Israel Hancurkan ‘Pusat Saraf’ Hizbullah! Iran Diperingatkan Jangan Coba Menyerang

EtIndonesia.com  Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat pada Kamis, 10 September 2026, setelah Israel mengeluarkan peringatan keras kepada Iran di tengah kekhawatiran bahwa tekanan ekonomi yang semakin berat terhadap Teheran dapat mendorong pemerintah Iran mengambil langkah militer yang lebih berisiko.

Pada saat yang hampir bersamaan, militer Israel menyelesaikan operasi besar untuk menghancurkan jaringan infrastruktur bawah tanah Hizbullah di Punggungan Ali al-Taher, Lebanon selatan. Kawasan strategis tersebut selama bertahun-tahun disebut menjadi salah satu pusat militer penting Hizbullah.

Dua perkembangan ini memperlihatkan bagaimana Israel kini menghadapi dua persoalan keamanan yang saling berkaitan: ancaman langsung dari Iran dan keberadaan jaringan Hizbullah di Lebanon yang selama bertahun-tahun memperoleh dukungan dari Teheran.

Katz Peringatkan Iran: Jangan Menyerang Israel

Pada 10 September 2026, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz kembali memperingatkan pemerintah Iran agar tidak mencoba melancarkan serangan terhadap negaranya.

Menurut Katz, tekanan ekonomi yang sangat berat terhadap Iran dapat menciptakan situasi berbahaya. Pemerintah di Teheran, katanya, mungkin saja memilih tindakan militer sebagai respons terhadap tekanan yang semakin besar.

Katz memperingatkan bahwa setiap serangan Iran terhadap wilayah Israel, apa pun alasan maupun lokasinya, akan mendapatkan balasan yang sangat keras.

Ia bahkan secara khusus menyebut bahwa fasilitas energi utama Iran dapat menjadi bagian dari sasaran pembalasan Israel. Menurut pernyataannya, fasilitas tersebut memiliki peran penting karena memberikan sumber daya ekonomi yang mendukung kemampuan militer Iran.

Pernyataan Katz bukan ancaman pertama. Pada 3 September 2026, ia juga mengatakan bahwa tekanan ekonomi berat serta kekhawatiran terhadap meningkatnya ketidakpuasan di dalam negeri dapat mendorong Teheran mengambil langkah yang dianggap putus asa.

Peringatan terbaru pada 10 September menunjukkan bahwa pemerintah Israel masih menganggap kemungkinan serangan Iran sebagai ancaman yang serius.

Militer Israel pun disebut berada dalam kesiapan tinggi untuk menghadapi berbagai skenario.

Iran Berusaha Memulihkan Kekuatan Rudalnya

Kekhawatiran Israel semakin besar setelah muncul laporan bahwa Iran sedang berusaha membangun kembali kemampuan rudal balistiknya.

Laporan terbaru menyebut Iran kembali memproduksi rudal balistik dengan memanfaatkan komponen yang sebelumnya telah disimpan. Sebagian proses perakitan dilaporkan berlangsung di fasilitas bawah tanah, sementara Teheran juga membangun lokasi-lokasi baru yang lebih terlindungi dari kemungkinan serangan udara.

Aktivitas dilaporkan terlihat di sejumlah fasilitas penting, termasuk kompleks rudal Khojir.

Namun kemampuan produksi Iran diyakini masih menghadapi keterbatasan akibat kerusakan terhadap sejumlah fasilitas industri dan kesulitan memperoleh beberapa komponen penting.

Meski demikian, fakta bahwa proses produksi rudal kembali berlangsung menjadi perhatian serius bagi Israel.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berulang kali menegaskan bahwa pemerintahnya tidak akan membiarkan Iran membangun kembali kemampuan strategis yang dianggap dapat mengancam keberadaan Israel, terutama apabila kemampuan tersebut berkaitan dengan rudal balistik dan program nuklir.

Pada saat bersamaan, perhatian internasional juga tertuju pada aktivitas Iran di kawasan pegunungan dekat fasilitas nuklir Natanz. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 10 September 2026 bahkan memperingatkan Teheran mengenai aktivitas di fasilitas bawah tanah yang dikenal sebagai Pickaxe Mountain, dekat kompleks Natanz.

Israel Hancurkan Kompleks Bawah Tanah Hizbullah

Ketika ketegangan dengan Iran meningkat, Israel juga menyelesaikan salah satu operasi militernya yang paling penting di Lebanon selatan.

Pada 10 September 2026, militer Israel mengumumkan telah menghancurkan infrastruktur bawah tanah Hizbullah di kawasan Punggungan Ali al-Taher.

Lokasi tersebut berada sekitar 15 kilometer dari perbatasan Israel dan memiliki posisi geografis yang sangat strategis karena ketinggiannya memungkinkan pengawasan terhadap wilayah luas di sekitarnya.

Operasi Israel sebenarnya telah berlangsung selama beberapa pekan.

Pada 3 September 2026, Pasukan Pertahanan Israel atau IDF mengumumkan bahwa pasukannya telah memperoleh kendali operasional atas punggungan tersebut, termasuk sebagian infrastruktur bawah tanahnya.

Kemudian pada 4 September, Menteri Pertahanan Israel Katz mengatakan bahwa pasukan Israel telah membersihkan para anggota Hizbullah yang bertahan di dalam jaringan terowongan. Menurut militer Israel, sebagian anggota Hizbullah tewas dalam operasi tersebut, sedangkan lainnya meninggalkan kawasan itu. Hizbullah ketika itu tidak segera memberikan tanggapan terhadap klaim Israel.

Setelah memperoleh kendali atas kawasan permukaan dan bawah tanah, pasukan Israel mempersiapkan penghancuran fasilitas tersebut.

Pada 10 September, proses penghancuran akhirnya dilaksanakan.

Dibangun Selama Sekitar Dua Dekade

Menurut militer Israel, kompleks bawah tanah Ali al-Taher bukan sekadar kumpulan terowongan perlindungan biasa.

Fasilitas tersebut disebut telah dikembangkan Hizbullah selama kurang lebih 20 tahun dan digunakan sebagai salah satu pusat penting bagi unit Badr Hizbullah.

Di dalamnya terdapat ruang komando, tempat penyimpanan persenjataan dan fasilitas yang memungkinkan personel bertahan dalam waktu lama.

Israel mengatakan kompleks tersebut digunakan untuk mendukung operasi terhadap pasukan Israel maupun wilayah Israel.

Militer Israel juga melaporkan menemukan berbagai jenis persenjataan di kawasan tersebut, termasuk roket, drone dan bahan peledak.

Keberadaan fasilitas sebesar itu menunjukkan betapa pentingnya sistem bawah tanah dalam strategi pertahanan Hizbullah di Lebanon selatan. Infrastruktur semacam ini memungkinkan kelompok tersebut menyimpan persenjataan sekaligus melindungi personelnya dari pengamatan dan serangan udara.

Israel menyebut kompleks Ali al-Taher sebagai salah satu pusat penting aktivitas militer Hizbullah di kawasan tersebut.

Pertempuran Belum Tentu Berakhir

Penghancuran kompleks Ali al-Taher memiliki arti strategis lebih luas daripada sekadar penghancuran sebuah jaringan terowongan.

Punggungan tersebut telah menjadi salah satu titik paling diperebutkan dalam konflik Israel-Hizbullah. Bahkan setelah gencatan senjata diumumkan pada Juni 2026, pertempuran di sekitar kawasan itu tidak sepenuhnya berhenti.

Hizbullah dilaporkan beberapa kali menggunakan drone untuk menyerang pasukan Israel yang beroperasi di sekitar punggungan tersebut, sedangkan Israel terus melancarkan serangan dan operasi militer untuk mempertahankan kendalinya.

Amerika Serikat sebelumnya mengusulkan agar kawasan Ali al-Taher diserahkan kepada tentara Lebanon sebagai bagian dari proses yang lebih luas untuk mengurangi keberadaan persenjataan Hizbullah. Namun proses tersebut menghadapi hambatan politik dan keamanan yang serius.

Israel mengatakan penghancuran infrastruktur bawah tanah pada 10 September merupakan langkah untuk memastikan Hizbullah tidak lagi dapat memanfaatkan kompleks tersebut sebagai pusat serangan.

Netanyahu dan Katz bahkan menyatakan operasi tersebut melengkapi pembentukan apa yang Israel sebut sebagai “zona keamanan” di Lebanon selatan.

Namun perkembangan ini juga berpotensi meningkatkan ketegangan.

Bagi Hizbullah, kehilangan posisi strategis dan jaringan bawah tanah yang dibangun selama bertahun-tahun merupakan pukulan terhadap kemampuan operasionalnya di kawasan tersebut. Sementara bagi Iran, tekanan terhadap Hizbullah berarti tekanan terhadap salah satu mitra regional terpenting Teheran.

Karena itulah dua perkembangan pada 10 September 2026—peringatan Israel terhadap Iran dan penghancuran kompleks bawah tanah Hizbullah—tidak dapat sepenuhnya dipandang sebagai peristiwa terpisah.

Israel sedang berusaha menekan dua lapisan ancaman sekaligus: kemampuan militer Iran secara langsung dan jaringan bersenjata yang didukung Teheran di Lebanon.

Kini pertanyaan terbesar adalah bagaimana Iran dan Hizbullah akan merespons.

Jika Teheran memilih meningkatkan tekanan militer terhadap Israel, ancaman Katz menunjukkan bahwa Israel telah menyiapkan kemungkinan serangan balasan yang jauh lebih luas, termasuk terhadap infrastruktur energi Iran.

Sebaliknya, apabila Hizbullah mencoba merebut kembali posisi yang hilang di Lebanon selatan, Punggungan Ali al-Taher dapat kembali menjadi pusat pertempuran.

Dengan demikian, penghancuran benteng bawah tanah pada 10 September 2026 mungkin memang menutup satu fase operasi militer Israel di Lebanon selatan. Namun dalam konteks konflik yang lebih luas antara Israel, Hizbullah dan Iran, peristiwa tersebut justru berpotensi menjadi awal dari babak ketegangan berikutnya. (***)

INSPIRASI ERABARU

Jangan Sembarangan Bersihkan Telinga! Serumen Ternyata Punya Manfaat Penting bagi Kesehatan

Serumen telinga ternyata memiliki peran yang jauh lebih penting dalam melindungi telinga daripada yang mungkin Anda sadari.Emma SuttieSerumen telinga memang lengket dan sedikit menjijikkan—kebanyakan...

Mengapa Kita Masih Membutuhkan Buku Fisik

Oleh Ila BonczekIla meraih gelar Sarjana dari College of Agriculture and Life Sciences, Cornell University. Ia tinggal di Garden State, tempat ia telah menanam...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine