Warga Terdampak Banjir di Fujian dan Zhejiang, Tiongkok, Keluhkan Waduk Melepaskan Air Tanpa Peringatan

Akibat pengaruh Topan Saudel, berbagai wilayah di Tiongkok, termasuk Fujian dan Zhejiang, dilanda hujan deras selama beberapa hari berturut-turut. Pada 1 September dini hari, sejumlah wilayah di Kota Quanzhou, Fujian, serta Kota Huzhou dan Kabupaten Anji di Zhejiang, berubah menjadi seperti sungai. Banyak toko dan kendaraan terendam air dan mengalami kerugian besar. Warga terdampak mengeluhkan bahwa waduk melepaskan air tanpa peringatan sehingga mereka tidak sempat melakukan persiapan.

EtIndonesia.com  Pada 31 Agustus, hujan deras melanda sejumlah wilayah Fujian. Sementara itu, Waduk Huinü (Huinü Reservoir) yang berada di Kabupaten Hui’an, Quanzhou, juga melepaskan air. Akibatnya, Kabupaten Hui’an dan Kota Heshi dilanda banjir pada malam hari. Jalan-jalan berubah menjadi aliran air, sementara banyak toko, garasi bawah tanah, dan kendaraan terendam.

Video yang beredar di internet menunjukkan sebuah mobil di Kota Heshi terseret arus banjir hingga masuk ke sungai. Seorang perempuan di Kabupaten Hui’an bahkan terlihat berpegangan pada bagian belakang mobil agar tidak terseret banjir.

“Hujannya turun sangat deras. Saluran pembuangan air tersumbat sehingga air kembali meluap. Beberapa mobil sudah menerobos genangan dan alarmnya berbunyi. Di jalan ini saja, menurut perkiraan saya, ada lebih dari seratus mobil yang terendam. Truk derek sangat sibuk. Semua truk derek di Quanzhou dikerahkan,” ujar Liu, warga Kota Heshi, Distrik Luojiang, Quanzhou, Fujian. 

Dua waduk besar di Kota Putian, Fujian, yaitu Waduk Dongzhen dan Waduk Waidu, juga melepaskan air. Pada dini hari 1 September, desa-desa dan permukiman di hilir waduk terendam banjir.

Chen, Chen, warga Kota Baitang, Distrik Hanjiang, Putian, Fujian, mengeluhkan bahwa masyarakat tidak menerima pemberitahuan mengenai pelepasan air dari waduk. Setiap kali hujan deras turun, warga langsung khawatir waduk akan melepaskan air. Menurutnya, warga sudah sangat trauma dengan banjir, bahkan mereka yang memiliki uang telah membeli rumah di kota dan pindah untuk tinggal di sana.

“Hujan turun sangat deras dan airnya sangat banyak. Rumah saya terendam. Deretan rumah ini semuanya mengalami hal yang sama, begitu juga rumah-rumah di sekitarnya. Sudah berkali-kali kebanjiran. Kami takut, tetapi tidak punya uang untuk membeli rumah. Sangat sulit. Di rumah kami tidak ada barang berharga, hanya kulkas dan mesin cuci yang rusak karena terendam,” katanya. 

Pada malam 31 Agustus, Kabupaten Anji, Kota Huzhou, Zhejiang, dilanda hujan sangat deras. Dalam waktu sekitar setengah bulan, Kabupaten Anji telah mengalami dua kali bencana banjir.

Pada dini hari 1 September, jalan-jalan di Kota Tianhuangping dan Desa Liujiatang berubah menjadi aliran air. Di Kota Tianhuangping terdapat sebuah pembangkit listrik tenaga air, sementara di Desa Liujiatang terdapat sebuah waduk kecil bernama Waduk Shizishi. Warga terdampak mengeluhkan bahwa pelepasan air dilakukan tanpa peringatan, sehingga menyebabkan kerugian harta benda yang sangat besar.

“Anji dikelilingi pegunungan di keempat sisinya, jadi kami sebenarnya bisa menghadapi topan. Masalahnya adalah hujan deras. Waduk-waduk sedang melepaskan air. Air sebesar ini datang pada tengah malam. Kami berhasil menyelamatkan beberapa mobil. Air sebesar ini sangat jarang terjadi. Selama puluhan tahun, baru kali ini saya mengalaminya,” kata Zhang, warga Kecamatan Shangshu, Kabupaten Anji, Huzhou, Zhejiang. 

Warga terdampak di Desa Liujiatang mengatakan bahwa sebagian besar penduduk desa adalah orang lanjut usia dan anak-anak. Tidak ada pemberitahuan untuk melakukan evakuasi dan tidak ada bantuan penyelamatan. Mereka menghabiskan sepanjang malam dalam ketakutan dan tidak bisa tidur.

“Hujannya sangat deras dan turun dengan cepat, disertai petir. Di depan rumah saya air sudah meluap. Rumah sudah terendam sampai setinggi tempat tidur. Saya tidak berani tidur. Air akan masuk ke dalam rumah. Saya benar-benar hampir tidak sanggup berdiri dan membutuhkan bantuan penyelamatan,” kata Wang, warga Desa Liujiatang, Kecamatan Shangshu, Kabupaten Anji, Huzhou, Zhejiang. 

“Selama lebih dari sepuluh tahun tidak pernah terjadi banjir seperti ini, jadi kami tidak punya persiapan. Barang-barang terlalu banyak dan kami tidak tahu harus memindahkan yang mana. Sebaiknya ada karung pasir, kalau tidak, ruang bawah tanah saya akan terendam seluruhnya,” katanya. 

Dilaporkan oleh reporter NTDTV, Xiong Bin dan Chen Jianming.

INSPIRASI ERABARU

Cara Mengenali Tanda-Tanda Peringatan Stroke dan Mencegah Kerusakan Otak dengan Pengobatan Tradisional Tiongkok

Seorang dokter pengobatan tradisional Tiongkok (PTT) yang berbasis di Taiwan memaparkan berbagai sinyal fisik yang dikirim tubuh sebelum stroke terjadi, menjelaskan patologi yang mendasarinya...

Jerat Algoritma dan Hilangnya Rasa Hormat: Refleksi Etika Digital dari Kematian Tragis Dua Konten Kreator

Kehidupan di era digital telah bergeser dari sekadar ruang berbagi informasi menjadi panggung perebutan perhatian tanpa batas. Di bawah kendali algoritma yang tak kasat...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine