Timur Tengah Memanas! Israel Gempur Lebanon, 3 Pemimpin Hizbullah Tumbang, SDF Tiba-Tiba Bubar

EtIndonesia.com  Ketegangan keamanan di Timur Tengah kembali memasuki fase penting. Israel terus meningkatkan operasi militernya terhadap Hizbullah di Lebanon, sementara pada saat hampir bersamaan terjadi perubahan besar di Suriah setelah Pasukan Demokratik Suriah atau Syrian Democratic Forces (SDF) secara resmi mengakhiri keberadaannya sebagai kekuatan militer independen.

Dua perkembangan tersebut berpotensi mengubah peta keamanan regional, khususnya di kawasan yang selama bertahun-tahun menjadi arena persaingan antara Israel, Iran, Amerika Serikat, Hizbullah, serta berbagai kelompok bersenjata di Suriah.

Pada 25–26 Agustus 2026, laporan dari kawasan Lebanon selatan menunjukkan bahwa militer Israel kembali melakukan operasi terhadap sejumlah posisi yang dikaitkan dengan Hizbullah. Serangan dan aktivitas militer dilaporkan berlangsung di beberapa kawasan strategis di Lebanon selatan.

Ledakan keras bahkan dilaporkan dapat terdengar hingga wilayah Israel utara. Sebelumnya, warga di kawasan Galilea Atas telah diberi tahu oleh otoritas lokal bahwa suara ledakan kemungkinan akan terdengar akibat aktivitas militer Israel di wilayah Lebanon.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa konfrontasi Israel-Hizbullah belum benar-benar mereda.

Komandan Hizbullah Menjadi Sasaran

Dalam beberapa pekan terakhir, Israel meningkatkan tekanan terhadap struktur komando Hizbullah.

Pada 15 Agustus 2026, serangan udara Israel di Lebanon selatan menewaskan sedikitnya 11 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, menurut otoritas Lebanon. Israel mengatakan operasi tersebut ditujukan terhadap sejumlah komandan Hizbullah setelah sebuah serangan drone bermuatan bahan peledak melukai tiga tentara Israel.

Salah satu tokoh yang diklaim Israel tewas adalah Ali Samir al-Haj Hassan, seorang komandan batalion dari Pasukan Radwan, unit elite Hizbullah.

Israel juga menyatakan telah menewaskan Ali Mohammad Fakhreddine, yang juga dikenal sebagai Abu Hassan Alaa, seorang komandan senior dalam Divisi Badr Hizbullah. Unit tersebut beroperasi terutama di kawasan sebelah utara Sungai Litani.

Dengan demikian, klaim bahwa Israel sedang memburu lapisan kepemimpinan baru Hizbullah memang memiliki dasar dalam rangkaian operasi terbaru. Namun, laporan yang tersedia belum cukup untuk memastikan secara independen klaim bahwa tepat tiga pemimpin Hizbullah yang baru naik jabatan telah dieliminasi hanya dalam satu pekan.

Situasi di Lebanon selatan sendiri masih sangat sensitif. Operasi Israel sebelumnya mencakup kawasan Ansar, Deir al-Zahrani, Nabatieh, hingga perbukitan Ali Taher, sebuah kawasan yang dinilai memiliki arti strategis bagi operasi Hizbullah.

Israel berulang kali menyatakan bahwa serangannya bertujuan menghilangkan ancaman terhadap pasukannya dan mencegah Hizbullah membangun kembali kemampuan militernya. Sebaliknya, pemerintah Lebanon mengecam serangan-serangan tersebut dan menilai operasi Israel telah menimbulkan korban sipil serta memperbesar risiko eskalasi.

Perubahan Besar Terjadi di Suriah

Di tengah meningkatnya ketegangan di Lebanon, perubahan yang tidak kalah besar justru terjadi di negara tetangganya, Suriah.

Pada Selasa, 25 Agustus 2026, komandan SDF Mazloum Abdi secara resmi mengumumkan pembubaran Pasukan Demokratik Suriah sebagai kekuatan militer independen.

Pengumuman dilakukan dari istana kepresidenan di Damaskus.

Abdi menyatakan bahwa misi SDF sebagai organisasi militer independen telah berakhir setelah proses pengintegrasian pasukannya ke dalam brigade-brigade Angkatan Bersenjata Suriah diselesaikan.

Keputusan tersebut menjadi salah satu perubahan paling penting dalam struktur keamanan Suriah sejak jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada akhir 2024.

SDF dibentuk pada 2015 dan selama bertahun-tahun menjadi mitra lokal utama Amerika Serikat dalam operasi melawan ISIS di Suriah.

Dengan dominasi pasukan Kurdi tetapi juga melibatkan unsur Arab dan kelompok lainnya, SDF berkembang menjadi salah satu kekuatan bersenjata paling terorganisasi di Suriah. Pada puncak kekuatannya, kelompok tersebut diperkirakan memiliki sekitar 100.000 personel dan mengendalikan wilayah luas di utara serta timur laut Suriah. Namun, perkiraan pada awal 2026 menunjukkan kekuatannya kemungkinan telah berkurang menjadi sekitar 50.000 hingga 80.000 personel.

Selama bertahun-tahun, wilayah yang dikuasai SDF memiliki nilai strategis sangat besar karena mencakup sebagian kawasan penghasil minyak Suriah, jalur perbatasan, serta sejumlah fasilitas yang digunakan untuk menahan anggota ISIS.

Dari Mitra Amerika Menjadi Bagian Militer Suriah

Pembubaran SDF sekaligus menandai berakhirnya satu babak panjang keterlibatan langsung kelompok tersebut sebagai mitra militer independen Washington.

Integrasi sebenarnya telah dipersiapkan cukup lama. Pada 10 Maret 2025, pemerintah transisi Suriah dan kepemimpinan SDF telah mencapai kesepakatan mengenai integrasi lembaga sipil dan militer di wilayah yang dikuasai kelompok tersebut ke dalam struktur negara Suriah. Proses itu kemudian mengalami berbagai perundingan dan hambatan sebelum akhirnya mencapai tahap akhir pada 2026.

Pada Januari 2026, kesepakatan baru kembali dicapai setelah operasi pasukan pemerintah mengubah keseimbangan kekuatan di timur laut Suriah. Amerika Serikat turut mendukung proses tersebut dan menggambarkannya sebagai langkah penting menuju stabilisasi Suriah.

Namun, pembubaran formal SDF tidak berarti seluruh persoalan telah selesai.

Sejumlah pertanyaan masih muncul mengenai bagaimana rantai komando baru akan diterapkan, di mana mantan personel SDF akan ditempatkan, bagaimana struktur keamanan lokal dikelola, serta sejauh mana masyarakat Kurdi akan mempertahankan hak politik, budaya, dan administratifnya di Suriah yang baru.

Peta Kekuatan Regional Mulai Berubah

Perkembangan di Lebanon dan Suriah menunjukkan bahwa peta militer Timur Tengah sedang bergerak dengan cepat.

Israel terus berupaya menekan kemampuan Hizbullah dan memburu struktur komandonya di Lebanon. Pada saat yang sama, hilangnya SDF sebagai kekuatan bersenjata independen berarti Amerika Serikat tidak lagi memiliki mitra lokal yang sama seperti sebelumnya di Suriah timur laut.

Meski demikian, terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa pembubaran SDF secara otomatis berarti Washington sebelumnya berencana menggunakan kelompok itu untuk menyerang Iran atau bahwa rencana semacam itu kini dibatalkan. Belum terdapat bukti publik yang cukup kuat untuk memastikan klaim tersebut.

Yang dapat dipastikan adalah bahwa pada 25 Agustus 2026, salah satu kekuatan bersenjata paling penting di Suriah secara resmi mengakhiri eksistensi independennya dan masuk ke dalam struktur negara.

Sementara itu, operasi Israel terhadap Hizbullah terus berlangsung di Lebanon selatan.

Dua perkembangan ini terjadi hampir bersamaan dan memperlihatkan satu kenyataan penting: arsitektur keamanan Timur Tengah sedang mengalami perubahan besar, sementara persaingan Israel-Iran dan masa depan kelompok-kelompok bersenjata yang selama bertahun-tahun membentuk keseimbangan kawasan masih jauh dari selesai. (***)

INSPIRASI ERABARU

Bagaimana Topi Biasa Menjadi Simbol Jabatan dalam Sejarah Tradisional Tiongkok

Topi kasa hitam pada awalnya hanyalah penutup kepala sehari-hari yang dikenakan baik oleh rakyat biasa maupun para juru tulis. Dibutuhkan waktu sekitar seribu tahun—serta...

3 Kebiasaan Sederhana untuk Menjaga Kesehatan Otak yang Hanya Membutuhkan Beberapa Menit Sehari

Banyak orang paruh baya dan lanjut usia mulai mengenali momen-momen kecil yang menimbulkan keraguan. Anda hendak keluar rumah, tetapi tidak menemukan kunci. Sebuah nama...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine