Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti sejenak untuk menyadari bahwa kita pun menjadi objek iri hati orang lain. Kita terpaku pada apa yang tidak kita miliki. Kita lupa bersyukur atas apa yang kita miliki.

Kebanyakan orang menganggap rasa syukur tidak lebih dari sekadar sikap ceria, lagu perusahaan yang diputar saat acara retret karyawan, atau perasaan positif yang menyenangkan tetapi tidak memberikan dampak nyata. 

Hampir tidak ada yang memahami bagaimana rasa syukur sebenarnya bekerja. Akibatnya, rasa syukur menjadi sesuatu yang hampa dan tidak efektif. Orang-orang yang menerapkan hukum rasa syukur melihat kehidupan mereka berubah.

Perumpamaan Dua Bersaudara dan Sebuah Tempayan Beras

Ada sebuah kisah tentang dua bersaudara yang hidup dalam kemiskinan. Suatu hari, mereka mendapati bahwa tempayan beras di rumah mereka hanya berisi beras yang cukup untuk satu hari.

Wajah sang kakak langsung muram. “Besok kita sudah tidak punya apa-apa lagi,” katanya. “Kita bekerja keras sepanjang hari, tetapi bahkan tidak bisa makan sampai kenyang. Kapan penderitaan ini akan berakhir? Langit telah berlaku kejam kepada kita.”

Sang adik melihat tempayan yang sama. “Kita masih punya beras,” katanya. “Langit belum melupakan kita. Aku bersyukur. Setidaknya hari ini kita masih bisa makan.”

Pada akhirnya, kedua bersaudara itu menjalani kehidupan masing-masing. Keadaan sang adik berubah dengan cepat. Sang kakak tetap hidup dalam kemiskinan.

Perhatian sang kakak tidak pernah lepas dari rasa kekurangan. Ia hidup dalam perasaan “tidak pernah cukup”, dan perasaan itu, tanpa pernah ia tantang, menjadi suasana batinnya: kekhawatiran, kecemasan, ketakutan, dan keluhan. Sebaliknya, perhatian sang adik tertuju pada apa yang dimilikinya. Suasana batinnya dipenuhi kelimpahan, kehangatan, dan kasih. Dunia batin masing-masing saudara membentuk dunia di luar diri mereka.

Apa yang Anda Lihat dalam Gelas Setengah Penuh Menentukan Apa yang Anda Dapatkan dari Kehidupan

Bayangkan gambaran yang sudah tidak asing lagi: segelas susu yang terisi setengah. Orang yang tidak memiliki rasa syukur melihat apa yang tidak ada. Orang yang memiliki rasa syukur melihat apa yang masih tersisa.

Ketika pikiran Anda berfokus pada apa yang sudah Anda miliki, pikiran itu membangkitkan perasaan penuh dan kasih. Perasaan tersebut kemudian menarik dan menciptakan lebih banyak hal serupa. Ketika pikiran Anda tertuju pada apa yang tidak Anda miliki, pikiran itu melahirkan kelangkaan, dan kelangkaan akan terus menghasilkan kelangkaan.

Ada sebuah adegan dalam film The Godfather yang menggambarkan hal ini dengan baik. Suatu malam, Vito Corleone muda pulang ke rumah hanya membawa sebuah apel. Istrinya mengangkat apel itu dan mengaguminya. Ia melihat kebaikan dalam sesuatu yang ada di hadapannya.

Rasa Syukur Mengarahkan Perhatian Anda, dan Perhatian Menentukan Apa yang Tumbuh

Ketika Anda memusatkan perhatian pada apa yang sudah Anda miliki, Anda membangkitkan perasaan cinta dan penghargaan, dan perasaan-perasaan itu menciptakan lebih banyak hal serupa.

Tidak ada seorang pun yang benar-benar tidak memiliki apa-apa. Begitu Anda mengalihkan fokus dari “apa yang tidak saya miliki” menjadi “apa yang saya miliki”, keadaan emosional Anda berubah. Rasa syukur muncul secara alami.

Bayangkan dua rekan kerja menerima bonus akhir tahun. Yang satu menerima 1.000 yuan, sedangkan yang lainnya menerima 1.500 yuan. Orang yang tidak memiliki rasa syukur berpikir: “Saya mendapat 500 yuan lebih sedikit daripada rekan saya.” Sementara orang yang bersyukur berpikir: “Perusahaan saya memberi saya 1.000 yuan. Mereka sebenarnya bisa saja tidak memberi saya apa-apa. Saya sungguh bersyukur.”

Orang yang bersyukur tidak pernah terjebak dalam perbedaan tersebut. Perhatiannya tetap tertuju pada apa yang diterimanya, dan keadaan emosionalnya tetap berada dalam kondisi berkelimpahan. Apa pun yang Anda syukuri, itulah yang Anda beri perhatian dan Anda tumbuhkan. Apa pun yang Anda abaikan atau Anda sesali, itulah yang Anda biarkan meredup.

Rasa Syukur yang Tulus Dirasakan dalam Tubuh, Bukan Sekadar Diucapkan

Banyak orang telah melakukan latihan rasa syukur selama bertahun-tahun tetapi tidak melihat hasil apa pun. Alasannya hampir selalu sama: mereka hanya melakukannya sebagai rutinitas. Mereka mengulangi kata-kata, tetapi tidak benar-benar merasakannya.

Rasa syukur yang tulus dirasakan dalam tubuh. Jika Anda benar-benar bersyukur, perasaan itu bahkan dapat membuat Anda meneteskan air mata. Hati Anda terasa penuh. Ada sesuatu yang berubah di dalam diri Anda.

Jika Anda mempraktikkan rasa syukur dengan kedalaman seperti itu, Anda mulai menyadari sesuatu: dunia di sekitar Anda seolah-olah mulai berpihak kepada Anda, bukan melawan Anda. Bahkan peristiwa-peristiwa sulit, bahkan hal-hal yang terjadi pada orang lain, mengandung sesuatu bagi diri Anda—sebuah pelajaran, sebuah kesempatan, atau hadiah yang tidak terduga. Tanpa rasa syukur, Anda hanya melihat apa yang salah, dan itulah yang terus Anda lihat dalam kehidupan.

Begitu perubahan itu terjadi, hal-hal yang layak disyukuri mulai terlihat di mana-mana.

Kedamaian di negara tempat Anda tinggal. Perekonomian yang berjalan. Tahun-tahun kehidupan yang masih terbentang di hadapan Anda. Keluarga yang utuh. Udara yang disediakan bumi tanpa meminta imbalan apa pun. Sinar matahari yang datang setiap pagi tanpa pernah gagal.

Semua itu nyata. Dan ketika semua itu benar-benar dirasakan, bukan sekadar dicatat dalam pikiran, masing-masing membangkitkan kasih. Dan kasih yang diarahkan ke luar diri akan menciptakan sesuatu.

Para Penyintas Bencana Memahami Nilai Sebenarnya dari Kehidupan Sehari-hari

Anda mungkin merasa bahwa tidak ada sesuatu pun dalam hidup Anda yang layak disyukuri secara khusus, bahwa apa yang Anda miliki hanyalah sesuatu yang memang pantas Anda dapatkan dan tidak ada yang istimewa.

Tanyakan kepada seseorang yang pernah selamat dari bencana, banjir, kebakaran, atau penyakit serius. Tanpa terkecuali, para penyintas biasanya keluar dari pengalaman tersebut dengan hubungan yang sama sekali berbeda terhadap kehidupan sehari-hari.

Di tengah bencana, mereka rela memberikan apa saja untuk dapat kembali menjalani kehidupan yang sebelumnya mereka anggap biasa dan remeh. Bertahan hidup mengubah mereka. Mereka memahami, hingga ke dalam lubuk hati, bahwa kehidupan itu sendiri bukanlah sesuatu yang biasa.

Sebagian besar dari kita hidup di tengah keajaiban tersebut tanpa menyadarinya.

Kita tidak merasakan betapa beruntungnya memiliki tubuh yang sehat sampai kita membayangkan bagaimana rasanya kehilangan salah satu anggota tubuh. Banyak penyandang disabilitas mengatakan bahwa mereka rela memberikan segala sesuatu yang mereka miliki demi kesehatan yang selama ini dianggap biasa saja oleh orang-orang yang tidak memiliki keterbatasan fisik.

Oleh Xiao Fang, Vision Times

INSPIRASI ERABARU

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

Mid Autumn dalam Syair: Bagaimana Para Penyair Timur dan Barat Menemukan Inspirasi dari Pergantian Musim

Dari Danau Dongting yang diterangi cahaya bulan dalam puisi Li Bai hingga angin barat yang liar dalam karya Shelley, para penyair selama berabad-abad di...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine