Sepuluh hari setelah banjir dahsyat terjadi di perbatasan Nepal dan Tibet, Tiongkok, pada Sabtu (5 September), Nepal kembali berhasil menyelamatkan dua orang yang selamat, masing-masing seorang pekerja asal Tiongkok dan seorang perempuan Nepal.
EtIndonesia.com Hingga Sabtu 5 September 2026, Nepal melaporkan 1.344 orang meninggal dunia dan 4.898 orang masih hilang. Sementara dari pihak Tibet, pemerintahan partai komunis Tiongkok mengklaim 31 orang meninggal dan 531 orang hilang. Namun, banyak keluarga korban menuduh pemerintah Tiongkok tidak melakukan tindakan yang semestinya, sehingga kondisi bencana yang sebenarnya kemungkinan jauh lebih parah.
Pekerja asal Henan bernama Lu Haitao akhirnya berhasil diselamatkan setelah bertahan selama 10 hari di dalam sebuah terowongan. Setelah dievakuasi, petugas penyelamat Nepal di dalam helikopter terlebih dahulu memeriksa kondisi kesehatannya.
Pada hari yang sama, tim penyelamat juga berhasil menyelamatkan seorang warga Nepal berusia lebih dari 60 tahun dari lantai empat sebuah bangunan tempat tinggal yang runtuh.
Banjir kali ini melumpuhkan sebagian pasokan listrik di Nepal. Pemerintah mempercepat perbaikan jaringan listrik di distrik Rasuwa, salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah.
Amerika Serikat, Australia, India, dan sejumlah negara lainnya telah mengirimkan tim penyelamat ke daerah bencana. Australia terus melakukan pencarian terhadap 36 warganya yang masih hilang.
Ahli geologi dan pakar penyelamatan asal Australia, Dix, menunjukkan bahwa kondisi di dalam terowongan berbeda dengan di permukaan. Terowongan dapat melindungi dari angin dan hujan, sementara suhunya relatif stabil. Bahkan ketika segala sesuatu di permukaan telah hancur, di dalam terowongan masih mungkin terdapat udara yang dapat digunakan untuk bernapas serta ruang untuk berlindung.
Sementara itu, banyak keluarga warga Tiongkok yang hilang kini berada dalam penderitaan dan ketidakpastian.
Media Inggris The Guardian melaporkan bahwa seorang perempuan asal Sichuan bernama Fan Hong terus menunggu kabar mengenai suaminya, Lin Bo. Sejak 2024, Lin Bo terlibat dalam proyek perbaikan jalan yang menghubungkan Nepal dengan pos perbatasan Gyirong di Tibet. Lokasi proyek tersebut berjarak sekitar 5 kilometer dari pos perbatasan Gyirong.
Fan Hong telah berkali-kali menghubungi pihak berwenang Tiongkok, tetapi tidak memperoleh jawaban yang jelas. Ia mengungkapkan bahwa keluarga para korban yang hilang telah meminta pihak berwenang mengizinkan mereka menyewa drone atau helikopter sendiri untuk memasuki daerah bencana, tetapi tidak mendapat tanggapan.
Reuters juga melaporkan bahwa Priyanka Choudhary, seorang warga negara Finlandia keturunan India yang hilang dalam bencana banjir tersebut, belum diketahui nasibnya. Saudara laki-lakinya mengkritik pemerintah PKT karena tidak memberikan informasi terbaru apapun mengenai kondisi di daerah bencana. Keluarga juga tidak dapat pergi ke Tiongkok.
Laporan gabungan reporter New Tang Dynasty Television, An Qi dan Rong Yu.


