EtIndonesia.com— Tekanan terhadap Iran semakin memasuki fase kritis. Di tengah berlanjutnya konflik dengan Amerika Serikat, muncul tanda-tanda bahwa sebagian elite politik tertinggi di Teheran mulai mempertimbangkan secara serius bagaimana mengakhiri perang sebelum tekanan ekonomi dan militer semakin mempersempit ruang gerak Iran.
Pada Senin, 7 September 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membagikan sebuah laporan The Wall Street Journal melalui akun Truth Social miliknya. Artikel yang dibagikan itu berjudul “Iran’s Top Politicians Urge an End to the War”, yang membahas dorongan sejumlah pemimpin politik Iran untuk mencari jalan keluar dari konflik.
Trump membagikan laporan tersebut tanpa memberikan komentar tambahan. Namun keputusan Presiden AS itu menarik perhatian karena laporan tersebut menggambarkan perdebatan yang semakin terbuka di tingkat tertinggi pemerintahan Iran mengenai masa depan perang.
Tokoh utama yang disebut mendorong pendekatan tersebut adalah Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Keduanya pada dasarnya menilai bahwa Iran perlu mempertimbangkan penyelesaian konflik ketika Teheran masih memiliki sejumlah kartu tawar, daripada menunggu sampai kondisi ekonomi dan posisi strategis negara semakin memburuk.
Pezeshkian sebelumnya mengatakan bahwa perang pada akhirnya harus berakhir. Menurut pandangannya, akan lebih baik bagi Iran mengakhiri konflik ketika negara tersebut masih dapat mengklaim berada dalam posisi kuat dan mempertahankan martabatnya.
Ghalibaf bahkan memberikan peringatan lebih keras mengenai kondisi dalam negeri. Menurutnya, kekuatan militer saja tidak cukup mempertahankan sebuah negara apabila masyarakat mengalami kesulitan, perputaran uang terganggu, pertumbuhan ekonomi melemah, dan produksi nasional tidak berkembang.
Pernyataan seperti itu menjadi penting karena memperlihatkan bahwa perhitungan mengenai perang tidak lagi semata-mata berkaitan dengan rudal, kapal perang, pertahanan udara ataupun kemampuan Iran mengancam jalur pelayaran internasional.
Ekonomi kini menjadi bagian utama dari kalkulasi perang Teheran.
Di lingkungan kepemimpinan Iran sendiri, pendekatan terhadap konflik tampaknya belum sepenuhnya seragam. Sebagian pejabat politik dan pemerintah cenderung melihat diplomasi sebagai jalan yang perlu kembali dibuka. Namun kelompok garis keras, khususnya yang berhubungan dengan struktur keamanan dan militer, dinilai masih lebih siap menghadapi konfrontasi berkepanjangan.
Perbedaan tersebut menciptakan dilema besar bagi Teheran.
Semakin lama perang berlangsung, semakin besar pula kemungkinan kemampuan tawar Iran terkikis. Dengan kata lain, apabila Teheran memang pada akhirnya harus kembali ke meja perundingan, kesepakatan yang bisa diperoleh beberapa bulan mendatang belum tentu sebaik kesepakatan yang mungkin diperoleh sekarang.
Tekanan itu semakin terasa karena salah satu senjata strategis terbesar Iran, yakni kemampuannya mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz, menghadapi tantangan serius.
Selat Hormuz selama puluhan tahun menjadi salah satu kartu strategis terpenting Iran. Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut merupakan urat nadi perdagangan energi dunia. Kemampuan Iran mengancam kapal tanker yang melewati kawasan itu secara otomatis memberikan Teheran pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan ukuran ekonominya.
Namun negara-negara Teluk kini semakin serius berusaha mengurangi ketergantungan mereka terhadap jalur tersebut.
Pada 7 September 2026, Uni Emirat Arab menyatakan tengah mengembangkan jalur alternatif bagi perdagangan dan ekspor energinya. Langkah itu mencakup peningkatan kapasitas pelabuhan di sisi timur, jaringan pipa, serta koridor perdagangan alternatif. Penasihat Presiden UEA Anwar Gargash menegaskan bahwa aktivitas energi dan ekonomi negaranya tidak boleh terus menjadi “sandera” konflik regional.
Apabila pembangunan infrastruktur alternatif semacam ini terus diperluas oleh negara-negara Teluk, dalam jangka panjang kemampuan Iran menggunakan Hormuz sebagai alat tekanan politik berpotensi berkurang.
Namun ancaman terbesar terhadap kartu Hormuz Iran bukan hanya datang dari pembangunan jalur alternatif.
Sebuah laporan Financial Times yang diterbitkan pada 6 September 2026 mengungkap operasi berisiko tinggi yang selama beberapa bulan terakhir dilakukan Amerika Serikat untuk membersihkan ranjau laut di Selat Hormuz.
Menurut laporan tersebut, operasi rahasia itu berlangsung selama sekitar empat bulan dan melibatkan personel khusus Angkatan Laut Amerika Serikat, termasuk Navy SEAL, serta wahana robotik dan kendaraan bawah air.
Operasi tersebut menjadi sangat berbahaya karena militer AS tidak dapat hanya mengandalkan kapal penyapu ranjau konvensional.
Sebagai gantinya, tim-tim kecil dikerahkan untuk bergerak terutama pada malam hari. Mereka menggunakan berbagai sistem untuk mencari ranjau yang diduga ditempatkan di jalur pelayaran strategis.
Dalam beberapa operasi, penyelam harus mendekati ranjau secara langsung di bawah permukaan laut. Setelah sasaran ditemukan, bahan peledak ditempatkan pada ranjau untuk kemudian dihancurkan secara terkendali.
Metode seperti ini memiliki risiko luar biasa tinggi.
Penyelam tidak hanya menghadapi kemungkinan ledakan ranjau. Mereka juga beroperasi di kawasan yang berada dalam jangkauan sistem pengawasan dan persenjataan Iran, sementara operasi berlangsung di tengah konflik aktif.
Financial Times melaporkan bahwa sekitar 80 ranjau diperkirakan telah ditempatkan di jalur-jalur strategis setelah pecahnya konflik pada Februari 2026. Meskipun Trump kemudian mengklaim seluruh ranjau telah dibersihkan, masih terdapat keraguan mengenai sejauh mana Selat Hormuz benar-benar telah terbebas dari ancaman.
Masalahnya, ranjau bukan satu-satunya bahaya.
Kapal-kapal yang melintas masih harus memperhitungkan kemungkinan serangan rudal, drone dan berbagai bentuk gangguan lainnya. Kekhawatiran itu membuat perusahaan pelayaran serta perusahaan asuransi tetap berhati-hati meskipun Amerika Serikat berusaha meyakinkan bahwa keamanan jalur pelayaran telah meningkat.
Dengan demikian, pertempuran di Hormuz kini tidak hanya berlangsung dalam bentuk konfrontasi militer, tetapi juga menjadi perang psikologis dan perang persepsi.
Iran berkepentingan mempertahankan kesan bahwa Teheran masih mampu mengendalikan atau setidaknya mengancam jalur tersebut. Sebaliknya, Washington berkepentingan membuktikan bahwa kemampuan Iran mengganggu perdagangan internasional dapat dilumpuhkan.
Pada saat bersamaan, kondisi ekonomi Iran memberikan tekanan tambahan.
Reuters melaporkan pada 2 September 2026 bahwa blokade laut Amerika Serikat telah menyebabkan penurunan tajam ekspor minyak Iran. Menurut laporan tersebut, ekspor yang sebelumnya berada di sekitar dua juta barel per hari telah merosot menjadi sekitar 240.000 barel per hari.
Jika kondisi itu berlangsung lama, dampaknya bukan hanya terhadap pemasukan pemerintah, tetapi juga terhadap nilai mata uang, inflasi, kemampuan membiayai operasi militer, hingga stabilitas sosial di dalam negeri.
Inilah yang menjelaskan mengapa perdebatan mengenai jalan keluar perang semakin penting di Teheran.
Iran masih memiliki kemampuan militer, masih memiliki pengaruh geografis di Selat Hormuz, dan masih mempunyai kartu yang dapat digunakan dalam negosiasi. Namun pertanyaan bagi kepemimpinan Iran kini bukan sekadar apakah mereka masih mampu bertempur.
Pertanyaan yang jauh lebih menentukan adalah: berapa lama Iran mampu mempertahankan perang tanpa membuat biaya yang harus dibayar negara menjadi lebih besar daripada keuntungan strategis yang ingin dipertahankan?
Karena itu, dorongan Pezeshkian dan Ghalibaf untuk mempertimbangkan penyelesaian konflik dapat dibaca sebagai tanda bahwa sebagian elite Iran melihat adanya batas waktu strategis.
Jika perundingan dilakukan sekarang, Teheran mungkin masih memiliki sesuatu untuk ditawarkan dan dipertukarkan.
Namun apabila perang terus berlanjut sementara ekspor minyak ditekan, jalur alternatif Hormuz semakin berkembang, dan Amerika Serikat terus mengurangi ancaman ranjau serta meningkatkan keamanan pelayaran, posisi tawar tersebut dapat semakin menyusut.
Dengan kata lain, perlombaan yang berlangsung saat ini bukan hanya mengenai siapa yang mampu bertahan lebih lama di medan perang.
Ini juga merupakan perlombaan antara tekanan ekonomi, kekuatan militer, diplomasi, dan waktu.
Dan untuk pertama kalinya dalam fase terbaru konflik ini, perdebatan tentang bagaimana perang harus diakhiri tampaknya telah bergerak semakin dekat ke pusat kekuasaan di Teheran. (***)


