yang kemudian dihapus, Biro Data Nasional Partai Komunis Tiongkok mengerahkan 34 lembaga survei tingkat provinsi untuk melakukan penelitian. Hasilnya menunjukkan bahwa hingga akhir Agustus 2025, jumlah penduduk tunawisma di Tiongkok mencapai sekitar 47,5 juta orang, meningkat lebih dari lima kali lipat dibandingkan 2020.
Empat ciri baru tunawisma di Tiongkok
Kelompok tunawisma ini memiliki empat karakteristik utama: jumlahnya semakin besar, semakin muda, terkonsentrasi di perkotaan, dan semakin sedikit yang mengemis.
Sebagian besar berusia antara 20 hingga 35 tahun dan terkonsentrasi di kota-kota besar. Mereka tidak meminta-minta atau mengemis, melainkan hanya “tidak punya tempat untuk pergi.”
Dalam beberapa tahun terakhir, anak-anak muda yang tidur di jalan semakin mudah ditemukan di stasiun kereta, pintu masuk stasiun metro, kolong jembatan, bahkan toilet umum di kota-kota seperti Shenzhen dan Dongguan di Guangdong serta Suzhou di Jiangsu.
Restoran cepat saji yang buka 24 jam, ruang ATM, dan bangku taman juga menjadi semacam “tempat tinggal malam hari” bagi sebagian orang.
Mereka terdiri dari laki-laki maupun perempuan. Sebagian membawa koper, ransel, kasur sederhana, bahkan membawa anjing peliharaan. Kondisi mereka berbeda dari gambaran tradisional tentang “pengemis yang hidup menggelandang.”
Banyak pekerja kehilangan pekerjaan dan tidak mampu menyewa tempat tinggal
Mantan aparat kepolisian Tiongkok, Dong Guangping (董廣平), mengatakan bahwa saat ini banyak pabrik tidak memiliki pesanan. Para pekerja hanya bisa mendapatkan pekerjaan jangka pendek, sementara mereka tidak mampu membayar hotel maupun menyewa rumah, sehingga akhirnya tidur di jalan.
“Sebagian orang ingin menghemat pengeluaran. Kondisi ekonomi mereka sekarang juga tidak baik, dan gaji mereka tidak tinggi. Mereka tidak mau mengeluarkan biaya sebesar itu untuk menyewa rumah. Jadi mereka membawa tikar, mencari tempat, dan selama bisa tidur, itu sudah cukup,” katanya.
Dong mengatakan bahwa di terowongan bawah tanah Stasiun Kereta Zhengzhou juga terdapat orang yang tinggal dalam jangka panjang, bahkan membawa selimut dan perlengkapan tidur.
“Kalau sudah musim dingin, bayangkan di daerah utara turun salju lebat, sementara mereka tinggal di kolong jembatan. Tidur di luar benar-benar kejam. Terlalu dingin dan tidak bisa tidur,” ujarnya.
Dong mengatakan kemerosotan ekonomi Tiongkok yang terus berlanjut, ditambah banyaknya pabrik dan perusahaan yang tutup, serta meningkatnya pengangguran anak muda, semakin memperburuk masalah tunawisma.
Saat ini banyak restoran dan hotel juga sepi pelanggan. Sebagian restoran mulai menjual makanan dalam porsi besar dengan harga murah.
Dong Guangping: “Di jalan-jalan utama Zhengzhou banyak yang menjualnya. Ada tahu, bihun, kubis dalam satu panci besar. Satu mangkuk makanan harganya 10 yuan, sementara nasi boleh diambil sepuasnya. Banyak orang makan sebanyak-banyaknya sekali, kemudian malamnya makan seadanya lagi.”
“Tangping” dan “bailan” sebagai bentuk perlawanan pasif
Gordon Chang mengatakan bahwa banyak warga Tiongkok mulai melakukan “tangping” (躺平) dan “bailan” (摆烂) secara kolektif—yakni memilih pasif, tidak lagi mengejar ambisi ekonomi, dan membiarkan keadaan berjalan apa adanya.
Menurutnya, hal tersebut merupakan bentuk perlawanan pasif terhadap sistem Partai Komunis Tiongkok yang dianggap tidak memberikan harapan secara ekonomi maupun masa depan politik yang cerah.
Wakil Ketua Global Front Demokrasi Tiongkok, Sheng Xue (盛雪), mengatakan bahwa kondisi sosial Tiongkok saat ini sebenarnya telah menunjukkan banyak tanda-tanda peringatan sejak lama.
“Pada masa ketika ekonomi Tiongkok berkembang pesat, pada kenyataannya pemerintah sama sekali tidak membangun perlindungan sosial dasar. Untuk kesejahteraan dan bantuan bagi masyarakat biasa, ketika terjadi keadaan darurat, sistem pemerintahan, struktur, dan kebijakan tidak pernah mampu mengimbanginya,” katanya.
Sheng mengatakan bahwa ketika ekonomi mengalami kemerosotan, investasi asing keluar, dan perusahaan swasta menyusut, kelompok yang paling pertama terkena dampaknya adalah orang-orang yang bergantung pada upah untuk bertahan hidup.
Sheng Xue: “Sekarang mereka menjadi tunawisma dan sudah kehilangan pendapatan dasar yang menjadi sumber kehidupan mereka, termasuk tempat tinggal. Berikutnya, jika bahkan meminta-minta pun tidak lagi mendapatkan apa-apa, kelompok ini benar-benar bisa dikatakan berada di ambang kematian.”
Pertumbuhan ekonomi tidak mencerminkan kondisi masyarakat bawah
Sheng mengatakan bahwa Tiongkok pernah menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia, tetapi angka pertumbuhan ekonominya tidak mencerminkan biaya yang harus ditanggung dalam hal hak asasi manusia, jaminan sosial, dan kesejahteraan masyarakat.
“Misalnya masyarakat di daerah pegunungan terpencil dan wilayah miskin tidak memiliki jaminan yang benar-benar memadai. Kelompok ini sebenarnya sama sekali tidak tercermin dalam angka-angka indah yang ditampilkan Partai Komunis Tiongkok kepada dunia,” jelasnya.
“Jadi, begitu struktur tersebut mengalami retakan dan mulai runtuh, semuanya langsung tidak mampu berfungsi,” katanya.
Sheng mengatakan bahwa model pembangunan Partai Komunis Tiongkok tidak berkelanjutan, sementara masyarakat, sistem, budaya, dan ideologi Tiongkok saat ini semuanya mengalami kemunduran.
Ia memperingatkan bahwa jika masyarakat lapisan bawah Tiongkok tidak mengambil langkah-langkah aktif untuk melindungi diri, nasib banyak orang bisa menjadi sangat menyedihkan.
Sumber : NTDTV.com


