Tiongkok Dihantam Bencana Lagi! Longsor Raksasa Sichuan hingga Hujan 921 Mm di Hainan

EtIndonesia.com  Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah wilayah di Tiongkok menghadapi rangkaian bencana hidrometeorologi dan geologi. Memasuki pertengahan September 2026, perhatian kembali tertuju pada dua wilayah berbeda: Provinsi Sichuan di barat daya Tiongkok yang dilanda longsor besar, serta Pulau Hainan di selatan yang menghadapi hujan ekstrem hingga memecahkan rekor.

Salah satu peristiwa paling dramatis terjadi pada 16 September 2026 di Provinsi Sichuan.

Menurut laporan Xinhua yang mengutip Badan Manajemen Darurat Kabupaten Mao, longsor terjadi sekitar pukul 08.40 waktu setempat di Desa Shidaguan, Kota Diexi, Kabupaten Mao, Prefektur Otonom Tibet dan Qiang Aba.

Material dalam jumlah sangat besar runtuh dari lereng gunung dan bergerak menuju kawasan di bawahnya. Longsoran tersebut menghambat aliran sungai sekaligus memutus Jalan Nasional 213 di ruas Kabupaten Mao, tepatnya di sekitar kilometer K2029+200.

Rekaman dari lokasi memperlihatkan besarnya material tanah dan batu yang bergerak menuruni lereng. Debu tebal membubung ke udara, sementara material longsoran menyebar hingga ke bagian bawah lembah.

Peristiwa ini segera menjadi perhatian karena Jalan Nasional 213 merupakan salah satu jalur penting yang melintasi kawasan pegunungan Sichuan.

Namun, di tengah besarnya skala longsoran, otoritas setempat menyatakan tidak ada korban jiwa.

Hal itu bukan semata-mata karena keberuntungan.

Wilayah tersebut ternyata sudah dipantau sejak beberapa waktu sebelumnya. Menurut laporan resmi, lereng yang tidak stabil itu telah dimasukkan ke dalam kawasan pemantauan dan pengendalian bencana geologi. Bahkan sejak Agustus, daerah tersebut telah mengalami beberapa kali longsor.

Pada 24 Agustus 2026, pemerintah setempat telah mengevakuasi seluruh 161 warga yang berada di zona berisiko dan memindahkan mereka ke tempat yang dinilai lebih aman. Sejumlah langkah pencegahan juga diterapkan, termasuk pengendalian lalu lintas dan penutupan sebuah stasiun pengisian bahan bakar di kawasan terdampak.

Sehari sebelum longsor besar, yakni 15 September 2026, pihak berwenang juga telah memberlakukan pembatasan sementara terhadap lalu lintas di ruas Jalan Nasional 213 yang kemudian terdampak longsoran.

Karena langkah tersebut, ketika lereng akhirnya runtuh pada pagi 16 September, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

Setelah kejadian, pemerintah daerah segera menjalankan prosedur tanggap darurat. Jalan Nasional 213 diberlakukan pembatasan dua arah dan kendaraan diarahkan menggunakan jalur alternatif.

Material longsoran juga sempat menghambat aliran Sungai Minjiang. Namun, pemerintah Prefektur Aba menyatakan aliran air dari hulu telah dialihkan melalui fasilitas pembangkit listrik sehingga, berdasarkan informasi resmi saat itu, belum muncul kondisi berbahaya akibat pembendungan sungai.

Meski demikian, kejadian tersebut kembali menunjukkan besarnya risiko bencana geologi di kawasan pegunungan Sichuan. Setelah longsor besar, pemantauan terhadap kestabilan lereng dan kondisi sungai menjadi sangat penting karena material dalam volume besar yang masuk ke sungai dapat mengganggu aliran air dan menciptakan risiko lanjutan.

Ketika Sichuan menghadapi ancaman longsor, ribuan kilometer di sebelah selatan, Provinsi Hainan juga baru saja melewati salah satu episode hujan paling ekstrem dalam sejarah pengamatan setempat.

Hujan sangat lebat terjadi selama beberapa hari akibat pengaruh gabungan depresi tropis di Laut China Selatan dan udara dingin.

Data meteorologi menunjukkan bahwa pada periode 11 September pukul 08.00 hingga 15 September pukul 08.00, hujan ekstrem mengguyur sebagian besar Pulau Hainan.

Skalanya luar biasa.

Sebanyak 116 kota kecil atau wilayah administratif tingkat kecamatan di 16 kota dan kabupaten mencatat curah hujan lebih dari 200 milimeter. Sebanyak 36 wilayah mencatat lebih dari 400 milimeter, sedangkan 14 wilayah di Baoting, Wuzhishan, Qiongzhong, dan Wanning mencatat lebih dari 600 milimeter.

Curah hujan tertinggi tercatat di Kota Xiangshui, Kabupaten Baoting, yang mencapai sekitar 921 milimeter selama periode tersebut.

Sementara itu, Wuzhishan mencatat rekor tersendiri.

Dalam periode 24 jam sejak pukul 20.00 pada 13 September hingga pukul 20.00 pada 14 September 2026, Stasiun Meteorologi Nasional Wuzhishan mencatat curah hujan 615,3 milimeter.

Angka tersebut memecahkan rekor curah hujan harian tertinggi di stasiun itu. Rekor sebelumnya tercatat sebesar 354,8 milimeter pada 13 Oktober 1989.

Dengan demikian, hujan dalam satu hari pada September 2026 hampir dua kali lipat dibandingkan rekor sebelumnya.

Dampaknya terlihat di berbagai wilayah.

Banjir dan genangan terjadi, akses jalan terganggu, sementara risiko longsor dan banjir bandang meningkat tajam. Sejumlah sekolah terpaksa menghentikan kegiatan belajar. Pemerintah kemudian mengerahkan sumber daya untuk memperbaiki jalan, jaringan komunikasi, listrik, fasilitas pengairan, serta infrastruktur publik lainnya yang mengalami kerusakan.

Pemerintah pusat Tiongkok bahkan mengalokasikan 30 juta yuan dari anggaran investasi pusat untuk membantu pemulihan darurat pasca bencana di Hainan. Dana tersebut terutama ditujukan untuk perbaikan jalan, infrastruktur pengairan, sekolah, rumah sakit, serta berbagai fasilitas pelayanan publik.

Di tengah beredarnya berbagai informasi di media sosial mengenai kemungkinan besarnya korban, data tersebut harus dibaca secara hati-hati.

Naskah yang beredar di internet sempat mengklaim bahwa jumlah korban meninggal dunia akibat bencana di Hainan telah melampaui 600 orang. Namun, hingga laporan resmi pada 16 September 2026, angka sebesar itu belum didukung bukti yang dapat diverifikasi secara independen.

Pemerintah Hainan menyatakan data mengenai korban dan kerugian pertanian masih dalam proses pendataan. Karena itu, angka korban yang belum terkonfirmasi sebaiknya tidak diperlakukan sebagai fakta sampai tersedia bukti yang lebih kuat.

Otoritas Hainan juga menyebut sebanyak 282 dari total 1.102 waduk kecil dan menengah mengalami limpasan normal selama periode hujan ekstrem. Tidak ada waduk yang dilaporkan menyimpan air melampaui batas pengendalian banjir, dan tidak ada kondisi darurat waduk yang dilaporkan.

Pada 15 September 2026, Badan Meteorologi Hainan menyatakan episode hujan ekstrem tersebut pada dasarnya telah berakhir. Namun, berakhirnya hujan lebat tidak berarti seluruh ancaman langsung menghilang.

Tanah yang telah menyerap air dalam jumlah sangat besar masih berada dalam kondisi jenuh. Situasi tersebut dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya longsor, runtuhan lereng, dan bencana geologi lainnya beberapa hari setelah hujan berhenti.

Risiko itu sejalan dengan penilaian nasional pemerintah Tiongkok untuk September 2026.

Pada 2 September 2026, Kantor Komisi Nasional Pencegahan, Pengurangan, dan Penanggulangan Bencana bersama Kementerian Manajemen Darurat Tiongkok memperkirakan sejumlah wilayah di timur laut, timur, selatan, dan barat daya Tiongkok menghadapi risiko banjir dan cuaca ekstrem yang relatif tinggi selama September.

Pemerintah juga memperkirakan sekitar lima hingga tujuh topan dapat terbentuk di wilayah Pasifik barat laut dan Laut Tiongkok Selatan sepanjang September. Dari jumlah tersebut, sekitar dua hingga tiga topan diperkirakan mendarat atau memberikan pengaruh nyata terhadap Tiongkok.

Selain ancaman topan, sejumlah wilayah juga menghadapi risiko bencana geologi akibat tingginya curah hujan.

Peristiwa di Sichuan dan Hainan menunjukkan dua bentuk ancaman yang berbeda tetapi saling berkaitan dengan kondisi cuaca dan geologi.

Di Sichuan, longsor besar pada 16 September memperlihatkan betapa cepatnya sebuah lereng tidak stabil dapat runtuh dan memutus jalur transportasi serta menghambat sungai. Namun, evakuasi 161 warga sejak 24 Agustus menjadi faktor penting yang membuat bencana tersebut tidak menimbulkan korban jiwa berdasarkan laporan resmi.

Sementara di Hainan, hujan ekstrem hingga 921 milimeter memperlihatkan bagaimana curah hujan dalam jumlah luar biasa dapat memberikan tekanan besar terhadap sistem jalan, sungai, jaringan komunikasi, listrik, dan berbagai infrastruktur publik.

Kini, perhatian tertuju pada proses pemulihan serta ancaman bencana susulan.

Dengan tanah yang masih jenuh air di sejumlah wilayah dan musim topan yang belum sepenuhnya berakhir, pemerintah setempat masih harus mempertahankan pemantauan terhadap sungai, waduk, lereng pegunungan, serta kawasan permukiman yang berada di zona rawan.

Bagi masyarakat, rangkaian kejadian ini menjadi pengingat bahwa dalam menghadapi bencana alam, peringatan dini dan evakuasi sebelum kondisi mencapai titik kritis dapat menentukan perbedaan antara kerusakan material dan jatuhnya korban manusia . (***)

INSPIRASI ERABARU

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

Mid Autumn dalam Syair: Bagaimana Para Penyair Timur dan Barat Menemukan Inspirasi dari Pergantian Musim

Dari Danau Dongting yang diterangi cahaya bulan dalam puisi Li Bai hingga angin barat yang liar dalam karya Shelley, para penyair selama berabad-abad di...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine