Lukisan SBY Hadir di Surabaya, Rekam Memori, Alam, hingga Suara Perdamaian

SURABAYA — Puluhan hingga sekitar 100 karya lukis Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden ke-6 Republik Indonesia, dipamerkan di Voza Tower Surabaya, Jawa Timur, selama 16–29 September 2026.

Pameran tunggal tersebut sekaligus menjadi momentum peluncuran buku monograf berjudul Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Lanskap Hati Susilo Bambang Yudhoyono. Pembukaan pameran berlangsung Selasa (15/9) dan dihadiri sejumlah tokoh dari kalangan pemerintahan, dunia usaha, ekonomi kreatif, serta figur publik.

Pameran ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal sisi lain SBY setelah menyelesaikan masa kepresidenannya pada 2014. Selain dikenal sebagai negarawan dan mantan Presiden RI selama dua periode, SBY kini menekuni dunia seni lukis sebagai sarana berekspresi sekaligus merekam pengalaman dan pandangannya terhadap kehidupan.

SBY mengatakan, ketertarikannya terhadap seni lukis sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru. Pada masa remaja, ia pernah memiliki ketertarikan pada kegiatan melukis.

“Jadi saya sebagai pelukis bukan mualaf, tetapi kembali,” ujar SBY.

Pilihan untuk kembali melukis semakin intens setelah wafatnya Ani Yudhoyono di Singapura pada 1 Juni 2019. SBY mengaku mengalami masa duka yang panjang setelah kehilangan pendamping hidupnya.

“Selama hampir dua tahun sepeninggal Ibu Ani, saya mengalami kesedihan mendalam. Terbiasa berdua ke mana pun, saling melengkapi, apalagi di saat-saat krisis, merencanakan aktivitas seusai melepaskan tugas kenegaraan, tiba-tiba saya sendiri,” ungkapnya.

Dalam proses menghadapi kehilangan tersebut, melukis menjadi salah satu ruang bagi SBY untuk mengenang, berekspresi, sekaligus mengolah pengalaman personalnya. Karya-karyanya kemudian berkembang tidak hanya mengangkat kenangan pribadi, tetapi juga alam serta persoalan sosial dan politik.

Tiga Lanskap dalam Karya SBY

Kurator sekaligus penulis monograf, Suwarno Wisetrotomo, membagi karya-karya yang ditampilkan ke dalam tiga kelompok utama, yakni Lanskap Memori, Lanskap Sosial-Politik, dan Lanskap Tatapan Langsung atau On the Spot.

Pada bagian Lanskap Memori, karya-karya SBY banyak berangkat dari pengalaman personal dan kemanusiaan. Lukisan seperti Understand More The Meaning of Life (2021) dan Good Morning (2023), misalnya, merefleksikan proses SBY dalam menghadapi kehilangan dan mengubah duka menjadi penerimaan.

Sementara itu, karya The Day God Test Our Faith and Courage (2024) merekam memori sosial mengenai gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh.

Menurut Suwarno, karya-karya tersebut menunjukkan pergulatan SBY dalam menghadapi rasa kehilangan dan kesendirian setelah wafatnya Ani Yudhoyono. Pengalaman personal itu kemudian diolah melalui bahasa visual yang lebih metaforis.

“Tidak hanya yang personal, tetapi memori kemanusiaan seperti tsunami yang melanda bumi Aceh merupakan tema yang kuat, menjadi semacam monumen duka,” kata Suwarno.

Kelompok kedua adalah Lanskap Sosial-Politik. Melalui karya-karya ini, SBY menyuarakan perhatian terhadap berbagai persoalan dunia, terutama perang, konflik, keadilan, dan perdamaian.

Sejumlah karya yang ditampilkan antara lain Stop War, United for Peace (2025), Gaza, The Extreme Human Suffering (2025), The Cry of Justice (2023), The Genius (2025), serta karya-karya bertema keadilan dan perdamaian lainnya.

Suwarno menyebut karya-karya dalam kelompok ini menunjukkan kepedulian SBY terhadap situasi geopolitik, sosial, dan ekonomi dunia yang penuh ketegangan.

Melalui lukisan, SBY antara lain menyerukan penghentian perang, penegakan keadilan, dan terciptanya perdamaian. Salah satu karya yang menarik perhatian adalah Napoleon The Genius (2025), yang mengangkat sosok Napoleon Bonaparte dan jejak kekuasaannya.

“Meski hebat, bahkan genius, tetapi jejak kekuasaan Napoleon sangat berdarah-darah,” ujar SBY.

Kelompok ketiga adalah Lanskap Tatapan Langsung (On the Spot). Karya-karya ini dibuat ketika SBY melukis secara langsung objek atau panorama yang berada di hadapannya.

Beberapa di antaranya adalah Mount Merapi the Strong (2023), The Sound of Klayar Beach (2024), dan Little Hill at Damar Langit (2026).

Dalam metode tersebut, SBY merekam panorama alam seperti gunung, hutan, sungai, bebatuan, pantai, hingga laut. Karakter lukisannya cenderung lebih spontan karena proses berkarya berlangsung bersamaan dengan perubahan cahaya di alam.

“Melukis secara on the spot melatih kepekaan, mengamati, memilih sudut pandang, dan mengeksekusi menjadi karya. Semua proses itu mendekatkan diri pada alam,” kata SBY.

Menurut Suwarno, pendekatan tersebut membuat karya-karya SBY pada bagian On the Spot terasa lebih ekspresif dan spontan. Prosesnya seolah berpacu dengan perubahan cahaya, yang mengingatkan pada praktik para pelukis impresionisme abad ke-19.

Pameran Gratis untuk Masyarakat

Pameran di Voza Tower dibuka untuk masyarakat umum setiap hari pukul 10.00–21.00 WIB tanpa dipungut biaya.

Selain melihat karya, pengunjung juga dapat mengikuti berbagai kegiatan pendukung selama pameran. Program tersebut antara lain talkshow dan bedah karya, live painting bersama SBY, aktivitas mewarnai bersama anak-anak difabel, sharing session dengan pengusaha, melukis di atas keramik dan tas, fashion show anak, hingga lomba membaca puisi karya SBY.

Penyelenggara berharap rangkaian kegiatan tersebut dapat membuat pameran lebih inklusif dan mendekatkan seni lukis kepada masyarakat, termasuk generasi muda, keluarga, komunitas, serta mereka yang belum terbiasa mengunjungi ruang seni.

Berawal dari Gagasan Hermanto Tanoko

Pameran ini merupakan bagian dari penerbitan buku monograf Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Lanskap Hati Susilo Bambang Yudhoyono yang diterbitkan PT Penerbit & Publikasi Yudhoyono (The Yudhoyono Institute) pada 2026.

Gagasan penerbitan buku tersebut berawal dari ketertarikan Hermanto Tanoko terhadap karya seni pelukis Indonesia serta kekagumannya terhadap sosok dan perjalanan kepemimpinan SBY.

Hermanto kemudian menggagas dokumentasi karya-karya lukis SBY dalam sebuah buku monograf. Buku tersebut dilengkapi tulisan berupa hasil wawancara Suwarno Wisetrotomo dengan SBY berjudul Seniman Bagian dari The Good Society — Percakapan dengan Jenderal TNI (Purn) Prof. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono Presiden Ke-6 Republik Indonesia.

Hermanto menilai perkembangan seni membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari seniman, komunitas, dunia usaha, institusi, hingga masyarakat.

“Bagi saya, melukis dan mengelola bisnis memiliki filosofi dasar yang sama. Keduanya membutuhkan visi yang jernih, kepekaan terhadap rasa, keberanian dalam mengambil keputusan, serta ketekunan dalam merajut setiap detailnya,” ujar Hermanto.

Suwarno, yang pernah menjadi kurator Galeri Nasional Indonesia pada 1996–2024, terlibat dalam penyusunan konsep pameran sekaligus penulisan monograf. Dalam prosesnya, ia melakukan wawancara dengan SBY untuk menggali cerita, pemikiran, dan pengalaman yang melatarbelakangi karya-karya tersebut.

Peluncuran buku dan pameran di Surabaya itu kemudian menjadi satu kesatuan untuk memperkenalkan perjalanan kreatif SBY kepada publik sekaligus memperluas apresiasi terhadap seni lukis Indonesia.

“Dalam perjalanan panjangnya sebagai seorang prajurit, negarawan, dan pemimpin bangsa, ternyata ada jiwa seorang seniman,” kata Hermanto.

INSPIRASI ERABARU

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

Mid Autumn dalam Syair: Bagaimana Para Penyair Timur dan Barat Menemukan Inspirasi dari Pergantian Musim

Dari Danau Dongting yang diterangi cahaya bulan dalam puisi Li Bai hingga angin barat yang liar dalam karya Shelley, para penyair selama berabad-abad di...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine