EtIndonesia.com Pada awal semester baru, wabah influenza A (Flu A) merebak di Shanghai dan Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok. Dilaporkan Epochtimes.com (13/9/2026) Sejumlah sekolah dasar dan menengah serta taman kanak-kanak mulai melaporkan banyak siswa mengalami demam secara bersamaan.
Bahkan, sejumlah kelas menerima pemberitahuan agar seluruh siswa menjalani isolasi di rumah. Di beberapa kelas, bahkan hingga separuh siswa tidak masuk sekolah karena sakit, sementara jumlah kunjungan ke klinik anak meningkat secara signifikan.
Menurut laporan Xinmin Evening News, dalam beberapa hari terakhir, banyak orang tua di Shanghai melaporkan bahwa tidak lama setelah dimulainya semester, sejumlah kelas telah diberitahu untuk menjalani isolasi di rumah.
Seorang orangtua menulis di platform media sosial: “Bagaimana situasi Flu A di Shanghai? Pagi-pagi sekali kami diberi tahu bahwa seluruh kelas harus menjalani isolasi. Sore harinya, saya mendapat kabar bahwa separuh anak tidak masuk sekolah karena sakit.”
Situasi serupa juga terjadi di Hangzhou, Provinsi Zhejiang.
Putri Li, seorang warga Hangzhou, saat ini duduk di kelas tiga sekolah dasar. Baru satu minggu setelah semester dimulai, Li menerima pesan singkat dari sekolah yang memberitahukan bahwa jumlah siswa yang sakit dan tidak masuk sekolah telah mencapai proporsi yang ditetapkan.
Berdasarkan permintaan dari departemen pengendalian penyakit, seluruh siswa di kelas tersebut diminta menghentikan kegiatan belajar tatap muka. Penutupan kelas berlaku dari 11 hingga 14 September, dan para siswa dijadwalkan kembali ke sekolah pada 15 September.
Li mengatakan bahwa kelas tersebut terdiri dari lebih dari 40 siswa. Sebanyak 10 anak sudah tidak masuk sekolah karena demam, dan sekitar separuh dari mereka telah didiagnosis menderita influenza. Putrinya untuk sementara belum terinfeksi, tetapi seluruh keluarga tidak berani lengah.
Menurut laporan tersebut, wartawan memperoleh informasi dari Rumah Sakit Chaohui, bagian dari Grup Medis Perempuan dan Anak Hangzhou (Rumah Sakit Anak Hangzhou), bahwa belakangan ini jumlah pasien anak yang berobat jalan maupun menjalani rawat inap di departemen penyakit infeksi meningkat secara signifikan.
Qi Zhenghong, dokter kepala Departemen Penyakit Infeksi (Penyakit Hati), mengatakan bahwa hanya dua hingga tiga hari setelah sekolah dimulai, jumlah kunjungan pasien anak akibat influenza mulai meningkat secara nyata.
Qi Zhenghong mengatakan bahwa sebelum itu, hanya terdapat beberapa kasus anak yang dirawat inap karena influenza. Namun, belakangan ini pasien anak yang dirawat inap akibat influenza mencapai sekitar sepertiga dari seluruh kapasitas tempat tidur rumah sakit. Setiap hari, sekitar 10 anak penderita influenza dirawat di bangsal.
Pada wabah kali ini, strain virus yang paling dominan adalah influenza A (H3N2). Pada saat yang sama, ditemukan pula infeksi influenza B garis keturunan Victoria. Anak-anak taman kanak-kanak dan siswa sekolah dasar kelas rendah merupakan kelompok yang paling banyak terinfeksi.
Pada 13 September, topik “Sejumlah kelas di Shanghai diberi pemberitahuan untuk menjalani isolasi di rumah” melonjak ke jajaran pencarian terpopuler (hot search) di Weibo, bahkan sempat menduduki peringkat pertama.
Para netizen daratan Tiongkok meninggalkan pesan :
“Baru beberapa hari sejak sekolah dimulai, tetapi grup orang tua di Shanghai langsung ramai. Di sebuah kelas taman kanak-kanak, satu anak terkena influenza, lalu seluruh kelas diminta menjalani isolasi selama empat hari. Di wilayah Baoshan, masa isolasi bahkan diperpanjang, dan hampir separuh siswa tidak masuk sekolah karena sakit. Gelombang Flu A kali ini cukup ganas. Strain H3N2, dengan anak-anak taman kanak-kanak dan siswa sekolah dasar kelas rendah menjadi kelompok yang paling terdampak.”
“Flu tahun ini datang terlalu dini, bukan? Ini baru September!!”
“Ini baru September, bagaimana bisa flu sudah separah ini? Ini terjadi di Shanghai dan Hangzhou, yang seharusnya termasuk daerah yang relatif hangat. Musim gugur dan musim dingin saja belum tiba.”
“Gelombang influenza kali ini memang cukup parah. Bukan hanya anak-anak, cukup banyak orang dewasa juga tertular. Anak-anak bisa diliburkan, tetapi bagaimana dengan orang dewasa?”
“Saya sudah tertular. Datangnya sangat parah, demam tinggi berulang kali, sakit kepala luar biasa, batuk, dan sakit tenggorokan. Sekarang saya bahkan sulit berbicara.”
Seorang netizen lainnya mengatakan:
“Minggu lalu, di kelas kami ada dua kasus COVID-19 dan satu kasus yang diduga cacar air, tetapi tidak ada yang menjalani isolasi! Ini terjadi di salah satu sekolah menengah di Shanghai.”
Netizen lainnya menulis:
“Di kelas kami ada tiga kasus COVID-19. Mereka dipindahkan ke ruang isolasi selama seminggu.”
“Satu keluarga mengalami flu, demam, dan batuk. Kami pergi ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan, hasilnya bukan Flu A, bukan Flu B, dan bukan COVID-19. Awalnya kami ingin disuntik agar cepat sembuh, tetapi ternyata melihat banyak perawat di rumah sakit juga tertular, dan ruang infus pun penuh. Karena khawatir terjadi infeksi silang, kami akhirnya pulang dan minum obat. Namun, sama sekali tidak ada efeknya.”
“Saya pergi ke Shanghai pada 25 bulan lalu dan langsung tertular. Gejalanya agak mirip COVID-19, tetapi ketika diperiksa di rumah sakit, hasil tesnya tidak menunjukkan apa-apa. Mereka hanya mengatakan bahwa itu flu biasa.”
“Di Shanghai bukan hanya ada Flu A, tetapi ada juga teman saya yang positif [COVID-19].”
“Kali ini Flu A, Flu B, dan COVID-19 semuanya bercampur menjadi satu.”
Administrasi Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Nasional Tiongkok (NDCPA) menanggapi merebaknya influenza tersebut, dengan menyatakan bahwa strain yang saat ini beredar secara nasional adalah influenza A (subtipe H1N1 dan H3N2) serta influenza B (garis keturunan Victoria), yang cenderung beredar secara bergantian atau tumpang tindih sehingga menghasilkan gelombang musiman setiap tahunnya.
NDCPA mengatakan bahwa musim influenza di Tiongkok biasanya berlangsung dari musim gugur hingga musim dingin dan awal musim semi. Periode penularan tinggi berlangsung antara November hingga Maret, dengan puncak musiman biasanya terjadi pada pertengahan hingga akhir Desember hingga awal Januari.
Provinsi-provinsi di wilayah utara Tiongkok mengalami puncak influenza yang nyata pada musim dingin hingga musim semi. Sementara itu, provinsi-provinsi di wilayah selatan Tiongkok, selain mengalami puncak yang sama pada musim dingin hingga musim semi, terkadang juga mengalami gelombang kedua aktivitas influenza pada musim panas.
(Dilaporkan oleh Xia Song, reporter Epoch Times)


