Pemerintah komunis Tiongkok secara paksa menerapkan kremasi di 14 kecamatan di Kabupaten Zhenxiong, Kota Zhaotong, Provinsi Yunnan, dengan cara-cara yang disebut warga sebagai tindakan sewenang-wenang. Kebijakan tersebut memicu penolakan masyarakat. Pada malam 14 September, lebih dari 10 ribu orang berkumpul di Kecamatan Jianshan dan berhasil mengawal peti jenazah dua lansia ke gunung untuk dimakamkan secara tradisional.
EtIndonesia.com Pada 1 September, Kabupaten Zhenxiong menetapkan 14 kecamatan sebagai wilayah kremasi dan menerapkan kebijakan tersebut secara paksa, sehingga memicu penolakan keras dari masyarakat.
Di Desa Maoba, Kecamatan Yile, seorang remaja berusia 16 tahun bernama He Guoqiang meninggal dunia karena leukemia. Menjelang pemakaman secara tradisional pada 12 September, ribuan warga dari desa-desa dan kecamatan di sekitarnya secara spontan datang untuk mengawal peti jenazah He Guoqiang ke gunung. Pemakaman secara tradisional akhirnya berhasil dilakukan.
Pada malam 14 September, lebih dari 10 ribu orang kembali berkumpul di Kecamatan Jianshan untuk menentang kremasi paksa yang diberlakukan pemerintah. Kali ini mereka mengawal jenazah seorang lansia berusia 93 tahun. Sekitar tengah malam, mereka membawa peti jenazah ke gunung untuk dimakamkan. Setelah itu, warga segera menuju Anjiapo yang berjarak beberapa kilometer untuk kembali mengawal peti jenazah seorang lansia lainnya ke gunung untuk dimakamkan.
“Kami menentang kremasi dan bersikeras melakukan pemakaman secara tradisional. Sebanyak 14 kecamatan di Zhenxiong bersatu. Malam ini kami mengantar dua lansia dari Jianshan dan Anjiapo ke tempat peristirahatan terakhir. Setidaknya ada 20 ribu orang. Banyak yang tidak bisa masuk karena terlalu penuh dan tidak bisa bergerak. Bahkan ada ratusan orang yang datang dari Guizhou,” ujar Wang, warga Kabupaten Zhenxiong, Zhaotong, Yunnan.
Warga yang turut hadir dalam aksi penolakan tersebut mengatakan bahwa lokasi dipenuhi lautan manusia hingga sangat padat. Pemerintah setempat mengerahkan ratusan personel kepolisian, tetapi tidak berani mengambil tindakan secara gegabah.
Chen, warga Kabupaten Zhenxiong, Zhaotong, Yunnan: “Semua orang mengatakan bahwa seseorang harus dimakamkan di dalam tanah agar dapat beristirahat dengan tenang, dan daun yang gugur harus kembali ke akarnya. Selain itu, kebijakan ini sama sekali tidak adil. Zhenxiong memiliki hampir 30 kecamatan, tetapi hanya 14 yang diberlakukan secara paksa. Warga Kabupaten Zhenxiong tidak menyetujuinya. Di lokasi Kecamatan Jianshan, ada lebih dari 10 ribu orang.”
Pada malam 14 September, dua lansia juga dimakamkan di Desa Changhe, Kecamatan Niuchang, serta Desa Zhanmaoying, Subdistrik Wufeng. Masing-masing lokasi didatangi ribuan warga yang secara spontan mengawal peti jenazah ke gunung untuk dimakamkan.
Untuk mencegah pemerintah setempat menggali kembali makam dan mengambil jenazah untuk dikremasi, banyak warga memilih tetap tinggal untuk menjaga makam.
Zhang, warga Kabupaten Zhenxiong, Zhaotong, Yunnan: “Lansia itu dimakamkan dini hari tadi. Di Zhanmaoying tadi malam, ribuan orang datang untuk mengantarnya. Kami tidak tidur semalaman dan hari ini masih harus datang lagi. Pemerintah sudah keterlaluan. Setelah dimakamkan, mereka bisa menggali kembali makam dan mengkremasikannya. Kami khawatir mereka datang. Masih ada 200 hingga 300 warga setempat yang tetap berada di sini.”
Pada 15 September, seorang lagi warga yang meninggal dunia dimakamkan. Warganet yang peduli menyerukan kepada warga Zhenxiong untuk datang dan menentang penerapan kremasi paksa oleh pemerintah.
Li, warga Kabupaten Zhenxiong, Zhaotong, Yunnan: “Di Desa Hengdi, Kecamatan Poji, ada seorang gadis berusia 23 tahun. Dia masih sangat muda, tetapi meninggal dunia karena sakit. Semoga kalian semua datang hari ini.”
Laporan gabungan reporter NTD TV Xiong Bin dan Zhou Tian.


