Perang Makin Gawat! Arab Saudi Gempur Houthi, 100.000 Warga Mengungsi—Tiongkok Masuk Arena

EtIndonesia.com Konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman kembali memasuki fase yang semakin berbahaya. Pertempuran tidak lagi hanya berlangsung di daratan Yaman, tetapi mulai berdampak langsung terhadap keamanan wilayah Arab Saudi, infrastruktur energi, jalur pelayaran internasional, hingga kalkulasi geopolitik negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Iran, dan Tiongkok.

Pada 16 September 2026, kelompok Houthi menyatakan bahwa pesawat-pesawat tempur Arab Saudi telah melancarkan sekitar 40 serangan udara dalam kurun 24 jam terhadap sejumlah wilayah di Yaman. Menurut juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, serangan tersebut antara lain menyasar Provinsi Taiz, Marib, dan Hodeidah. Klaim mengenai jumlah serangan ini berasal dari pihak Houthi dan belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.

Eskalasi itu merupakan bagian dari kampanye udara yang jauh lebih besar. Houthi mengklaim bahwa sepanjang sekitar satu pekan terakhir, Arab Saudi telah melancarkan lebih dari 450 serangan udara, menggunakan antara lain jet tempur F-15 dan Typhoon. Serangan disebut menjangkau berbagai wilayah Yaman, termasuk Taiz, Lahj, Al-Jawf, Hajjah, Marib, Saada, dan Al-Bayda.

Sejumlah laporan juga menyebut adanya korban di jajaran Houthi akibat serangan udara Saudi, termasuk laporan mengenai tewasnya beberapa tokoh kelompok tersebut. Namun, rincian mengenai identitas dan jabatan para komandan yang dilaporkan tewas belum dapat dikonfirmasi secara independen.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah dampak pertempuran terhadap warga sipil.

Pada 17 September 2026, Reuters melaporkan bahwa lebih dari 100.000 warga Yaman telah mengungsi akibat meningkatnya pertempuran. Sebagian warga bahkan berusaha meninggalkan Yaman melalui jalur laut menuju Djibouti. Sementara itu, laporan Associated Press menyebut jumlah warga yang mengungsi dalam gelombang konflik terbaru telah mencapai sedikitnya 125.000 orang.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa perang yang kembali meningkat ini bukan hanya persoalan perebutan wilayah. Di balik pertempuran udara, rudal, dan drone, krisis kemanusiaan Yaman kembali memburuk setelah bertahun-tahun negara tersebut dilanda konflik.

Pada saat yang sama, tanda-tanda upaya diplomatik mulai muncul.

Oman kembali memainkan peranan penting sebagai saluran komunikasi antara pihak-pihak yang bertikai. Sebelumnya, pejabat Amerika Serikat juga dilaporkan telah bertemu dengan perwakilan Houthi di Oman. Jalur diplomatik ini menjadi penting karena Muscat selama bertahun-tahun mempertahankan hubungan yang memungkinkan negara tersebut berbicara dengan berbagai pihak dalam konflik Yaman dan kawasan Teluk.

Namun, upaya diplomasi berlangsung bersamaan dengan meningkatnya kekhawatiran Arab Saudi terhadap kemampuan pertahanan udaranya.

Pada 16 September 2026, Associated Press, mengutip dua pejabat regional, melaporkan bahwa persediaan rudal pencegat Arab Saudi mulai menipis. Riyadh kemudian meminta bantuan sejumlah negara, termasuk Prancis, Inggris, Pakistan, dan Mesir, untuk memberikan dukungan pertahanan udara guna menghadapi rudal serta drone yang diluncurkan Houthi dan kelompok lain yang didukung Iran.

Situasi menjadi semakin rumit karena Amerika Serikat, pemasok utama persenjataan Saudi, juga dilaporkan menghadapi tekanan terhadap persediaan rudal pencegatnya setelah berbulan-bulan terlibat dalam konflik dengan Iran.

Artinya, pertahanan udara kini menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan berapa lama Arab Saudi mampu mempertahankan operasi militernya dengan intensitas tinggi.

Di medan tempur, Houthi juga terus memperluas tekanan.

Reuters melaporkan bahwa pasukan Houthi telah membuat kemajuan signifikan di sepanjang pesisir Laut Merah dan mencapai kawasan strategis di sekitar Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia. Pada 11 September 2026, Houthi dilaporkan mencapai Pulau Perim yang berada di mulut selat tersebut.

Perkembangan ini sangat penting karena Bab el-Mandeb merupakan penghubung antara Laut Merah dan Teluk Aden. Gangguan terhadap jalur tersebut dapat memengaruhi kapal-kapal yang bergerak menuju atau meninggalkan Terusan Suez.

Ancaman terhadap infrastruktur minyak Saudi semakin memperbesar tekanan terhadap Riyadh. Serangan terhadap jaringan energi dan jalur ekspor minyak membuat konflik Yaman berubah menjadi persoalan yang dapat memengaruhi pasar energi global.

Di tengah situasi itulah Arab Saudi mengambil langkah yang cukup menarik: meminta bantuan Tiongkok.

Menurut laporan Reuters yang dipublikasikan pada 17 September 2026, Riyadh meminta Beijing menggunakan pengaruhnya terhadap Iran untuk membantu membatasi operasi Houthi. Setelah menerima permintaan tersebut, Tiongkok secara pribadi mendesak Teheran agar menggunakan pengaruhnya untuk menahan kelompok Houthi dan mencegah konflik berkembang semakin luas.

Langkah ini memperlihatkan bagaimana Beijing mulai menempatkan dirinya di tengah permainan diplomatik Timur Tengah.

Pada 16 September 2026, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi menerima Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Beijing.

Dalam pertemuan tersebut, Wang Yi mendorong Iran dan Amerika Serikat untuk tetap rasional, menahan diri, dan kembali kepada kerangka kesepakatan yang dicapai pada Juni 2026. Tiongkok juga menyerukan langkah nyata untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang terganggu akibat konflik Iran dan Amerika Serikat.

Hanya satu hari kemudian, pada 17 September 2026, Wang Yi melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio.

Dalam pembicaraan tersebut, kedua pihak membahas situasi Timur Tengah sekaligus persiapan untuk tahap berikutnya dari hubungan tingkat tinggi Amerika Serikat–Tiongkok.

Rangkaian komunikasi tersebut berlangsung menjelang pertemuan penting antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping.

Menurut Reuters, Trump dijadwalkan menerima Xi di Washington pada 24 September 2026. Pertemuan itu diperkirakan membahas berbagai persoalan besar, mulai dari perdagangan, teknologi, Taiwan, kecerdasan buatan, hingga perang Iran dan stabilitas Timur Tengah.

Bagi Beijing, stabilitas kawasan Teluk memiliki kepentingan ekonomi yang sangat besar. Tiongkok merupakan pembeli utama minyak Iran sekaligus salah satu konsumen energi terbesar dunia. Karena itu, gangguan terhadap Selat Hormuz maupun Bab el-Mandeb berpotensi mengancam rantai pasokan energi dan perdagangan Tiongkok.

Pada saat yang sama, keterlibatan diplomatik Beijing memberi Tiongkok kesempatan untuk menunjukkan bahwa hubungannya dengan Iran dapat menjadi salah satu saluran komunikasi penting dalam upaya meredakan konflik.

Namun, seberapa besar pengaruh Beijing terhadap Teheran maupun Houthi masih menjadi pertanyaan. Reuters mencatat bahwa meskipun Tiongkok memiliki hubungan ekonomi yang erat dengan Iran dan sebelumnya membantu memediasi pemulihan hubungan Iran–Arab Saudi pada 2023, belum jelas apakah Iran akan memenuhi permintaan Beijing untuk menekan Houthi.

Dengan demikian, Timur Tengah kini menghadapi situasi yang sangat kompleks.

Di satu sisi, Arab Saudi meningkatkan serangan udara terhadap Houthi. Di sisi lain, Riyadh menghadapi tekanan terhadap persediaan pertahanan udaranya dan mencari bantuan dari negara-negara mitra. Houthi pada saat yang sama memperluas aktivitas militernya di pesisir Laut Merah dan kawasan Bab el-Mandeb, sementara konflik yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran terus membayangi kawasan.

Di tengah ketegangan tersebut, Tiongkok mulai bergerak melalui jalur diplomatik—berbicara dengan Iran, berkomunikasi dengan Amerika Serikat, sekaligus merespons permintaan Arab Saudi.

Semua perkembangan ini terjadi hanya beberapa hari menjelang pertemuan Trump dan Xi Jinping pada 24 September 2026.

Karena itu, perkembangan di Yaman, Selat Bab el-Mandeb, dan Selat Hormuz kini tidak lagi dapat dilihat sebagai konflik yang berdiri sendiri. Ketiganya telah menjadi bagian dari pertarungan geopolitik yang jauh lebih besar—melibatkan keamanan energi dunia, persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok, hubungan Iran dengan sekutu-sekutunya, serta masa depan stabilitas Timur Tengah.

Pertanyaan terbesarnya sekarang adalah apakah jalur diplomasi mampu menghentikan eskalasi sebelum konflik berkembang lebih luas, atau justru meningkatnya serangan di Yaman akan membuka babak baru yang jauh lebih berbahaya bagi seluruh kawasan. (***)

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine