EtIndonesia.com Ketegangan di Timur Tengah kembali memasuki fase yang semakin berbahaya. Konflik yang sebelumnya berpusat pada Iran, Amerika Serikat, Israel, dan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz kini semakin meluas ke kawasan Laut Merah dan Yaman. Arab Saudi berada di tengah tekanan tersebut setelah kelompok syiah Houthi meningkatkan operasi militernya dan memperluas penguasaan wilayah di sekitar Selat Bab el-Mandeb.
Situasi bahkan menjadi jauh lebih sensitif setelah ancaman keamanan dilaporkan mendekati Mekkah, kota suci yang menjadi pusat ibadah umat Islam di seluruh dunia.
Pada Selasa, 15 September 2026, Arab Saudi mengeluarkan peringatan keamanan di sejumlah wilayah, termasuk Mekkah, Jeddah, dan Taif. Peringatan di Mekkah menjadi yang pertama sejak eskalasi perang terbaru di Timur Tengah.
Beberapa jam kemudian, militer Saudi memberikan keterangan lebih rinci. Juru bicara koalisi pimpinan Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, mengatakan bahwa pada sekitar pukul 18.50 waktu setempat, 15 September 2026, pertahanan udara Kerajaan Arab Saudi mencegat dan menghancurkan sebuah drone yang diluncurkan Houthi sebelum memasuki wilayah udara terlarang Mekkah.
Drone tersebut, menurut Saudi, dihancurkan di sebelah selatan kota suci itu. Pemerintah Saudi menyebut keamanan Mekkah, Madinah, dan para jemaah sebagai garis merah yang tidak dapat ditoleransi apabila dilanggar.
Namun, terdapat perbedaan klaim mengenai sasaran sebenarnya.
Pihak Saudi menyatakan insiden tersebut merupakan upaya kedua Houthi menyerang Mekkah setelah insiden rudal balistik pada 27 Juli 2017. Sebaliknya, Houthi membantah bahwa mereka bermaksud menyerang Mekkah dan menyebut tuduhan Saudi tidak benar. Karena itu, klaim mengenai Mekkah sebagai sasaran langsung tetap menjadi klaim yang diperselisihkan kedua pihak.
Terlepas dari perselisihan tersebut, fakta bahwa sebuah ancaman udara telah mencapai kawasan selatan Mekkah menunjukkan betapa cepatnya lingkup konflik meluas.
Perkembangan ini juga terjadi ketika koordinasi militer antara Amerika Serikat, Israel, dan sejumlah negara Arab semakin intensif.
Menurut laporan Axios pada 15 September 2026, para pemimpin militer Amerika Serikat, Israel, dan delapan negara Arab diam-diam mengadakan pertemuan di Jerman pada pekan sebelumnya untuk membahas perang dengan Iran dan meningkatnya ancaman keamanan regional.
Pertemuan tersebut diselenggarakan oleh Komandan Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM, Laksamana Brad Cooper. Para peserta mencakup pimpinan militer Israel, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Qatar, Yordania, dan Mesir, bersama pejabat tinggi militer Amerika Serikat. Pertemuan itu tidak diumumkan secara terbuka oleh pemerintah negara-negara peserta.
Pertemuan tersebut memiliki arti penting karena memperlihatkan semakin luasnya koordinasi keamanan di tengah perang dengan Iran dan eskalasi Houthi.
Dalam pertemuan itu, Cooper dilaporkan meyakinkan para mitra regional bahwa Washington berniat mempertahankan kehadiran militernya di Timur Tengah. Amerika Serikat juga membahas keamanan pelayaran, terutama ketika jalur perdagangan dan energi kawasan menghadapi tekanan semakin besar.
Persoalannya, ancaman kini tidak hanya terkonsentrasi di Selat Hormuz.
Di bagian selatan Laut Merah, posisi Houthi juga semakin kuat di sekitar Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.
Pada 10 September 2026, Houthi merebut kota pelabuhan Mokha di pesisir Laut Merah. Sehari kemudian, 11 September, pasukan Houthi mencapai Pulau Perim atau Mayyun yang berada tepat di kawasan Bab el-Mandeb. Sumber pemerintah Yaman mengatakan pasukan pemerintah telah mundur dari pulau tersebut, sementara Houthi juga menguasai Dhubab di daratan yang berhadapan dengan Perim.
Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa tekanan terhadap dua jalur pelayaran strategis—Hormuz di Teluk Persia dan Bab el-Mandeb di pintu masuk Laut Merah—dapat terjadi secara bersamaan.
Bab el-Mandeb sangat penting karena menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia. Kapal yang melewati jalur tersebut dapat melanjutkan perjalanan menuju Terusan Suez dan kemudian ke Laut Mediterania.
Gangguan berkepanjangan dapat memaksa kapal mengambil rute yang jauh lebih panjang mengitari Tanjung Harapan di Afrika Selatan, sehingga meningkatkan waktu pelayaran, biaya bahan bakar, asuransi, dan transportasi.
Kanselir Jerman Friedrich Merz pada 15 September 2026 secara terbuka menyampaikan kekhawatiran tersebut.
Merz mengatakan Houthi kini menguasai posisi-posisi strategis di sekitar Bab el-Mandeb sekaligus menyerang fasilitas energi Arab Saudi. Menurutnya, perkembangan tersebut semakin memperburuk kondisi pasar energi internasional.
Merz menegaskan bahwa komunitas internasional tidak dapat membiarkan kelompok Houthi menjadikan pelayaran di Laut Merah sebagai sandera. Jerman, katanya, sedang berkonsultasi dengan Uni Eropa dan mitra-mitra regional mengenai langkah yang dapat dilakukan bersama.
Inggris juga mulai mempertimbangkan keterlibatan lebih jauh.
Laporan pada 15 September 2026 menyebut Arab Saudi meminta bantuan Inggris untuk menghadapi Houthi, termasuk memperkuat pertahanan terhadap serangan yang mengancam infrastruktur minyak serta mengamankan kawasan Bab el-Mandeb. Pemerintah Inggris dilaporkan telah menyetujui pengiriman penasihat militer, meskipun pada saat laporan tersebut muncul London belum berkomitmen memberikan bantuan militer tambahan secara lebih luas.
Pada hari yang sama, Inggris secara resmi mengecam peningkatan operasi Houthi dalam sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. London mengatakan serangan terhadap Arab Saudi, operasi militer di Yaman, serta peningkatan ancaman terhadap pelayaran internasional telah memperburuk ketidakstabilan kawasan.
Di tengah tekanan tersebut, muncul perkembangan lain yang sebelumnya sulit dibayangkan: Israel dan Arab Saudi dilaporkan melakukan komunikasi mengenai bantuan intelijen untuk menghadapi Houthi.
Menurut laporan The Jerusalem Post pada 15 September 2026, pembicaraan antara Israel dan Arab Saudi dilakukan dengan mediasi CENTCOM. Sejumlah sumber diplomatik regional mengatakan Israel memberikan bantuan intelijen untuk membantu Riyadh mempertahankan diri dari operasi Houthi.
Kerja sama seperti ini memiliki arti geopolitik yang besar.
Arab Saudi dan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik resmi. Namun, ancaman keamanan yang sama dapat mendorong koordinasi praktis di belakang layar, terutama menyangkut drone, rudal, pertahanan udara, dan perlindungan infrastruktur energi.
Dari sudut pandang Israel, meningkatnya tekanan Iran dan Houthi terhadap Arab Saudi juga dipandang oleh sebagian analis sebagai kesempatan untuk memperkuat hubungan keamanan dengan Riyadh.
Salah satu analisis yang diterbitkan Jerusalem Center for Security and Foreign Affairs berpendapat bahwa Israel dapat menawarkan kemampuan yang sangat dibutuhkan Saudi, mulai dari intelijen waktu nyata hingga teknologi pertahanan udara dan dukungan untuk melindungi fasilitas minyak.
Namun, gagasan mengenai hubungan keamanan formal Israel-Saudi tersebut tetap merupakan usulan dan pandangan analis, bukan kesepakatan resmi yang telah diumumkan kedua pemerintah.
Yang sudah terlihat adalah perubahan besar pada peta keamanan Timur Tengah.
Iran dan sekutunya memberikan tekanan dari beberapa arah. Houthi memperluas pengaruhnya di pesisir Laut Merah. Arab Saudi kembali meningkatkan operasi militernya di Yaman. Inggris mempertimbangkan dukungan tambahan. Jerman memperingatkan dampaknya terhadap energi dunia. Sementara Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara Arab meningkatkan koordinasi keamanan mereka.
Dan kini, Mekkah ikut masuk ke dalam lingkaran ancaman.
Insiden 15 September 2026 menjadi pengingat mengenai seberapa jauh eskalasi ini dapat berkembang. Arab Saudi menyatakan drone Houthi dihancurkan sebelum memasuki wilayah udara terlarang Mekkah, sedangkan Houthi membantah kota suci tersebut merupakan target mereka. Perbedaan klaim itu penting untuk dicatat, terutama karena Mekkah memiliki kedudukan yang sangat sensitif bagi umat Islam di seluruh dunia.
Pada akhirnya, persoalan yang dihadapi kawasan bukan lagi semata-mata siapa menguasai satu kota atau satu medan pertempuran di Yaman. Yang dipertaruhkan adalah keamanan dua jalur pelayaran dunia, stabilitas fasilitas energi Arab Saudi, hubungan baru antara negara-negara yang sebelumnya saling menjaga jarak, serta risiko perang regional yang semakin melebar.
Jika Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb sama-sama mengalami gangguan serius, konsekuensinya dapat menjalar jauh melampaui Timur Tengah. Harga energi, perdagangan internasional, rantai pasokan, dan keamanan pelayaran global semuanya berpotensi ikut terdampak.
Pertanyaannya sekarang bukan hanya apakah Houthi mampu meningkatkan tekanan terhadap Arab Saudi, tetapi seberapa jauh eskalasi tersebut akan berlangsung—dan apakah koordinasi baru antara Amerika Serikat, Israel, Arab Saudi, serta negara-negara regional lainnya mampu mencegah konflik berkembang menjadi krisis yang jauh lebih luas. (***)


