EtIndonesia.com Bencana besar melanda kawasan Pegunungan Himalaya di perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu, 26 Agustus 2026. Banjir bandang yang membawa lumpur, bebatuan, dan material longsoran menerjang kawasan perbatasan dengan kekuatan luar biasa, menghancurkan permukiman, jalan, jembatan, serta berbagai fasilitas penting di kedua sisi perbatasan.
Salah satu kawasan yang mengalami kerusakan paling parah adalah Pelabuhan Gyirong atau Jilong, di Kabupaten Gyirong, Kota Shigatse, Daerah Otonom Tibet, Tiongkok. Kawasan ini merupakan salah satu jalur penting yang menghubungkan Tibet dengan Nepal.
Berdasarkan perkembangan terbaru hingga Kamis dini hari, 27 Agustus 2026, jumlah korban meningkat tajam. Pihak berwenang Nepal melaporkan sedikitnya 157 orang meninggal dunia, sedangkan Tiongkok mengonfirmasi tiga korban tewas dan 265 orang hilang di Kabupaten Gyirong. Dengan demikian, sedikitnya 160 orang telah dipastikan meninggal dunia di kedua sisi perbatasan, sementara ratusan lainnya masih belum diketahui keberadaannya.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan laporan awal pada 26 Agustus yang menyebut 17 jenazah telah ditemukan. Data korban terus berubah seiring berlangsungnya operasi pencarian dan semakin terbukanya akses menuju daerah yang sebelumnya terisolasi.
Di Nepal, sedikitnya 403 orang masih dilaporkan hilang, termasuk 341 warga negara asing. Banyak di antara mereka merupakan wisatawan, pendaki, serta peziarah yang sedang melakukan perjalanan di kawasan Himalaya.
Bencana Datang dengan Sangat Cepat
Bencana dilaporkan mulai terjadi pada pagi hari 26 Agustus 2026. Menurut laporan media Tiongkok, sekitar pukul 10.30 waktu Beijing, longsoran besar dari sisi Nepal telah memicu bencana yang kemudian menghantam kawasan Pelabuhan Gyirong.
Penyebab pasti bencana masih terus diselidiki. Laporan awal sempat mengaitkannya dengan gempa bumi dan longsoran yang menyumbat aliran sungai hingga membentuk bendungan alami.
Namun, perkembangan berikutnya menunjukkan para ahli juga mempertimbangkan kemungkinan runtuhan gletser atau longsoran es dan batu dalam skala besar sebagai pemicu utama. Material tersebut diduga jatuh ke sistem sungai di pegunungan, menghasilkan gelombang air, lumpur, dan puing yang kemudian bergerak dengan sangat cepat menuju kawasan di bawahnya.
Besarnya volume material membuat aliran tersebut berubah menjadi banjir bandang yang sangat destruktif.
Rekaman yang beredar dari kawasan perbatasan memperlihatkan bagaimana arus berwarna cokelat pekat menerjang bangunan dan kendaraan dalam hitungan detik. Di kawasan Pelabuhan Gyirong, derasnya aliran lumpur bahkan digambarkan menyerupai gelombang besar yang menyapu hampir semua benda di jalurnya.
Rekaman kamera pengawas yang beredar di media sosial juga memperlihatkan sejumlah bus dan kendaraan berada di kawasan pelabuhan sebelum bencana menerjang. Orang-orang terlihat berusaha meninggalkan lokasi ketika aliran besar mulai mendekat.
Namun, kecepatan datangnya bencana membuat waktu untuk menyelamatkan diri sangat terbatas.
Bangunan, area parkir, kendaraan, serta fasilitas di kawasan perbatasan dilaporkan mengalami kerusakan berat. Besarnya jumlah orang yang berada di lokasi ketika bencana terjadi kemudian menimbulkan kekhawatiran bahwa angka korban masih dapat bertambah.
Gyirong Terisolasi, 265 Orang Hilang
Di wilayah Tibet, situasi tidak kalah serius.
Hingga pukul 20.00 pada 26 Agustus 2026, otoritas Tiongkok mencatat tiga orang meninggal dan 265 orang masih hilang akibat bencana di Kabupaten Gyirong. Jumlah korban masih dalam proses verifikasi.
Tim penyelamat bahkan sempat kesulitan melakukan kontak dengan kawasan Pelabuhan Gyirong.
Pemantauan menggunakan pesawat nirawak menunjukkan jalan menuju kawasan tersebut mengalami kerusakan sangat parah. Lumpur di beberapa titik dilaporkan mencapai kedalaman sekitar 1,5 hingga 2 meter, sehingga alat berat harus membuka kembali akses secara perlahan.
Ancaman belum berakhir.
Hujan masih turun di sekitar lokasi dan kondisi lereng pegunungan dinilai tidak stabil. Petugas memperingatkan adanya risiko longsor susulan, kenaikan permukaan air, dan aliran lumpur berikutnya, sehingga operasi penyelamatan harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Di sisi Nepal, operasi pencarian juga menghadapi kendala besar. Jalan dan jembatan rusak, sementara tingginya permukaan air dan kondisi medan membuat helikopter tidak selalu dapat mendarat di daerah yang paling membutuhkan bantuan.
Ratusan Wisatawan Belum Ditemukan
Skala internasional bencana ini mulai terlihat setelah otoritas Nepal mengumumkan bahwa ratusan warga asing termasuk di antara mereka yang belum ditemukan.
Kawasan perbatasan Nepal–Tibet merupakan jalur penting bagi wisatawan dan peziarah yang menuju sejumlah destinasi Himalaya, termasuk perjalanan menuju kawasan Gunung Kailash di Tibet.
Karena itu, ketika banjir bandang datang, terdapat banyak kelompok wisatawan yang sedang melakukan perjalanan melalui kawasan tersebut.
Laporan terbaru menyebut warga dari berbagai negara, termasuk India, Amerika Serikat, Inggris, Australia dan Kanada, termasuk di antara orang-orang yang belum diketahui keberadaannya.
Pemerintah Nepal kini mengerahkan pasukan keamanan, tim penyelamat dan helikopter untuk mencari korban serta mengevakuasi penduduk dari kawasan yang masih berisiko terkena banjir susulan.
Xi Jinping Perintahkan Operasi Penyelamatan
Di Tiongkok, Presiden Xi Jinping memerintahkan upaya maksimal untuk menyelamatkan korban, memastikan jumlah orang hilang, serta mencegah jatuhnya korban tambahan.
Perdana Menteri Li Qiang juga mengeluarkan instruksi penanganan darurat. Wakil Perdana Menteri Zhang Guoqing kemudian dikirim bersama pejabat terkait menuju kawasan terdampak untuk mengarahkan operasi penyelamatan.
Besarnya jumlah orang yang hilang dan terputusnya jalur komunikasi membuat gambaran lengkap mengenai kehancuran di Pelabuhan Gyirong belum sepenuhnya diketahui.
Bencana 26 Agustus 2026 ini kini menjadi salah satu bencana alam paling mematikan yang melanda kawasan Himalaya sepanjang tahun ini.
Dengan ratusan orang masih hilang, jalan menuju sejumlah daerah terdampak belum sepenuhnya terbuka, dan risiko longsor susulan masih mengancam, operasi pencarian diperkirakan akan berlangsung dalam kondisi yang sangat sulit.
Untuk saat ini, perhatian utama tim penyelamat adalah berpacu dengan waktu—mencari mereka yang masih mungkin bertahan hidup di tengah lumpur, reruntuhan dan kawasan pegunungan yang terisolasi.
Sementara penyebab pasti bencana masih terus dianalisis, satu hal telah terlihat jelas: dalam hitungan menit, aliran air, lumpur dan bebatuan dari Himalaya mampu mengubah kawasan perbatasan yang ramai menjadi zona bencana besar, meninggalkan korban dalam jumlah sangat besar di Nepal maupun Tibet. (***)


