Korban Tewas dan Hilang Akibat Banjir Bandang di Perbatasan Tiongkok–Nepal Lebih dari 2.000 Orang, Ancaman Jebolnya Danau Bendungan Alami Makin Parah

Beberapa hari terakhir, banjir bandang dan longsor dahsyat melanda perbatasan Tibet, Tiongkok dan Nepal. Bencana tersebut menimbulkan banyak korban, setidaknya 2.500 orang tewas dan hilang.

EtIndonesia.com  Pada Rabu (26 Agustus), terjadi keruntuhan gletser di wilayah perbatasan Tibet dan Nepal. Batu-batu besar, bongkahan es, lumpur, dan material longsoran dalam jumlah besar meluncur ke bawah, memicu banjir bandang serta longsor berskala besar dan menyebabkan banyak korban.

Banyak keluarga mencari nama anggota keluarga mereka yang hilang di papan pengumuman. Seorang warga Nepal mengatakan bahwa ia kehilangan ibu, tiga saudara perempuan, dan seorang anak berusia lima tahun.

“Mereka bahkan memasang foto-foto mereka, tetapi kami tidak tahu apa-apa. Kami sama sekali tidak tahu bagaimana keadaan di sana. Sudah tiga hari dan tidak ada kabar apa pun tentang keluarga saya. Saya sudah tidak memiliki keluarga lain. Sekarang saya sendirian di sini. Saya tidak tahu harus pergi ke mana dan tidak tahu harus berbuat apa,” ujar korban banjir, Rani Gupta. 

Di terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air di Sungai Trishuli, petugas penyelamat Nepal menerobos lumpur tebal untuk menyelamatkan para pekerja dan warga yang terjebak akibat banjir. Sejauh ini, 350 orang telah berhasil diselamatkan.

Selain itu, di wilayah perbatasan Tiongkok–Nepal, material gletser akibat longsor membentuk sebuah danau bendungan alami. Danau tersebut mulai meluap dan sebagian tanggul alaminya telah jebol. 

Kondisi ini menyebabkan operasi pencarian dan penyelamatan dihentikan sementara selama 90 menit, sementara warga setempat bergegas menuju daerah yang lebih tinggi untuk mengungsi.

Petugas proyek dari pihak Tiongkok mengatakan bahwa volume air yang tertampung telah melebihi 2,5 juta meter kubik.


“Banjir telah menimbulkan masalah besar bagi kami. Rumah-rumah kami sekarang penuh dengan lumpur. Kami masih muda, tetapi berjalan dan mengungsi saja sudah sangat sulit. Bayangkan betapa sulitnya bagi orang-orang lanjut usia dalam situasi seperti ini,”ujar warga setempat, Indira Adhikari. 

Pihak berwenang Nepal mengatakan risiko banjir akan terus berlangsung hingga dua danau bendungan alami tersebut benar-benar dikeringkan, dan kondisi terus dipantau secara ketat.

Hingga berita ini diturunkan, di Nepal sedikitnya 579 orang meninggal dunia, 1.473 orang terluka, dan 1.924 orang masih hilang. Di antara yang hilang terdapat hingga 540 warga asing dari 31 negara. Ribuan rumah juga hancur.

Media pemerintah Tiongkok menyatakan bahwa hingga Jumat (28 Agustus), 7 orang telah dipastikan meninggal dunia dan 554 orang masih hilang. Karena pemerintah PKT selama ini kerap menutupi fakta sebenarnya, jumlah korban yang sesungguhnya belum diketahui.

Sejumlah pakar Barat menganalisis bahwa keruntuhan gletser dan longsor yang menyebabkan sejumlah besar material tanah dan batu masuk ke aliran sungai kemungkinan menjadi salah satu penyebab bencana.

Namun, seorang pakar dari Taiwan mempertanyakan hal tersebut. Ia menilai bahwa bencana ini mungkin juga berkaitan dengan kerusakan lingkungan akibat proyek-proyek pembangunan Tiongkok dalam jangka panjang, seperti peledakan gunung untuk pembangunan jalan dan pembangunan bendungan.


“Proyek-proyek pembangunan Tiongkok (PKT) selama ini selalu merupakan proyek yang seolah-olah menentang alam. Pembangunan dan konstruksi seharusnya benar-benar mengikuti kondisi alam dan bentuk medan, bukan menggunakan konsep yang disebut ‘melawan kehendak alam’ dan ‘manusia pasti bisa menaklukkan alam’’,” ujar Lin Ting-hui, Wakil Sekretaris Jenderal Taiwan International Law Association. 

“Ketika tanah dan batuan menjadi longgar, ditambah dengan pencairan gletser, tentu akan ada sejumlah besar lumpur dan pasir yang terbawa ke wilayah hilir sehingga menimbulkan kerusakan serius,” ujarnya. 

“Karena itu, menurut saya, masalah ini sama sekali bukan sekadar bencana alam. Saya menilai faktor ulah manusia justru memiliki porsi yang lebih besar dibandingkan faktor bencana alam,” tambahnya.

“Saya sering mengamati Partai Komunis Tiongkok (PKT). Karena mereka tidak percaya pada Tuhan maupun hal-hal spiritual, mereka menganggap manusia dapat menaklukkan alam. Namun, kita tahu bahwa manusia harus memiliki rasa hormat dan kewaspadaan terhadap alam. Alam pada akhirnya akan memberikan reaksinya,” pungkasnya. 

Reporter NTDTV: Guo Yuexi dan Chang Chun

INSPIRASI ERABARU

Benarkah Pepatah “Miskin Sesungguhnya Mudah Dijalani, Pura-pura Kaya Sulit Ditanggung”?

Mengakui bahwa diri tidak punya uang memberi seseorang ruang untuk hidup sesuai kemampuan. Sebaliknya, berpura-pura kaya membuat seseorang harus terus mempertahankan sebuah sandiwara yang...

Bagaimana Topi Biasa Menjadi Simbol Jabatan dalam Sejarah Tradisional Tiongkok

Topi kasa hitam pada awalnya hanyalah penutup kepala sehari-hari yang dikenakan baik oleh rakyat biasa maupun para juru tulis. Dibutuhkan waktu sekitar seribu tahun—serta...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine