EtIndonesia.com Situasi keamanan di Timur Tengah kembali bergerak menuju fase yang semakin berbahaya. Pada 10 September 2026, perhatian tidak hanya tertuju pada konflik antara Amerika Serikat dan Iran, tetapi juga pada perkembangan di Yaman, Arab Saudi, Lebanon, Gaza, dan Laut Merah. Sejumlah front yang sebelumnya berjalan secara terpisah kini terlihat semakin saling berkaitan.
Salah satu perkembangan yang paling mendapat perhatian datang dari Pakistan.
Menurut laporan media Turkiye yang beredar pada 10 September 2026, Menteri Pertahanan Pakistan disebut memperingatkan bahwa serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi berpotensi memicu mekanisme dalam perjanjian pertahanan bersama yang melibatkan kedua negara.
Dalam skenario tersebut, Islamabad disebut dapat mempertimbangkan permintaan bantuan militer dari Riyadh apabila serangan terhadap wilayah Arab Saudi terus berlanjut.
Bahkan, laporan tersebut menyebut kemungkinan keterlibatan Pakistan dalam operasi militer terhadap Houthi dapat terjadi dalam beberapa hari mendatang. Salah satu sasaran strategis yang disebut adalah Provinsi Saada di Yaman utara, wilayah yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu basis terpenting kelompok Houthi.
Namun, sampai laporan ini disusun, belum terdapat konfirmasi bahwa Pakistan telah mengambil keputusan final untuk mengirim pasukan atau secara langsung menyerang Houthi. Karena itu, kemungkinan intervensi militer Pakistan masih harus dipandang sebagai skenario yang sedang dipertimbangkan, bukan operasi yang telah dipastikan akan berlangsung.
Jika benar-benar terjadi, keterlibatan Islamabad dapat mengubah keseimbangan konflik Yaman secara signifikan. Pakistan memiliki salah satu kekuatan militer terbesar di kawasan dan sejak lama mempunyai hubungan pertahanan yang erat dengan Arab Saudi.
Pemerintah Yaman Tingkatkan Operasi terhadap Houthi
Perkembangan tersebut terjadi ketika pertempuran di dalam Yaman sendiri dilaporkan meningkat tajam.
Dalam rangkaian operasi yang berlangsung menjelang 10 September 2026, pasukan yang bersekutu dengan pemerintah Yaman disebut melancarkan sedikitnya 32 serangan udara terhadap berbagai posisi Houthi.
Serangan dilaporkan berlangsung di beberapa wilayah penting, termasuk Taiz, Hodeidah, Al-Jawf dan Marib, serta sejumlah daerah lainnya.
Setelah mengumumkan dimulainya operasi ofensif baru pada 10 September, pasukan pemerintah Yaman diklaim berhasil menerobos sejumlah garis pertahanan Houthi di Al-Jawf dan Marib.
Kedua wilayah tersebut mempunyai arti strategis besar.
Marib selama bertahun-tahun menjadi salah satu pusat kekuatan utama kelompok anti-Houthi sekaligus kawasan penting bagi sektor energi Yaman. Sementara Al-Jawf memiliki posisi geografis yang sangat penting karena berada di dekat perbatasan Arab Saudi dan dapat menjadi jalur menuju wilayah utara yang dikuasai Houthi.
Apabila tekanan dari arah Marib dan Al-Jawf terus meningkat, Houthi berpotensi dipaksa membagi kekuatannya untuk mempertahankan beberapa front sekaligus.
Situasinya akan menjadi jauh lebih sulit apabila pada saat bersamaan tekanan dari Arab Saudi meningkat dan Pakistan benar-benar memutuskan memberikan dukungan militer secara langsung.
Israel Kirim Peringatan kepada Houthi
Di tengah meningkatnya pertempuran tersebut, Israel juga mengirimkan pesan keras kepada kelompok Houthi.
Komandan Angkatan Laut Israel menegaskan bahwa negaranya tidak akan membiarkan pihak mana pun mengancam kebebasan operasi Israel, baik di kawasan Laut Mediterania maupun Laut Merah.
Pesannya disampaikan secara tegas:
“Jarak tidak akan memberikan kekebalan kepada pihak-pihak yang mengancam Israel.”
Pernyataan tersebut dapat dibaca sebagai peringatan bahwa lokasi Houthi yang berjarak sangat jauh dari wilayah Israel tidak dengan sendirinya membuat kelompok itu aman dari kemungkinan operasi militer Israel.
Israel juga menegaskan bahwa operasinya dapat dilakukan baik secara terbuka maupun melalui metode yang tidak diumumkan kepada publik.
Pernyataan ini menjadi penting karena Laut Merah merupakan jalur perdagangan internasional strategis yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Terusan Suez dan Laut Mediterania.
Gangguan terhadap jalur tersebut tidak hanya berdampak terhadap keamanan Israel, tetapi juga dapat memengaruhi perdagangan internasional dan pergerakan kapal komersial.
Israel Tingkatkan Serangan di Lebanon Selatan
Pada saat perhatian tertuju kepada Houthi, Israel juga meningkatkan operasi terhadap Hizbullah di Lebanon selatan.
Pada 10 September 2026, serangan udara, tembakan artileri dan operasi peledakan dilaporkan menghantam sejumlah sasaran yang dikaitkan dengan Hizbullah.
Di wilayah Mansouri, sedikitnya 29 ledakan dilaporkan terdengar dalam rangkaian operasi tersebut. Tiga lokasi lainnya juga disebut menjadi sasaran serangan Israel.
Skala ledakan yang dilaporkan menunjukkan bahwa operasi tersebut bukan sekadar serangan tunggal terhadap satu posisi, melainkan bagian dari tekanan militer yang lebih luas terhadap infrastruktur Hizbullah di Lebanon selatan.
Israel selama ini memandang kemampuan militer Hizbullah sebagai salah satu ancaman terbesar di perbatasan utaranya. Kelompok tersebut memiliki jaringan posisi pertahanan, persenjataan roket dan rudal, serta infrastruktur bawah tanah yang dibangun selama bertahun-tahun.
Karena itu, setiap operasi besar Israel di Lebanon selatan mempunyai tujuan bukan hanya menghancurkan sasaran tertentu, tetapi juga mengurangi kemampuan Hizbullah mempertahankan jaringan militernya dalam jangka panjang.
Gaza Juga Kembali Menjadi Sasaran
Operasi Israel pada hari yang sama tidak berhenti di Lebanon.
Militer Israel juga dilaporkan menyerang tiga bangunan di Jalur Gaza yang menurut pihak Israel digunakan untuk menyimpan persenjataan Hamas.
Dengan demikian, dalam periode yang hampir bersamaan Israel menghadapi atau melakukan operasi terhadap sejumlah aktor berbeda: Hamas di Gaza, Hizbullah di Lebanon, Houthi yang beroperasi dari Yaman, serta Iran sebagai kekuatan yang oleh Israel dipandang berada di belakang jaringan sekutu dan kelompok bersenjata tersebut.
Perkembangan ini menunjukkan bagaimana konflik Timur Tengah semakin membentuk jaringan medan pertempuran yang saling terhubung.
Netanyahu Kembali Arahkan Tekanan kepada Iran
Di tengah operasi tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 10 September 2026 kembali menyampaikan pernyataan keras mengenai Iran.
Netanyahu mengatakan bahwa salah satu tujuan utama Israel adalah mengalahkan apa yang disebutnya sebagai rezim teror Iran.
Menurut pernyataan yang beredar, Netanyahu mengatakan:
“Tugas utama Israel adalah mengalahkan rezim teror Iran. Kita sudah sangat dekat dengan tujuan tersebut, dan kita pasti akan mencapainya.”
Pernyataan itu menunjukkan bahwa pemerintah Israel memandang konflik dengan kelompok-kelompok seperti Hizbullah dan Houthi sebagai bagian dari konfrontasi regional yang lebih besar dengan Teheran.
Selama bertahun-tahun, Iran membangun hubungan politik, finansial dan militer dengan berbagai kelompok bersenjata di Timur Tengah. Jaringan tersebut kerap disebut sebagai “Poros Perlawanan”, yang mencakup antara lain Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman.
Dari perspektif Israel, melemahkan organisasi-organisasi tersebut berarti sekaligus mengurangi kemampuan Iran untuk memberikan tekanan terhadap Israel melalui sekutu regionalnya.
Houthi dan Hizbullah Menghadapi Tekanan dari Berbagai Arah
Inilah yang membuat perkembangan pada 10 September menjadi penting.
Houthi kini bukan hanya menghadapi pasukan pemerintah Yaman di dalam negeri. Mereka juga menghadapi tekanan dari Arab Saudi, kemungkinan keterlibatan Pakistan, serta ancaman operasi militer Israel apabila serangan terhadap kepentingan Israel terus dilakukan.
Sementara itu, Hizbullah menghadapi tekanan militer Israel yang semakin intensif di Lebanon selatan.
Apabila kedua kelompok tersebut mengalami kemunduran besar secara bersamaan, posisi strategis Iran di kawasan dapat ikut terdampak.
Namun perlu ditekankan bahwa hasil akhirnya masih sangat sulit diprediksi. Houthi telah bertahan menghadapi perang selama bertahun-tahun dan memiliki basis kuat di Yaman utara. Hizbullah juga memiliki struktur organisasi serta kemampuan militer yang telah dibangun selama beberapa dekade.
Karena itu, tekanan militer besar belum tentu secara otomatis menghasilkan keruntuhan dalam waktu singkat.
Yang jelas, perkembangan 10 September 2026 memperlihatkan satu perubahan penting: tekanan terhadap kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Iran kini muncul secara bersamaan di beberapa medan.
Di Yaman, pasukan pemerintah meningkatkan ofensif terhadap Houthi. Arab Saudi menghadapi ancaman langsung dan Pakistan disebut mempertimbangkan kewajibannya berdasarkan kerja sama pertahanan. Dari arah lain, Israel memberikan peringatan bahwa jarak geografis tidak akan melindungi Houthi dari kemungkinan serangan.
Pada saat yang sama, Lebanon selatan kembali diguncang serangan besar terhadap sasaran Hizbullah, sementara operasi terhadap Hamas di Gaza juga terus berlangsung.
Dengan semakin banyaknya aktor yang terlibat, konflik yang sebelumnya dapat dilihat sebagai rangkaian perang terpisah kini semakin menyerupai satu konfrontasi regional yang saling terhubung.
Pertanyaan terbesarnya sekarang adalah apakah tekanan serentak tersebut akan memaksa Houthi dan Hizbullah mundur, atau justru membuka babak baru perang yang lebih luas—dengan Arab Saudi, Pakistan, Israel, Yaman dan Iran terseret semakin jauh ke dalam pusaran konflik yang sama. (***)


